Menkeu AS: Eropa Lemah, Trump Wajib Kuasai Greenland
Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent secara terbuka menyebut Eropa terlalu lemah untuk menjamin keamanannya sendiri dan menegaskan bahwa Presiden Donald Trump tidak akan mundur dari rencana mengambil alih Greenland.
Pernyataan itu disampaikan Bessent di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan sekutu-sekutunya di Eropa, menyusul ancaman tarif dan respons keras Uni Eropa terhadap ambisi Amerika Serikat di wilayah Arktik.
Baca Juga: Pejabat Iran Sebut 5.000 Orang Tewas dalam Demo Berdarah
Bessent Sebut Eropa Lemah sementara AS Tunjukkan Kekuatan
Dalam wawancara dengan NBC News di acara Meet the Press pada Minggu (18/1/2026), Bessent menepis ancaman Uni Eropa untuk membatalkan kesepakatan tarif yang sebelumnya dicapai dengan pemerintahan Trump.
“Pertama-tama, kesepakatan dagang belum final, dan tindakan darurat bisa sangat berbeda dari kesepakatan dagang lainnya,” ungkap Bessent.
Ia menegaskan bahwa Trump bertindak menggunakan kewenangan presiden dalam kondisi darurat.
“Presiden menggunakan wewenang daruratnya untuk melakukan ini,” ujar dia.
Ia pun menjelaskan bahwa tekanan tarif dan sikap keras Washington merupakan bagian dari strategi Trump untuk menegaskan posisi Amerika Serikat di hadapan Eropa.
“Eropa menunjukkan kelemahan, AS menunjukkan kekuatan,” lanjut Bessent.
“Presiden percaya bahwa peningkatan keamanan tidak mungkin tercapai tanpa Greenland menjadi bagian dari AS, ” tambah dia.
Baca Juga: Saat Iran Dilanda Konflik, Kenapa Negara-negara Arab Diam?
Alasan Strategis AS Kuasai Greenland
Bessent pun memaparkan sejumlah alasan di balik dorongan Trump untuk menguasai Greenland, mulai dari persaingan global di kawasan Arktik hingga rencana pembangunan perisai rudal Amerika Serikat yang disebut “Golden Dome”.
Ia juga menyinggung ketergantungan Eropa pada energi Rusia di masa lalu, yang menurutnya telah “mendanai” perang Moskwa di Ukraina.
Langkah Trump titu memicu kemarahan pemimpin Uni Eropa setelah AS memberlakukan tarif 10 persen terhadap barang dari delapan negara Eropa mulai 1 Februari, yang akan meningkat menjadi 25 persen pada Juni.
Eskalasi ini muncul setelah delapan negara Eropa, termasuk Denmark, menggelar latihan militer NATO di Greenland sebagai simbol komitmen terhadap keamanan wilayah tersebut.
Sementara itu, kepala penasihat ekonomi Trump di Gedung Putih, Kevin Hassett, menyatakan presiden masih membuka peluang kesepakatan.
“Saat ini adalah waktu yang tepat bagi akal sehat untuk menang dan bagi kita untuk mengabaikan retorika dan duduk di meja perundingan untuk melihat apakah kesepakatan yang terbaik untuk semua pihak dapat dicapai,” jelas Hassett dalam acara The Sunday Briefing di Fox News.
Baca Juga: Trump Jadi Dalang di Balik Kericuhan Iran, Ungkap Khamenei
Kritik dari Kongres dan Kekhawatiran NATO
Meski demikian, kritik juga datang dari dalam Amerika Serikat. Senator Republik Thom Tillis dan Senator Demokrat Jeanne Shaheen mendesak pemerintahan Trump untuk “menghentikan ancaman dan beralih ke diplomasi.”
Senator Rand Paul menyebut tidak ada keadaan darurat yang membenarkan langkah tersebut.
“Tidak ada keadaan darurat terkait Greenland,” kata Paul. “Itu konyol,” lanjutnya.
Ia menambahkan, “Dalam upaya membeli Greenland secara damai, Anda tidak akan menjadi pembeli yang mencaci maki mereka dan mengatakan Anda akan mengambilnya begitu saja.”
Sementara itu, Senator Demokrat Chris Van Hollen menilai langkah Trump sebagai “penjarahan tanah.”
“Donald Trump ingin menguasai mineral dan sumber daya lain di Greenland,” tutur Van Hollen.
Menanggapi kekhawatiran bahwa langkah AS dapat mengakhiri NATO, Bessent menepis anggapan tersebut.
“Itu salah,” tegas Bessent. “Para pemimpin Eropa akan menyadari dan memahami bahwa mereka perlu berada di bawah payung keamanan AS,” pungkas dia.

[…] Menkeu AS: Eropa Lemah, Trump Wajib Kuasai Greenland […]