Demo Ricuh di Perancis, 565 Orang Ditangkap dan Polisi Terluka
Bentrokan pecah di Paris dan sejumlah kota di Perancis pada Sabtu (31/10/2026), saat demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup memasuki pekan ketiga.
Aksi yang diikuti ratusan ribu orang tersebut berujung kerusuhan setelah sejumlah demonstran melemparkan bom molotov dan berbagai benda ke arah aparat keamanan.
Kementerian Dalam Negeri Perancis mencatat sebanyak 565 orang ditangkap di seluruh negeri hingga Sabtu malam.
Untuk membubarkan massa yang melakukan kerusuhan, aparat mengerahkan meriam air dan gas air mata di sejumlah lokasi demonstrasi.
Di Paris, empat polisi dan satu anggota gendarmerie atau polisi militer mengalami luka-luka.
Tiga di antaranya menderita luka bakar akibat lemparan bom molotov.
Unjuk rasa yang berlangsung enam bulan menjelang pemilihan presiden Perancis 2027 itu awalnya berfokus pada persoalan kenaikan biaya hidup, ketimpangan, serta memburuknya kondisi sarana pendidikan.
Baca Juga: Iran Eksekusi Pria yang Dituduh Jadi Agen Israel-AS
Gerakan tersebut melibatkan aktivis Yellow Vest atau Rompi Kuning, serikat pekerja, pelajar sekolah menengah, hingga mahasiswa.
Namun, tuntutan demonstran meluas setelah tindakan keras aparat keamanan menyebabkan sejumlah pengunjuk rasa mengalami cedera serius.
Massa kemudian turut menuntut perlindungan lebih baik terhadap kebebasan sipil dan hak untuk menyampaikan pendapat.
Menteri Dalam Negeri Perancis Laurent Nunez menyatakan, sebagian besar demonstrasi berlangsung tertib, tetapi ia mengecam keras kekerasan yang dilakukan sejumlah pengunjuk rasa.
Ia menuding kelompok ekstremis sayap kiri bertanggung jawab atas serangan terhadap aparat keamanan.
Nunez juga menyebut pelemparan bom molotov ke arah polisi antihuru-hara di Paris sebagai “percobaan pembunuhan”, meskipun petugas tersebut hanya mengalami luka ringan.
“Kami sepenuhnya siap menghadapi mereka yang berkonfrontasi malam ini,” tegas Nunez.
Kerusuhan Meluas ke Berbagai Kota di Perancis
Sebelum bentrokan terjadi, ribuan orang berkumpul di kawasan timur Paris pada Sabtu.
Sebagian demonstran mengenakan kostum Halloween, mulai dari karakter Spider-Man hingga Frankenstein.
Mereka juga membawa berbagai poster berisi kritik terhadap pemerintah, termasuk tulisan “Tidak perlu gas air mata untuk membuat masa depan kita tampak suram” dan “Berkostum Halloween sebagai warga yang marah.”
Pihak berwenang memperkirakan sekitar 320.000 orang mengikuti demonstrasi di seluruh Perancis, termasuk 70.000 orang di Paris.
Sementara itu, organisasi kepemudaan memperkirakan jumlah peserta mencapai hampir 500.000 orang, dengan sekitar 200.000 orang berada di ibu kota.
Pemimpin partai sayap kiri jauh France Unbowed, Jean-Luc Melenchon, turut menghadiri aksi damai di Paris dan menyambut baik tingginya jumlah demonstran.
Salah satu pengunjuk rasa, Alice Hien, yang bekerja sebagai pengembang gim video, mengkritik pembatasan lokasi demonstrasi oleh pemerintah.
“Fakta bahwa aksi unjuk rasa didorong keluar dari pusat kota, dan begitu banyak demonstrasi yang dilarang, benar-benar merupakan serangan terhadap kebebasan,” ujarnya.
Kerusuhan mulai pecah ketika rombongan demonstran mencapai titik akhir aksi di pinggiran Paris.
Berdasarkan pengamatan jurnalis AFP, puluhan orang bertopeng dan berpakaian serba hitam menggunakan palu untuk mencungkil batu trotoar, kemudian melemparkannya ke arah polisi.
Kepolisian Paris menyebut ratusan perusuh menyerang aparat keamanan menggunakan berbagai proyektil.
Polisi kemudian merespons dengan menembakkan gas air mata dan beberapa kali melakukan tindakan tegas menggunakan tongkat polisi.
Baca Juga: China dan Korea Utara Buka Jembatan Baru Setelah Tertunda 12 Tahun
Bentrokan serupa juga terjadi di sejumlah kota lainnya.
Di Lyon, kota terbesar ketiga di Perancis, demonstran melemparkan berbagai benda ke arah polisi dan dibalas dengan tembakan gas air mata.
Sementara itu, polisi menggunakan meriam air untuk membubarkan demonstrasi tanpa izin yang diikuti beberapa ribu orang di Toulouse.
Kementerian Dalam Negeri Perancis menyatakan, kelompok-kelompok radikal di sejumlah kota, termasuk Bordeaux, Toulouse, dan Marseille, berupaya memasuki pusat kota untuk melakukan vandalisme dan penjarahan.
Sebagai langkah pengamanan, pemerintah memberlakukan jam malam di kawasan pusat Paris, khususnya Republique dan Chatelet-Les Halles.
Pembatasan tersebut berlaku mulai pukul 23.00 hingga 06.00 pada Sabtu dan Minggu (1/11/2026).
