Zelensky Ancam Kembali Serang Kilang Minyak Rusia, Desak AS Pasok Patriot
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan Kyiv siap kembali menyerang kilang minyak Rusia setelah menghentikan operasi tersebut selama tiga hari atas permintaan Amerika Serikat (AS). Keputusan ini muncul di tengah memburuknya hubungan Ukraina dan Washington terkait dukungan militer serta upaya menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi.
Zelensky mengatakan Ukraina sebelumnya membatasi serangan terhadap fasilitas minyak Rusia untuk memenuhi permintaan pemerintah AS. Namun, ia mengeklaim Rusia tetap melancarkan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina selama periode tersebut.
“Kami sudah selesai,” kata Zelensky kepada Financial Times, sebagaimana dilansir BBC, Kamis (15/10/2026).
Zelensky juga menuduh Washington menggunakan sejumlah bentuk dukungan penting sebagai alat tekanan agar Kyiv menghentikan serangan terhadap fasilitas minyak Rusia. Dukungan yang dipersoalkan mencakup informasi intelijen mengenai serangan Rusia dan layanan komunikasi satelit Starlink yang digunakan militer Ukraina.
Zelensky Tuduh AS Gunakan Intelijen untuk Tekan Ukraina
Zelensky mengungkapkan bahwa pejabat Ukraina menerima peringatan dari pihak AS terkait kelanjutan serangan terhadap infrastruktur minyak Rusia. Menurutnya, Washington mengancam akan membatasi akses Kyiv terhadap informasi intelijen jika operasi tersebut tidak dihentikan.
Baca Juga : Perang Iran Bebani Rumah Tangga AS sampai Rp 35 Juta
“Jika kalian tidak menghentikan (serangan), kami akan memblokir intelijen,” kata Zelensky, mengutip pesan yang menurutnya disampaikan pejabat AS kepada Ukraina.
Informasi intelijen dari Washington memiliki peran penting dalam mendukung pertahanan udara Ukraina. Data tersebut membantu militer mendeteksi potensi serangan Rusia lebih awal sehingga sistem pertahanan udara dapat diaktifkan untuk mengurangi dampak serangan.
Selain persoalan intelijen, Zelensky menyoroti perlambatan layanan Starlink yang digunakan secara luas oleh militer Ukraina. Gangguan tersebut sempat diduga berkaitan dengan masalah teknis. Namun, pemilik Starlink, Elon Musk, tampaknya membantah dugaan itu dan mengisyaratkan adanya keterlibatan pemerintahan Trump.
Zelensky sendiri meyakini bahwa perlambatan layanan tersebut bukan disebabkan oleh persoalan teknis.
“Itu bukan masalah teknis, melainkan keputusan yang disengaja,” kata Zelensky kepada Financial Times saat berada di London.
Meski demikian, Presiden AS Donald Trump membantah telah menghentikan pembagian informasi intelijen kepada Ukraina. Dalam wawancara dengan Piers Morgan pada Rabu malam (14/10/2026), Zelensky juga mengungkapkan kekecewaannya karena merasa dikhianati oleh Washington setelah sejumlah dukungan penting diduga ditarik.
Ukraina Siap Lanjutkan Serangan Kilang Minyak Rusia
Sebelumnya, Zelensky menyatakan kesediaan Ukraina untuk mengikuti kesepakatan penghentian serangan terhadap infrastruktur energi yang diumumkan Trump pada Minggu (11/10/2026). Namun, ia menegaskan bahwa Kyiv hanya akan mematuhi kesepakatan tersebut jika Moskwa juga mengambil langkah serupa.
Zelensky kemudian menuduh Rusia mengabaikan usulan penghentian serangan hanya beberapa jam setelah pengumuman tersebut. Menurutnya, serangan Rusia terhadap fasilitas energi Ukraina telah menyebabkan ratusan ribu warga kehilangan pasokan listrik.
Sementara itu, Kremlin tidak pernah menyatakan persetujuan terhadap kesepakatan penghentian serangan terhadap fasilitas energi tersebut.
Kini, Zelensky mengaitkan penghentian serangan Ukraina terhadap infrastruktur minyak Rusia dengan permintaan tambahan rudal pertahanan udara Patriot dari Amerika Serikat.
Kyiv menilai serangan terhadap fasilitas minyak Rusia merupakan cara untuk mengurangi pendapatan Moskwa yang digunakan membiayai operasi militernya. Di sisi lain, Ukraina tengah menghadapi keterbatasan persediaan sistem pertahanan udara Patriot buatan AS.
Persediaan senjata tersebut semakin tertekan sejak pecahnya perang Iran, yang turut menguras stok persenjataan. Kondisi ini membuat tambahan sistem pertahanan udara menjadi salah satu kebutuhan penting bagi Ukraina dalam menghadapi serangan Rusia.
Zelensky Kritik Kesepakatan Pasokan Diesel Rusia-AS
Ketegangan antara Kyiv dan Washington juga meningkat setelah AS mencapai kesepakatan dengan Rusia mengenai pasokan bahan bakar diesel. Kesepakatan yang diumumkan pekan lalu itu mencakup pelepasan 300.000 ton diesel Rusia untuk pasar Amerika Serikat dan pasar global.
Zelensky mengkritik kesepakatan tersebut karena menilai pembelian bahan bakar dari Rusia secara tidak langsung membantu Moskwa membiayai perang.
Menurut laporan BBC, langkah itu merupakan bagian dari upaya terbaru Trump untuk menekan harga bahan bakar di AS menjelang pemilihan paruh waktu. Pemerintahan Trump menghadapi tekanan politik akibat kenaikan harga energi yang dipicu perang Iran, terutama lonjakan harga bensin dan diesel.
Zelensky juga mempertanyakan apakah kesepakatan energi lain antara Washington dan Moskwa akan menyusul setelah perdagangan diesel tersebut.
“Pertanyaannya adalah, kapan kesepakatan berikutnya akan terjadi? Mungkin gas. Pasti gas,” kata Zelensky kepada Financial Times.
Hubungan Zelensky dan Trump Kembali Memanas
Dalam wawancara dengan Financial Times, Zelensky turut mengkritik hubungan Trump dengan sejumlah pemimpin dunia. Ia menilai Presiden AS tersebut memiliki kedekatan dengan pemimpin yang menjalankan pemerintahan secara otoriter, termasuk Presiden Rusia Vladimir Putin.
Baca Juga : Inflasi AS Naik hampir 4 Persen pada September 2026
Zelensky juga menegaskan bahwa dirinya tidak merasa bertanggung jawab untuk memperbaiki hubungan Ukraina dan AS setelah berbagai peristiwa yang terjadi selama sepekan terakhir.
“Kami tidak merusak hubungan apa pun,” ujarnya.
Hubungan Trump dan Zelensky sebelumnya beberapa kali mengalami ketegangan. Setelah kembali menjabat sebagai Presiden AS pada 2025, Trump dan Zelensky terlibat perdebatan sengit dalam pertemuan di Ruang Oval Gedung Putih.
Dalam pertemuan tersebut, Trump mengisyaratkan bahwa Zelensky menjadi salah satu penghalang utama bagi tercapainya kesepakatan damai untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina.
Sejak saat itu, Zelensky berupaya mempertahankan hubungan diplomatik dengan Washington. Ia menyatakan kesediaan mempertimbangkan kesepakatan yang dimediasi AS, tetapi tetap menekankan bahwa setiap perjanjian damai harus memuat ketentuan yang adil bagi Ukraina.
Dalam perkembangan terbaru, Zelensky kembali menegaskan bahwa keputusan Kyiv untuk menghentikan serangan terhadap fasilitas minyak Rusia bergantung pada langkah Washington, terutama penyediaan tambahan rudal pertahanan udara Patriot.
