Mengapa Houthi Serang Arab Saudi? Ini Tuntutan dan Ambisi Politiknya
Kelompok bersenjata Houthi di Yaman mengaku bertanggung jawab atas serangkaian serangan terhadap Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi. Serangan pada Sabtu (10/10/2026) dilaporkan menewaskan 13 orang dan melukai 309 lainnya. Serangan lanjutan di bandara yang sama pada Minggu (11/10/2026) kembali menelan satu korban jiwa.
Koalisi militer pimpinan Arab Saudi menuding Houthi sebagai pelaku dan mengecam serangan tersebut sebagai kejahatan perang. Sementara itu, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengakui bahwa kelompoknya melancarkan serangan terhadap bandara Riyadh dalam tiga tahap sejak Jumat (9/10/2026) malam.
Saree juga memperingatkan bahwa bandara-bandara di Arab Saudi tidak aman, kecuali fasilitas penerbangan yang melayani Mekkah dan Madinah.
Rentetan serangan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai tujuan Houthi, mulai dari tuntutan agar blokade terhadap Yaman dihentikan hingga ambisi politik untuk memperkuat kekuasaan mereka di dalam negeri.
Apa yang Diinginkan Houthi?
Houthi menuntut Arab Saudi mengakhiri pengepungan terhadap Yaman melalui jalur darat, udara, dan laut. Dalam pernyataannya pada Minggu (11/10/2026), seperti dikutip Middle East Eye, Saree menegaskan kelompoknya akan terus meningkatkan serangan terhadap wilayah Saudi.
Baca Juga : Trump Sebut China-Rusia Tak Akan Bantu Iran, Apa Alasannya?
Ia menyebut strategi tersebut sebagai “pengepungan dibalas pengepungan, eskalasi dibalas eskalasi”. Menurut Saree, serangan akan berlanjut hingga apa yang disebut kelompoknya sebagai agresi terhadap Houthi dihentikan dan pengepungan terhadap Yaman dicabut.
Tuntutan tersebut muncul setelah gencatan senjata yang didukung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sejak 2022 runtuh pada Juli 2026, menyusul serangan Arab Saudi terhadap bandara di Sana’a. Houthi kemudian mengumumkan blokade maritim terhadap Arab Saudi.
Pada September 2026, kelompok tersebut dilaporkan merebut pelabuhan Mokha di pesisir Laut Merah dan bergerak menuju Selat Bab El-Mandeb. Selat ini menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi jalur pelayaran strategis menuju Terusan Suez.
Posisi Bab El-Mandeb semakin penting bagi ekspor Arab Saudi setelah Iran mengganggu pelayaran di Selat Hormuz dalam perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Gangguan di kedua jalur tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap perdagangan dan pasokan energi global.
Di sisi lain, pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi melancarkan serangan balasan pada awal Oktober. Utusan khusus PBB kemudian memperingatkan bahwa Yaman berisiko kembali terjerumus ke perang skala penuh.
Pertempuran sengit masih berlangsung di sekitar Taiz, salah satu kota strategis di Yaman. Konflik yang kembali meningkat itu dilaporkan telah menyebabkan sekitar 130.000 orang mengungsi.
Houthi Ingin Berkuasa di Yaman
Di luar tuntutan terhadap Arab Saudi, Houthi juga memiliki kepentingan politik di dalam negeri. Kelompok yang secara resmi bernama Ansar Allah tersebut telah lama memperjuangkan otonomi yang lebih luas bagi wilayah utara Yaman. Seiring waktu, ambisinya berkembang hingga mencakup pengakuan sebagai otoritas pemerintahan di negara itu.
Gerakan Houthi muncul di wilayah utara Yaman pada 1990-an di sekitar ulama Hussein Al-Houthi. Kelompok ini berakar pada Zaidisme, cabang Syiah yang menjadi minoritas di Yaman dan banyak dianut masyarakat di dataran tinggi utara.
Pada 2004–2010, Houthi terlibat dalam enam putaran perang melawan pemerintahan Presiden Ali Abdullah Saleh. Hussein Al-Houthi tewas dalam perang pertama, kemudian kepemimpinan kelompok tersebut beralih kepada saudaranya, Abdul-Malik Al-Houthi.
Houthi merebut ibu kota Sana’a pada September 2014. Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada Maret 2015, Arab Saudi memimpin koalisi militer untuk mendukung pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional. Pemerintahan tersebut kemudian banyak menjalankan kegiatannya dari Riyadh dan Aden, di wilayah selatan Yaman.
Setelah bertahun-tahun dilanda perang saudara, gencatan senjata tercapai pada 2022. Saat itu, Houthi berhasil menguasai sekitar 30 persen wilayah Yaman.
Namun, agenda kelompok tersebut tidak terbatas pada perebutan kekuasaan domestik. Houthi juga memosisikan diri sebagai gerakan perlawanan terhadap pengaruh AS dan Israel di kawasan.
Sejak 2023, Houthi menyerang lebih dari 100 kapal komersial di Laut Merah dan Teluk Aden sebagai bentuk solidaritas terhadap warga Palestina selama perang Israel di Gaza. Serangan tersebut untuk sementara dihentikan pada Mei 2025 melalui kesepakatan gencatan senjata dengan Washington yang dimediasi Oman.
Pada Maret 2026, Houthi kembali meluncurkan rudal ke Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Teheran setelah AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran.
Seberapa Dekat Houthi dengan Iran?
Iran memasukkan Ansar Allah ke dalam kelompok yang dikenal sebagai “poros perlawanan”, bersama Hizbullah dan Hamas. Hubungan Teheran dengan Houthi disebut telah berkembang sejak setidaknya akhir 2000-an.
Sebagian besar persenjataan Houthi juga diduga dirancang atau dipasok oleh Iran. Meski demikian, Houthi membantah anggapan bahwa mereka merupakan kelompok proksi Teheran.
Setelah serangan terhadap Riyadh, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa Teheran sangat prihatin terhadap meningkatnya ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi.
Iran juga menawarkan bantuan untuk memfasilitasi dialog di antara kedua pihak. Tawaran tersebut muncul ketika konflik berisiko meluas dan mengancam jalur pelayaran serta stabilitas kawasan.
Seberapa Kuat Militer Houthi?
Kekuatan tempur Houthi diperkirakan meningkat pesat dalam satu dekade terakhir. Jumlah personelnya disebut bertambah dari sekitar 30.000 orang pada 2015 menjadi sekitar 350.000 orang pada 2024, meskipun perkiraan jumlah tersebut bervariasi.
Baca Juga : IMF Proyeksikan Ekonomi RI Tumbuh pada 2026
Houthi tidak memiliki angkatan laut konvensional dan kemampuan udaranya relatif terbatas. Namun, kelompok ini mempunyai sejumlah persenjataan yang dapat digunakan untuk menyerang sasaran dari jarak jauh.
Persenjataan tersebut mencakup pesawat nirawak atau drone, kapal nirawak bermuatan bahan peledak, serta rudal balistik jarak menengah. Rudal Houthi diperkirakan mampu menjangkau sasaran hingga sekitar 2.000 kilometer, termasuk wilayah Israel.
Kombinasi persenjataan tersebut membuat Houthi tetap memiliki kemampuan untuk mengganggu keamanan kawasan, meskipun mereka tidak memiliki kekuatan militer konvensional yang setara dengan Arab Saudi.
Dengan tuntutan pencabutan blokade, ambisi memperkuat kekuasaan di Yaman, serta kemampuan menyerang sasaran strategis, Houthi menjadi salah satu faktor utama yang memperumit konflik di kawasan. Eskalasi terbaru juga meningkatkan risiko gangguan terhadap jalur pelayaran dan perdagangan energi internasional.
