Iran Sederhanakan Proposal Damai dengan AS Jadi 2 Hari
Iran menyatakan proses perundingan untuk mengakhiri perang dengan Amerika Serikat (AS) masih berlangsung, meskipun pembicaraan terbaru melalui mediator Qatar belum menghasilkan kesepakatan. Teheran bahkan menyederhanakan proposal perdamaian yang sebelumnya terdiri dari tujuh tahap agar dapat diterapkan hanya dalam waktu dua hari.
Meski demikian, pemerintah Iran tetap mempertahankan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi Washington sebelum kedua negara melanjutkan pembahasan mengenai program nuklir Teheran.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyampaikan hal tersebut pada Senin (2/11/2026), setelah delegasi Iran mengakhiri perundingan di Doha, Qatar.
Dilansir dari Reuters, perang Iran-AS yang telah berlangsung selama delapan bulan masih memunculkan kekhawatiran akan kembali pecahnya pertempuran dalam skala besar.
Baca Juga : Demo Prancis Ricuh, Ratusan Orang Ditangkap dan Polisi Terluka
Situasi tersebut semakin menjadi perhatian menjelang pemilu sela AS pada Selasa (3/11/2026). Sejumlah pihak khawatir Washington akan kembali melancarkan operasi militer setelah pemungutan suara berlangsung.
Iran Akui Perundingan Damai Masih Sulit
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei memastikan komunikasi antara Teheran dan Washington masih berjalan. Kedua negara disebut terus bertukar pesan melalui mediator untuk mencari penyelesaian konflik yang berlangsung sejak Februari 2026.
“Saya dapat memastikan bahwa dialog masih terus berlangsung. Namun, persoalannya memang rumit,” kata Baghaei pada Senin.
Ia menjelaskan, proposal perdamaian yang diajukan Iran pada September 2026 masih menjadi dasar pembicaraan dengan Amerika Serikat. Sebelumnya, dokumen tersebut memuat tujuh tahapan yang harus dijalankan secara berurutan untuk mengakhiri konflik.
Namun, pemerintah Iran kini bersedia menyederhanakan mekanisme pelaksanaannya agar kesepakatan dapat diterapkan lebih cepat apabila kedua pihak mencapai persetujuan.
“Dasar dialog dan perundingan antara Iran dan AS melalui mediator masih berupa proposal tujuh tahap Iran, yang kini telah disederhanakan sehingga memungkinkan untuk dilaksanakan dalam waktu dua hari,” ujar Baghaei.
Pernyataan tersebut sejalan dengan penjelasan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi pada Sabtu (31/10/2026) mengenai kemungkinan mempercepat pelaksanaan kesepakatan.
Meski begitu, penyederhanaan tahapan tidak berarti Iran bersedia mengubah seluruh persyaratan yang sebelumnya diajukan.
Iran Minta AS Cabut Blokade Sebelum Bahas Program Nuklir
Salah satu hambatan utama dalam perundingan adalah perbedaan pandangan mengenai urutan langkah untuk mengakhiri konflik. Iran menginginkan Amerika Serikat memenuhi sejumlah persyaratan terlebih dahulu sebelum pembahasan mengenai program nuklir dilanjutkan.
Dalam proposal yang disampaikan pada September, Teheran meminta Washington mengakhiri blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sebagai bagian dari kesepakatan, Iran akan membuka kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur penting bagi perdagangan energi dunia.
Proposal tersebut juga mencakup pemberian pengecualian terhadap pembatasan AS atas penjualan minyak Iran serta pencabutan sanksi baru yang dijatuhkan kepada negara tersebut.
Setelah seluruh langkah itu dijalankan, kedua negara baru akan melanjutkan pembicaraan mengenai persoalan lainnya.
Namun, Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah menolak proposal tujuh tahap yang diajukan Iran pada September.
Baghaei menegaskan bahwa perubahan jadwal pelaksanaan tidak mengubah posisi dasar pemerintah Iran. Teheran hanya bersedia kembali membahas program nuklir setelah memastikan persyaratan yang diajukannya terpenuhi.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan pemindahan persediaan uranium Iran yang telah diperkaya hingga tingkat tinggi ke negara lain, Baghaei mengatakan persoalan tersebut tidak dibahas dalam perundingan. Ia juga membantah bahwa Iran telah menyatakan kesediaan untuk melakukan pemindahan tersebut.
Perbedaan pandangan mengenai waktu pembahasan program nuklir pun masih menjadi salah satu kendala dalam upaya mencapai kesepakatan damai.
Delegasi Iran Tinggalkan Qatar Tanpa Kesepakatan
Perundingan terbaru berlangsung di Doha, Qatar, dengan melibatkan mediator yang berupaya menjembatani perbedaan posisi antara Iran dan Amerika Serikat. Namun, pembicaraan yang berlangsung selama beberapa hari itu belum menghasilkan terobosan.
Seorang pejabat yang mengetahui jalannya perundingan mengatakan delegasi Iran telah meninggalkan Doha pada Minggu (1/11/2026). Meski demikian, kepergian delegasi tersebut disebut bukan disebabkan oleh persoalan dalam proses negosiasi.
Pejabat itu juga menyebut sebuah rancangan proposal masih diedarkan kepada pihak-pihak terkait. Namun, ia tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai isi dokumen maupun perkembangan pembahasannya.
Di tengah upaya diplomasi tersebut, sejumlah sumber dari Iran memperkirakan kemungkinan Amerika Serikat melancarkan serangan baru masih lebih besar dibandingkan peluang tercapainya kesepakatan. Penilaian ini mencerminkan kekhawatiran sebagian pihak yang mengikuti perkembangan konflik, bukan keputusan resmi Washington untuk kembali melakukan operasi militer.
Sebelumnya, Trump berulang kali menyatakan AS tidak akan melancarkan serangan baru terhadap Iran sebelum pemilu sela pada Selasa. Namun, pernyataan tersebut tidak memastikan bahwa operasi militer tidak akan dilanjutkan setelah pemungutan suara.
Iran sendiri telah memperingatkan akan memberikan respons militer apabila kembali diserang. Teheran menyatakan telah menyiapkan rencana untuk menargetkan sejumlah sasaran di dalam maupun di luar kawasan Timur Tengah jika konflik kembali meningkat.
China dan Rusia Khawatir Perang Iran-AS Kembali Pecah
Belum tercapainya kesepakatan damai turut memicu kekhawatiran China dan Rusia terhadap kemungkinan dimulainya kembali operasi militer terhadap Iran.
Menteri Luar Negeri China Wang Yi pada Senin meminta seluruh pihak yang terlibat dalam konflik mengutamakan penyelesaian melalui jalur politik.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Wang bertemu dengan pejabat senior keamanan Iran, Ali Bagheri Kani, di Beijing.
Wang menilai negara-negara yang terlibat sebaiknya memusatkan perhatian pada upaya diplomasi daripada kembali menggunakan kekuatan militer.
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut laporan mengenai kemungkinan operasi militer baru terhadap Iran sebagai sumber kekhawatiran serius. Moskow juga menyerukan peningkatan upaya diplomatik untuk mencegah konflik semakin meluas.
Kekhawatiran kedua negara muncul ketika perang yang dimulai pada 28 Februari 2026 terus berdampak terhadap keamanan kawasan dan perekonomian dunia.
Konflik tersebut bermula setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Sejak itu, Iran menutup Selat Hormuz, sedangkan AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Perang juga diwarnai serangan drone dan rudal Iran terhadap sejumlah negara Teluk serta meningkatnya kembali konflik di Yaman.
Kapal Tanker LNG Qatar Terkena Serangan di Teluk
Dampak perang Iran-AS juga masih dirasakan oleh sektor energi dan pelayaran internasional.
Pada Jumat (30/10/2026), sebuah kapal tanker pengangkut gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) milik Qatar dilaporkan terkena hantaman sejumlah benda yang belum diketahui identitasnya di kawasan Teluk.
Baca Juga : Demo Gen Z Jerman Berujung Ricuh, Toko Dijarah
Perusahaan operator kapal, Nakilat, mengumumkan insiden tersebut pada Minggu (1/11/2026). Kejadian ini menambah kekhawatiran mengenai keselamatan kapal pengangkut energi yang melintasi kawasan tersebut.
Sepanjang konflik berlangsung, serangan terhadap kapal tanker minyak di kawasan Teluk dan Laut Merah telah beberapa kali dilaporkan. Namun, insiden yang melibatkan kapal pengangkut LNG relatif lebih jarang terjadi.
Sebelum kejadian terbaru, insiden terakhir yang dilaporkan melibatkan kapal tanker LNG Qatar terjadi pada awal Juli 2026.
Gangguan keamanan di jalur pelayaran energi menjadi salah satu alasan penyelesaian konflik Iran-AS terus mendapat perhatian internasional.
Pada Senin, harga minyak dunia bahkan turun hampir empat persen seiring munculnya harapan bahwa proses mediasi terbaru dapat membuka jalan menuju penyelesaian diplomatik.
Meski demikian, perundingan antara Iran dan Amerika Serikat masih belum menghasilkan kesepakatan. Teheran memastikan komunikasi melalui mediator akan terus berlangsung, sementara perbedaan persyaratan kedua negara masih menjadi hambatan utama dalam upaya mengakhiri perang.
