BTN Terima Pinjaman Modal Rp2 Triliun dari Danantara Asset Management
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) resmi memperoleh pinjaman pemegang saham (shareholder loan) sebesar Rp2 triliun dari PT Danantara Asset Management pada Selasa, 23 Desember 2025. Danantara Asset Management merupakan entitas di bawah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) sekaligus pemegang saham BBTN.
Manajemen BBTN melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjelaskan bahwa pinjaman tersebut dikategorikan sebagai tambahan modal inti. Hubungan afiliasi antara perseroan dan Danantara Asset Management muncul karena adanya kesamaan pemegang saham pengendali.
“Perseroan dan Danantara Asset Management memiliki hubungan afiliasi karena punya kesamaan pemegang saham pengendali,” tulis manajemen BBTN dikutip dari keterbukaan informasi, Senin (29/12/2025).
Baca Juga: BTN Targetkan Pertumbuhan Kredit 8-10% pada 2026 – Economix
Dana tersebut akan digunakan untuk memenuhi rasio permodalan perseroan guna mendukung ekspansi bisnis di masa depan. Manajemen menilai Danantara memiliki fasilitas pendanaan yang memadai serta fleksibel sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan perseroan, termasuk dalam pengelolaan risiko secara komprehensif.
Sejalan dengan penguatan struktur permodalan, BBTN juga mengumumkan perubahan jadwal Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Rapat yang semula dijadwalkan pada Senin, 22 Desember 2025, resmi diundur menjadi Rabu, 7 Januari 2026, bertempat di Menara BTN, Jakarta.
Agenda rapat mencakup perubahan anggaran dasar, pendelegasian kewenangan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026, serta perubahan susunan pengurus perseroan. Usulan perubahan pengurus tersebut berasal dari Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui surat tertanggal 16 November 2025.
Di sisi lain, BTN telah menyelesaikan pemisahan unit usaha syariah (spin-off) menjadi PT Bank Syariah Nasional (BSN) pada 22 Desember 2025 setelah mendapat persetujuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu, menyatakan bahwa pasca-pemisahan, perseroan memiliki 6,6 saham BSN yang mewakili 99,99% dari total saham yang ditempatkan dan disetor penuh.
“Dan perseroan merupakan pemegang saham pengendali BSN,” kata Nixon.
Sebagai pemegang saham pengendali BSN, seluruh kegiatan usaha UUS BTN secara hukum kini telah beralih ke bank syariah tersebut.
Baca Juga: Prabowo Beri Peringatan ke Bos Bank BUMN, Ini Isinya – Economix
Terkait kinerja keuangan, BTN membukukan laba bersih sebesar Rp2,91 triliun hingga akhir November 2025, meningkat 21,1% secara tahunan (year-on-year) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,40 triliun.
Pertumbuhan laba ditopang oleh penyaluran kredit dan pembiayaan yang mencapai Rp386,47 triliun, naik 8,74% yoy. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh 15,77% yoy menjadi Rp423,96 triliun seiring strategi peningkatan dana murah (CASA). Capaian tersebut mendorong total aset BTN meningkat 12,16% yoy menjadi Rp503,99 triliun, melampaui target tahunan sebesar Rp500 triliun.
Nixon L.P. Napitupulu menegaskan bahwa pertumbuhan kinerja perseroan tetap terjaga dan berada di jalur yang tepat sesuai strategi akhir tahun. Fokus penyaluran kredit tetap diarahkan pada sektor perumahan, khususnya KPR subsidi dan non-subsidi, serta kredit korporasi pendukung kawasan perumahan.
Dari sisi pendanaan, BTN terus memperkuat DPK berbiaya murah yang didukung oleh solusi digital melalui superapp Bale by BTN dan layanan cash management Bale Korpora.
Baca Juga: BTN Ajukan Tambahan Dana SAL Purbaya hingga Rp 10 T – Economix
