Demo Gen Z di Jerman Ricuh, Toko di Frankfurt Dijarah
Demonstrasi besar yang digerakkan kelompok pemuda “GenZ regelt!” atau “Gen Z pegang kendali!” di sejumlah wilayah Jerman berakhir ricuh pada Sabtu (31/10/2026) malam. Aksi yang semula berlangsung damai berubah menjadi bentrokan, pelemparan bom molotov, hingga penjarahan sejumlah toko oleh kelompok bertopeng di Frankfurt.
Gerakan pemuda di Jerman tersebut terinspirasi oleh aksi serupa di Perancis dan Italia. Para demonstran turun ke jalan untuk mendesak elite politik agar lebih memperhatikan kepentingan serta aspirasi generasi muda.
Sejumlah persoalan menjadi sorotan massa, mulai dari mahalnya biaya hidup, buruknya kondisi fasilitas sekolah, hingga pemangkasan anggaran pemerintah.
Baca Juga : Trump Ingin Ganti Nama Samudera Atlantik, Tapi Ditolak Google
Mereka juga memprotes kebijakan politik yang dinilai tidak cukup mempertimbangkan kebutuhan generasi muda.
Selain itu, demonstran menentang peningkatan anggaran militer secara signifikan dan rencana penerapan model layanan militer sukarela yang baru. Kebijakan tersebut dikhawatirkan menjadi pintu masuk bagi pemerintah untuk kembali memberlakukan wajib militer.
Pada awalnya, demonstrasi yang berlangsung sepanjang hari di berbagai kota berjalan tertib. Sejumlah peserta bahkan mengenakan kostum dinosaurus dan Batman karena aksi tersebut bertepatan dengan perayaan Halloween.
Massa juga membawa berbagai poster dengan tulisan “Saatnya untuk melawan” dan “Merz harus pergi”, yang ditujukan kepada Kanselir Jerman Friedrich Merz.
“Menurut saya, sangat penting menunjukkan solidaritas terhadap aksi-aksi protes lain yang sedang berlangsung di seluruh Eropa, termasuk di Perancis,” ujar Milla (20), seorang mahasiswa di Berlin yang hanya menyebutkan nama depannya, kepada AFP.
“Saya sudah lama menunggu agar sesuatu yang nyata akhirnya terjadi, dan agar orang-orang menangani masalah ini dengan lebih tegas. Saya yakin apa yang terjadi hari ini adalah langkah awal,” lanjutnya.
Kerusuhan Memuncak di Frankfurt
Situasi mulai memanas ketika sejumlah kelompok pemuda menolak membubarkan diri pada malam hari. Bentrokan kemudian terjadi di beberapa kota besar, dengan kerusuhan paling parah berlangsung di pusat keuangan Frankfurt.
Di kota tersebut, sejumlah perusuh yang mengenakan penutup wajah menyerang aparat menggunakan batu, kembang api, bom molotov, hingga bom bensin. Polisi merespons serangan tersebut dengan mengerahkan meriam air dan menyemprotkan gas merica.
“Jendela di beberapa toko dipecahkan. Bom molotov juga dilemparkan ke arah petugas tanggap darurat,” tulis kepolisian, dikutip dari AFP, Minggu (1/11/2026).
Aksi kekerasan juga disertai penjarahan terhadap sejumlah tempat usaha. Salah satunya adalah toko senjata yang mengalami kerusakan pada bagian jendela sebelum dijarah. Polisi berhasil mengamankan dua pucuk senjata dan menangkap seorang tersangka di lokasi.
Harian Bild turut melaporkan bahwa toko sepatu dan parfum menjadi sasaran penjarahan dalam kerusuhan tersebut.
Akibat situasi yang tidak terkendali, sebagian besar jalan perbelanjaan utama di Frankfurt ditutup. Jurnalis AFP melaporkan bahwa kendaraan polisi dan pasukan antihuru-hara dikerahkan untuk memblokir akses menuju kawasan tersebut.
Helikopter kepolisian juga terlihat berpatroli dari udara. Sementara itu, suara ledakan sesekali masih terdengar di sejumlah ruas jalan. Sedikitnya seorang polisi mengalami luka-luka dan harus mendapatkan perawatan medis.
Menteri Dalam Negeri Negara Bagian Hesse, Roman Poseck, menduga terdapat kelompok dari luar gerakan demonstrasi yang memanfaatkan situasi untuk memicu kekerasan.
Baca Juga : Iran Ancam Negara Tetangga dengan Ubah Doktrin Militer!
Ia menyebut sekitar 100 orang yang diduga merupakan ekstremis sayap kiri teridentifikasi menyusup ke dalam aksi di Frankfurt.
“Sungguh memalukan bagaimana peristiwa di Frankfurt ini terjadi,” ujar Poseck.
Bentrokan Juga Terjadi di Kota Lain
Kerusuhan tidak hanya berlangsung di Frankfurt. Bentrokan antara demonstran dan aparat juga dilaporkan terjadi di Hamburg dan Cologne.
Di kedua kota tersebut, polisi menggunakan meriam air setelah petugas layanan darurat diserang menggunakan kembang api, batu, dan botol.
Sementara itu, demonstrasi lain yang tidak diorganisasi oleh kelompok “GenZ regelt!” berlangsung di Berlin pada malam hari. Kepolisian melaporkan bahwa sejumlah petugas menjadi sasaran lemparan telur dan botol.
Di Kota Bonn, seorang polisi mengalami luka ringan setelah terlibat konfrontasi dengan sekelompok orang.
Kepolisian Jerman menyatakan telah menahan dan menangkap sejumlah orang yang diduga terlibat dalam aksi kekerasan di berbagai wilayah tersebut.
