Houthi Ancam AS Jika Bantu Arab Saudi Perangi Yaman
Kelompok bersenjata Houthi di Yaman memperingatkan Amerika Serikat (AS) akan menghadapi serangan balasan yang menyakitkan jika Washington ikut membantu Arab Saudi dalam perang melawan mereka. Ancaman tersebut muncul setelah Riyadh meminta dukungan AS untuk menghadapi gelombang serangan Houthi yang menyasar sejumlah wilayah kerajaan.
“Jika AS terlibat dalam agresi terhadap Yaman, kami tidak akan berlama-lama mempertimbangkan keputusan untuk membalas. Sebaliknya, akan ada respons cepat dan menyakitkan yang menargetkan AS dan seluruh kepentingannya di kawasan ini,” kata Mohammed Al Bukhaiti, anggota biro politik Houthi, kepada AFP dalam wawancara yang dilansir Selasa (13/10/2026).
Bukhaiti juga memperingatkan bahwa Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dan berbagai fasilitas minyak Arab Saudi akan tetap menjadi sasaran serangan kelompoknya.
“Seluruh pegawai dan pekerja di fasilitas minyak serta bandara Arab Saudi agar menjauhi lokasi-lokasi tersebut karena kini telah menjadi sasaran yang sah,” ujarnya.
Perang saudara Yaman yang melibatkan koalisi pimpinan Arab Saudi untuk mendukung pemerintah Yaman melawan Houthi yang didukung Iran kembali berkobar pada Juli 2026. Konflik tersebut meningkat di tengah ketegangan regional yang lebih luas, yang turut mengguncang pasar energi dan memperburuk situasi keamanan Timur Tengah.
Baca Juga : PerangYaman Berawal dari Salah Perhitungan, Riyadh Tak Siap!
Houthi kemudian memperluas serangan ke fasilitas minyak, kapal tanker, dan pusat transportasi Arab Saudi. Serangan mematikan terhadap bandara di Riyadh juga menambah tekanan terhadap negara yang menjadi salah satu eksportir minyak terbesar dunia tersebut.
Rudal Houthi Kembali Mengancam Riyadh
Ledakan kembali terdengar di Riyadh pada Senin malam. Koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah mencegat sebuah rudal yang diluncurkan Houthi, sementara kelompok tersebut mengklaim kembali menargetkan Bandara Internasional King Khalid.
Tak lama berselang, koalisi mengumumkan keberhasilan mencegat dua rudal balistik di wilayah selatan Arab Saudi, dekat perbatasan Yaman.
Dalam pernyataan yang diunggah melalui platform X, koalisi menyebut, “Pasukan mencegat dan menghancurkan dua rudal balistik yang diluncurkan oleh milisi teroris Houthi menuju Khamis Mushait.”
Khamis Mushait merupakan lokasi pangkalan militer Arab Saudi yang sebelumnya juga pernah menjadi sasaran serangan Houthi. Kelompok tersebut turut mengklaim telah menyerang pangkalan militer itu menggunakan drone.
Serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid pada Sabtu sebelumnya menewaskan 13 orang dan melukai ratusan lainnya. Insiden tersebut disebut sebagai serangan paling mematikan di wilayah Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade.
Presiden AS Donald Trump mengatakan serangan itu tidak dapat diterima. Ia juga menyatakan akan berbicara dengan pemimpin de facto Arab Saudi, Putra Mahkota Mohammed bin Salman, untuk membahas perkembangan situasi.
Trump mengungkapkan bahwa Washington sedang mempertimbangkan kemungkinan bergabung dalam operasi militer Arab Saudi melawan Houthi. Sebelumnya, ia dilaporkan telah menolak sejumlah permintaan bantuan dari kerajaan tersebut.
“Houthi berperilaku sangat buruk. Mereka berperilaku sangat buruk. Tidak baik,” kata Trump pada Senin.
Hingga Senin, operasional Bandara Internasional King Khalid masih dihentikan.
Houthi Sebut Serangan sebagai Pesan untuk MBS
Bukhaiti mengatakan, rangkaian serangan terhadap sasaran di Arab Saudi bertujuan menyampaikan pesan langsung kepada Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
“Bahwa dia tidak bisa lagi melancarkan agresi terhadap Yaman dari posisi yang aman,” katanya.
Di sisi lain, Menteri Energi Arab Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, menegaskan bahwa serangan tersebut menjadi ujian bagi ketahanan negaranya.
“Peristiwa-peristiwa terbaru telah menguji infrastruktur, institusi, rakyat, dan ketahanan kami.”
“Peristiwa dalam beberapa pekan terakhir sangat serius. Respons kami harus sama seriusnya,” ujarnya dalam sebuah konferensi di Riyadh pada Senin.
Baca Juga : Elon Musk Sumbangkan Sejumlah Dana untuk Partai Republik AS
Rekaman kamera pengawas atau CCTV yang dirilis otoritas Arab Saudi memperlihatkan para jemaah Muslim mengenakan pakaian keagamaan sedang menunggu di ruang keberangkatan bandara. Beberapa saat kemudian, ledakan mengguncang bangunan dan menyebabkan puing-puing terbakar berjatuhan.
Situasi di Riyadh masih tegang pada Senin. Stasiun televisi pemerintah Al Ekhbariya melaporkan bahwa koalisi militer sedang merespons ancaman serangan drone dan rudal.
Pada malam hari, ponsel warga menerima peringatan darurat dengan suara keras mengenai “ancaman udara musuh”. Peringatan itu muncul sebelum otoritas mengumumkan keberhasilan pencegatan rudal.
Peringatan darurat tersebut turut menunda pertandingan sepak bola antara klub Uzbekistan Neftchi Fergana dan klub Arab Saudi Al Nassr, yang diperkuat megabintang Portugal Cristiano Ronaldo.
Penggunaan sistem peringatan melalui telepon seluler itu menjadi yang pertama di Riyadh dalam beberapa pekan terakhir. Namun, tidak ada penjelasan resmi mengenai alasan sistem tersebut tidak digunakan saat serangan-serangan sebelumnya menyasar ibu kota.
Penerbangan ke Arab Saudi Dibatasi
Meningkatnya ancaman keamanan turut memengaruhi perjalanan udara menuju Arab Saudi. Kedutaan Besar AS di Riyadh menyatakan pegawai pemerintah AS harus memperoleh izin sebelum menggunakan bandara mana pun di kerajaan tersebut.
Kedutaan juga mengimbau warga negara AS untuk meningkatkan kewaspadaan apabila memutuskan bepergian menggunakan pesawat. Perwakilan diplomatik itu turut mengungkapkan bahwa sejumlah warga Amerika telah ditahan karena mengambil foto peristiwa-peristiwa terbaru di Arab Saudi.
Sejumlah maskapai internasional juga menyesuaikan jadwal penerbangan mereka.
Etihad Airways, maskapai nasional Uni Emirat Arab (UEA), mengumumkan pembatalan seluruh penerbangan dari dan menuju Riyadh hingga pekan berikutnya. Maskapai tersebut juga menghentikan sementara penerbangan ke Dammam dan Jeddah.
Maskapai nasional Bahrain, Gulf Air, turut membatalkan seluruh penerbangan ke Riyadh hingga Sabtu. Sementara itu, Delta Air Lines dari AS menunda peluncuran penerbangan langsung dari Atlanta ke Riyadh yang sebelumnya dijadwalkan pada 23 Oktober.
Gangguan tersebut menambah tekanan terhadap sektor transportasi Arab Saudi, yang menjadi salah satu bagian penting dari upaya kerajaan menarik investasi dan memperluas konektivitas internasional.
Sistem Pertahanan Saudi Hadapi Tantangan
Meski telah mengalokasikan dana besar untuk pengadaan peralatan militer, Arab Saudi masih menghadapi kesulitan melindungi seluruh wilayahnya dari serangan Houthi. Serangan yang menyasar fasilitas minyak, instalasi militer, dan infrastruktur transportasi terus menguji kemampuan pertahanan kerajaan.
Thomas Juneau, analis keamanan dari University of Ottawa, menilai luas wilayah Arab Saudi menjadi tantangan besar bagi sistem pertahanannya.
“Arab Saudi begitu luas sehingga mustahil bagi mereka untuk terus-menerus mempertahankan seluruh wilayahnya,” katanya.
Baca Juga : Trump Dekati Rusia, Tetap Siapkan Ancaman untuk Iran?
Sejak 2015, Riyadh memimpin koalisi internasional yang mendukung pemerintah Yaman dalam perang melawan Houthi. Dukungan tersebut mencakup operasi militer dan upaya mengendalikan wilayah udara Yaman, termasuk akses penerbangan ke bandara Sana’a yang dikuasai Houthi.
Juneau menilai serangan terbaru mencerminkan upaya Houthi untuk membalas tekanan yang selama ini mereka alami akibat operasi Arab Saudi di Yaman.
“Houthi kini ingin melakukan terhadap Arab Saudi apa yang selama ini dilakukan Arab Saudi terhadap mereka.”
Perang saudara berkepanjangan telah menyebabkan krisis kemanusiaan serius di Yaman, salah satu negara termiskin di kawasan tersebut. Eskalasi terbaru juga meningkatkan kekhawatiran akan meluasnya penderitaan warga sipil.
Kepala Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Volker Turk, menyatakan terkejut dan sangat prihatin atas serangan berulang terhadap Arab Saudi. Meski demikian, ia mendesak seluruh pihak untuk menahan diri agar konflik tidak semakin meluas.
“Pertempuran yang terus berlanjut hanya akan menimbulkan penderitaan lebih lanjut tanpa ada akhir yang terlihat,” ujarnya.
