Iran Siapkan Perang Baru, AS Kerahkan Kapal Induk
Iran dilaporkan tengah memperkuat pertahanan dalam negeri, mengkonsolidasikan dukungan kelompok-kelompok sekutunya, serta meningkatkan ancaman terhadap Amerika Serikat (AS) dan negara-negara sekutunya di kawasan Teluk. Langkah ini dilakukan di tengah kekhawatiran Teheran terhadap kemungkinan serangan baru Washington setelah pemilu sela AS.
Sejumlah sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut menyebut pejabat Iran telah menyampaikan peringatan, baik secara terbuka maupun melalui jalur diplomatik tertutup. Teheran mengancam akan melancarkan respons besar-besaran di berbagai wilayah Timur Tengah apabila AS kembali melakukan serangan.
Menurut laporan Wall Street Journal pada Senin (12/10/2026), Iran bahkan mengisyaratkan kemungkinan mengerahkan pasukan untuk melakukan serangan darat ke negara-negara tetangga sebagai bagian dari strategi pencegahan.
Pejabat senior keamanan nasional Iran, Mohsen Rezaei, pada Minggu (11/10/2026) menyatakan bahwa Teheran dapat menargetkan Uni Emirat Arab (UEA), yang relatif aman sejak pertengahan tahun ini. Iran juga disebut mempertimbangkan langkah untuk melumpuhkan pusat data dan jaringan kabel internet di kawasan.
Baca Juga : Trump Buka Peluang Bertemu Kim Jong Un di November 2026
Ancaman serupa turut disampaikan kepada sejumlah pejabat negara Arab. Iran memperingatkan bahwa fasilitas minyak Arab Saudi dapat menjadi sasaran apabila perang kembali pecah.
Situasi ini menambah ketegangan regional setelah kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan rudal terhadap bandara di Riyadh pada Sabtu (10/10/2026). Insiden tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 13 orang dan melukai ratusan lainnya, menjadikannya salah satu serangan paling mematikan terhadap sekutu AS di kawasan Teluk dalam rangkaian konflik yang berkaitan dengan Iran.
Iran Perkuat Pertahanan Dalam Negeri
Citra satelit menunjukkan Iran tengah meningkatkan perlindungan terhadap sejumlah fasilitas strategis, termasuk instalasi nuklir dan kawasan perbatasan, untuk menghadapi kemungkinan serangan militer.
Bulan lalu, Teheran dilaporkan membangun pertahanan pasif berupa gundukan tanah darurat di sekitar situs nuklir Gunung Pickaxe dan Natanz. Pembangunan tersebut ditujukan untuk menghambat kemungkinan serangan darat terhadap fasilitas penting tersebut.
Persiapan juga dilakukan di dalam negeri melalui kampanye pemerintah yang mendorong masyarakat bersiap menghadapi kemungkinan perang. Media pemerintah semakin gencar menayangkan pesan-pesan yang mendukung rezim.
Di ibu kota, sejumlah papan reklame bahkan mempromosikan pelatihan bagi warga sipil untuk mengoperasikan rudal panggul antipesawat dan senapan runduk.
Brigadir Jenderal Gholamreza Jalali, pejabat yang bertanggung jawab atas kontingensi nasional, mengatakan kepada wartawan pada akhir September bahwa berbagai fasilitas penting, mulai dari bandara, pelabuhan hingga pembangkit listrik, telah dipersiapkan untuk menghadapi situasi perang. Persiapan itu mencakup penyediaan tempat perlindungan dan pasokan cadangan.
Di tengah keterbatasan Iran dalam menghadapi jet tempur modern, pesawat pengebom yang beroperasi di ketinggian tinggi, serta rudal jelajah AS, Teheran dinilai mengandalkan ancaman pembalasan sebagai bagian dari strategi pencegahannya.
Sikap agresif tersebut juga dinilai dapat mengalihkan perhatian masyarakat dari tekanan ekonomi yang semakin berat akibat sanksi dan pembatasan penerbangan oleh AS.
“Situasi siaga perang saat ini menguntungkan mereka karena adanya jalan buntu di berbagai bidang—baik secara diplomatik, ekonomi, maupun politik,” ujar Sanam Vakil, direktur program Timur Tengah di lembaga pemikir Chatham House, London.
Baca Juga : Prancis Suntik Dana ke Eramet Pemilik Tambang Nikel RI
“Dengan adanya perang baru, Iran bisa saja keluar dari jalan buntu yang mereka ciptakan sendiri.”
Sementara itu, Behnam Ben Taleblu, direktur senior program Iran di Foundation for Defense of Democracies yang berbasis di Washington, menilai Teheran benar-benar mempersiapkan diri menghadapi konflik berikutnya.
“Baik melalui perkataan maupun tindakan, Iran secara aktif bersiap menghadapi perang berikutnya.” “Dalam konteks ini, langkah-langkah rezim tersebut merupakan upaya pencegahan sekaligus perencanaan perang.”
Militer AS Siagakan Pasukan di Timur Tengah
Di tengah meningkatnya ancaman Iran, militer AS turut memperkuat kehadirannya di Timur Tengah. Pentagon mengerahkan gugus tugas kapal induk ketiga dan satu unit ekspedisi Marinir ke kawasan tersebut. Washington juga mempertimbangkan pengiriman tambahan sistem pertahanan udara dan amunisi ke sejumlah pangkalan militernya.
Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump sempat mengesampingkan kemungkinan serangan terhadap Iran sebelum pemilu sela pada 3 November. Meski demikian, ia secara terbuka masih mempertimbangkan opsi untuk menyerang situs nuklir Iran di Gunung Pickaxe.
Pada saat bersamaan, pejabat militer AS terus menyusun berbagai skenario serangan baru.
Konflik bersenjata langsung antara kedua negara memang mereda sejak akhir Juli, salah satunya karena kekhawatiran terhadap menipisnya persediaan rudal pencegat AS. Namun, jeda tersebut dimanfaatkan kedua pihak untuk memulihkan kemampuan militer masing-masing.
Iran dilaporkan terus memproduksi kembali persenjataan rudal dan drone. Dalam pernyataan pada awal September yang dipublikasikan media yang berafiliasi dengan Garda Revolusi, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei memuji kemajuan tersebut meskipun mengakui masih terdapat kendala dalam rantai pasokan.
Ketegangan Militer dan Maritim Terus Meningkat
Meski serangan langsung berskala besar belum kembali terjadi, ketegangan di lapangan masih berlanjut. Iran disebut telah memberi tahu para mediator bahwa mereka akan mengambil tindakan lebih agresif terhadap personel militer AS, termasuk kemungkinan menenggelamkan kapal perang Amerika.
Baca Juga : Houthi Ancam AS Jika Bantu Arab Saudi Perangi Yaman
Pada September lalu, sebuah rudal Iran dilaporkan melintas dalam jarak dekat dengan kapal perang AS. Pentagon juga terpaksa memindahkan belasan pesawat pengebom B-1 dari pangkalan di Inggris karena adanya ancaman drone Iran.
Ketegangan turut meluas ke jalur pelayaran internasional. UK Maritime Trade Operations melaporkan sedikitnya tiga kapal komersial mengalami serangan di dalam dan sekitar Selat Hormuz pada akhir pekan lalu.
Selain itu, sebuah drone dilaporkan memicu kebakaran pada kapal tanker milik UEA, Petro Dolphin, di dekat Oman pada Minggu (11/10/2026). Insiden tersebut menyebabkan dua pelaut asal India dilaporkan hilang.
Rangkaian insiden ini menunjukkan bahwa meskipun intensitas konflik langsung sempat menurun, risiko eskalasi militer di Timur Tengah masih tinggi. Penguatan militer Iran dan penambahan pasukan AS di kawasan turut meningkatkan kekhawatiran akan kemungkinan pecahnya kembali perang terbuka.
