Saham Data Center AS Berguguran, Ini Pemicu Aksi Jual
Aksi jual besar-besaran melanda saham perusahaan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat (AS) yang memiliki beban utang besar.
Tekanan tersebut dipicu kekhawatiran investor terhadap potensi kenaikan suku bunga acuan yang dapat meningkatkan biaya pembiayaan proyek pusat data (data center) dan infrastruktur AI.
Dilansir dari Reuters, saham perusahaan pengembang dan penyedia infrastruktur data center menjadi salah satu kelompok yang paling terpukul dalam perdagangan Rabu (14/10/2026) waktu setempat.
Kondisi ini menambah tekanan terhadap perusahaan yang mengandalkan pinjaman untuk membangun fasilitas komputasi guna memenuhi permintaan layanan AI yang terus berkembang.
Baca Juga: Greenland Jadi Strategis bagi AS, Ini Potensi dan Alasannya
Saham Perusahaan Data Center Anjlok hingga 15,1 Persen
Sejumlah saham perusahaan data center dan penyedia layanan komputasi mengalami penurunan tajam dalam perdagangan di bursa AS.
Dikutip dari Reuters, Kamis (15/10/2026), berikut beberapa emiten yang terdampak aksi jual tersebut.
– Applied Digital (APLD.O): Saham operator infrastruktur data center ini turun 8,8 persen.
– IREN (IREN.O): Saham penyedia data center dan layanan komputasi berkinerja tinggi tersebut merosot 9,9 persen.
– Nebius (NBIS.O): Saham penyedia layanan komputasi neocloud anjlok 15,1 persen. Nilainya diperkirakan telah menyusut hampir 20 persen sepanjang bulan ini.
– CoreWeave (CRWV.O): Saham perusahaan penyedia infrastruktur komputasi awan untuk AI ini turun 9,5 persen. Penurunan tersebut membuat nilai pasarnya berkurang sekitar seperempat dalam sebulan.
– Oracle (ORCL.N): Saham perusahaan teknologi yang agresif memperluas jaringan data center global tersebut melemah 7,2 persen. Sebagian besar obligasi berdenominasi dollar
AS milik perusahaan juga ikut tertekan.
Tekanan jual turut menjalar ke perusahaan pemasok perangkat keras untuk data center, termasuk Dell dan Hewlett Packard Enterprise (HPE).
Saham Dell (DELL.N) anjlok 10,3 persen, sedangkan saham HPE (HPE.N) turun 6,4 persen setelah Barclays memangkas peringkat investasi kedua saham tersebut dari overweight menjadi equal-weight.
Barclays menilai valuasi saham perangkat keras telah meningkat terlalu jauh sebelum terlihat adanya peningkatan nyata dalam kemampuan perusahaan menghasilkan pendapatan dari ekosistem AI.
Imbal Hasil Obligasi AS Naik, Biaya Ekspansi AI Membengkak
Salah satu pemicu utama aksi jual saham data center adalah kenaikan imbal hasil surat utang pemerintah AS (US Treasury) setelah data inflasi konsumen atau Consumer Price Index (CPI) dirilis lebih tinggi dari yang diharapkan pasar.
Imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun naik 3,6 basis poin, sedangkan tenor dua tahun meningkat 7,2 basis poin.
Kenaikan tersebut memperkuat kekhawatiran investor terhadap kemungkinan suku bunga acuan tetap tinggi atau kembali naik, sehingga biaya pinjaman perusahaan berpotensi meningkat.
Risiko ini menjadi perhatian khusus bagi perusahaan data center karena ekspansi infrastruktur AI membutuhkan modal besar, mulai dari pembangunan fasilitas fisik, pengadaan rak server, hingga pembelian chip untuk komputasi AI.
Baca Juga: MSCI Buka Konsultasi, Bursa RI Terancam Turun ke Standalone Market
Jika biaya pembiayaan meningkat, perusahaan perlu mengeluarkan lebih banyak uang untuk membayar bunga utang. Kondisi tersebut dapat menekan keuntungan, terutama apabila pendapatan dari investasi AI tidak tumbuh sesuai harapan.
“Investor mulai mempertanyakan apakah ekspansi masif AI dan pembentukan data center akan menghasilkan tingkat imbal hasil (return) sesuai harapan,” kata Kim Forrest, Chief Investment Officer di Bokeh Capital Partners, dikutip dari Reuters.
Keraguan investor tersebut muncul di tengah besarnya investasi yang digelontorkan perusahaan teknologi untuk membangun infrastruktur pendukung AI.
Selain tekanan terhadap saham, risiko utang perusahaan data center juga meningkat. Berdasarkan data S&P Global Market Intelligence, biaya asuransi utang terhadap risiko gagal bayar atau Credit Default Swaps (CDS) sejumlah perusahaan pemilik jaringan data center, termasuk Oracle dan CoreWeave, telah melonjak ke rekor tertinggi.
Kondisi tersebut menunjukkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban utangnya di tengah tingginya kebutuhan pendanaan untuk ekspansi AI.
