Kim Jong Un Pamer Rudal Hwasong-20 Saat Trump Ingin Bertemu
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un mengunjungi museum militer baru yang memamerkan rudal balistik antarbenua (ICBM) Hwasong-20, yang dirancang untuk menjangkau daratan utama Amerika Serikat (AS).
Kim meresmikan Museum Revolusi Pertahanan pada Minggu (11/10/2026).
Foto-foto yang dirilis media pemerintah Korea Utara pada Selasa (13/10/2026) memperlihatkan Kim berjalan melewati berbagai persenjataan bersama istrinya, putrinya, dan adik perempuannya, Kim Yo Jong.
Hwasong-20 sebelumnya disebut media pemerintah Korea Utara sebagai sistem senjata strategis nuklir terkuat negara tersebut.
Rudal itu dirancang untuk membawa beberapa hulu ledak dan menjangkau daratan utama AS.
Namun, menurut The Wall Street Journal (WSJ), Hwasong-20 belum pernah diuji coba sehingga kemampuan sebenarnya masih belum sepenuhnya diketahui.
Hwasong-20 Diduga Bisa Serang Beberapa Target Sekaligus
Menurut para pakar yang dikutip Newsweek, Hwasong-20 merupakan rudal balistik jarak jauh yang dapat dipindahkan melalui jalan darat.
Rudal tersebut diduga mampu membawa beberapa hulu ledak yang dapat diarahkan secara independen ke sasaran berbeda, sehingga satu rudal berpotensi menyerang beberapa target sekaligus.
William Alberque, mantan kepala pusat nonproliferasi nuklir NATO yang kini bekerja di lembaga nirlaba Pacific Forum, mengatakan Hwasong-20 diperkirakan memiliki tingkat akurasi yang rendah.
Baca Juga: Arab Saudi Tolak Tawaran Israel untuk Perangi Houthi
Meski demikian, Alberque menilai daya rusak rudal tersebut cukup besar untuk menghantam kota-kota besar dan pangkalan militer AS.
Korea Utara pertama kali memperlihatkan Hwasong-20 dalam parade militer besar di Pyongyang pada Oktober 2025.
Selain Hwasong-20, museum tersebut memamerkan berbagai persenjataan lain, termasuk drone serang, tank tempur, rudal balistik yang diluncurkan dari kapal selam, rudal hipersonik jarak pendek, dan rudal jelajah.
Saat mengunjungi museum, Kim mengatakan fasilitas tersebut akan terus diperluas dan dilengkapi dengan berbagai koleksi baru.
Ia juga menyerukan pengembangan persenjataan Korea Utara dilakukan dengan lebih gigih.
Rudal balistik antarbenua atau ICBM memiliki jangkauan lebih dari 5.500 kilometer.
Seorang pejabat senior pertahanan AS mengatakan kepada Komite Angkatan Bersenjata Senat pada April, sebagaimana dikutip Newsweek, bahwa kemampuan nuklir Korea Utara semakin mampu mengancam wilayah AS.
Sementara itu, rudal Korea Utara juga dapat menyerang Korea Selatan dan Jepang dengan hulu ledak nuklir maupun konvensional.
Hwasong-17 dan Hwasong-18 disebut telah beroperasi, sedangkan sejumlah desain rudal lainnya masih dalam pengembangan.
Trump Buka Peluang Bertemu Kim Jong Un
Pameran Hwasong-20 berlangsung ketika Presiden AS Donald Trump menyatakan kemungkinan bertemu Kim dalam perjalanan ke China pada November 2026 untuk menghadiri pertemuan ekonomi kawasan.
Pada Senin (12/10/2026), Trump menyampaikan kemungkinan tersebut kepada wartawan di Gedung Putih.
“Saya mungkin [akan bertemu Kim Jong Un]. Itu akan menyenangkan, bukan?” kata Trump.
Trump sebelumnya telah bertemu Kim sebanyak tiga kali selama masa jabatan pertamanya.
Namun, AS dan Korea Utara belum menggelar perundingan nuklir formal selama sekitar tujuh tahun.
Pyongyang sejauh ini menolak pendekatan Washington dan menegaskan bahwa statusnya sebagai negara nuklir tidak dapat diubah.
Korea Utara juga menyatakan perlucutan senjata nuklir bukan pilihan untuk pembicaraan mendatang.
Menurut WSJ, kunjungan Kim ke museum militer tersebut menunjukkan bahwa program rudal tetap menjadi bagian penting dari strategi kelangsungan rezim Korea Utara.
Pyongyang juga semakin memperkuat hubungan militernya dengan Rusia.
Baca Juga: Demo Mahasiswa Albania Ricuh, Gedung Pendidikan Diserang
Korea Utara dilaporkan telah mengirim sekitar 33.000 kontainer amunisi ke Rusia, termasuk peluru dan rudal.
Sejak akhir 2023, negara tersebut juga disebut memasok sedikitnya 150 rudal balistik kepada Rusia.
Dalam beberapa pekan terakhir, Korea Utara meningkatkan aktivitas peluncuran rudalnya.
Pada Senin (12/10/2026), Pyongyang menguji coba rudal balistik taktis yang telah ditingkatkan.
Pejabat Korea Selatan mengatakan mereka mendeteksi beberapa rudal balistik yang diluncurkan dari wilayah Pyongyang menuju Laut Timur, dengan salah satunya terbang lebih dari 900 kilometer.
Namun, pejabat militer Korea Selatan belum dapat memastikan apakah rudal tersebut merupakan rudal jarak pendek atau rudal jarak menengah yang tidak ditembakkan hingga jangkauan maksimumnya.
Pada Selasa (13/10/2026), pejabat AS, Korea Selatan, dan Jepang menyerukan Korea Utara menghentikan tindakan yang mereka sebut provokatif.
