Trump Terpojok? Ini Serangan Balasan Xi Jinping ke Amerika
Hubungan Amerika Serikat dan China kembali memanas setelah otoritas China dilaporkan memblokir masuk chip kecerdasan buatan (AI) H200 buatan Nvidia, meski sebelumnya Presiden AS Donald Trump membuka akses ekspor chip canggih ke Negeri Tirai Bambu.
Langkah ini dinilai sebagai serangan balasan Presiden China Xi Jinping terhadap kebijakan Washington, yang justru berujung pada strategi penolakan dari Beijing. Bea cukai China disebut mulai menahan masuk chip AI H200, prosesor tercanggih kedua buatan Nvidia yang selama ini dilarang beredar di China.
Baca Juga: Menkeu AS Sebut Eropa Lemah, Trump Wajib Kuasai Greenland
Chip H200 dikenal memiliki performa tinggi yang bahkan disebut melampaui chip-chip lokal buatan perusahaan teknologi China yang saat ini beredar di pasar domestik. Informasi pemblokiran tersebut pertama kali dilaporkan Financial Times dengan mengutip dua sumber yang mengetahui langsung kebijakan tersebut.
Menurut laporan itu, Nvidia sebelumnya memperkirakan akan menerima pesanan lebih dari satu juta unit H200 dari klien-klien China. Para pemasok bahkan telah bekerja tanpa henti untuk menyiapkan pengiriman yang direncanakan mulai Maret 2026. Namun pada pekan ini, otoritas bea cukai China dikabarkan menginstruksikan bahwa chip H200 tidak diizinkan masuk ke negara tersebut.
Bea Cukai China Blokir Chip AI Nvidia
Selain pemblokiran di pintu masuk, sumber Reuters menyebut pemerintah China juga memanggil sejumlah perusahaan teknologi domestik. Mereka diperingatkan agar tidak membeli chip H200 kecuali jika benar-benar diperlukan untuk operasional penting.
Hingga kini, belum ada kejelasan apakah langkah tersebut merupakan larangan resmi jangka panjang atau hanya tindakan sementara. Pemerintah China pun tidak memberikan alasan terbuka terkait kebijakan ini, dikutip dari The Guardian, Senin (19/1/2026).
Situasi tersebut menambah ketidakpastian dalam rantai pasok teknologi global, khususnya sektor semikonduktor. Sebelumnya, chip H200 yang dirancang di Amerika Serikat dan diproduksi di Taiwan sempat diperbolehkan diekspor ke China pada era pemerintahan Donald Trump.
Namun, pemerintah AS kemudian menerapkan proses tambahan, yakni chip harus singgah terlebih dahulu di laboratorium di AS sebelum dikirim ke China. Skema ini memungkinkan pengenaan tarif sebesar 25 persen, yang juga berlaku bagi chip MI325X buatan Advanced Micro Devices (AMD).
Baca Juga: Trump Ancam Tarif dan UE Siapkan Balasan, Perang Dagang Memanas
Taktik Negosiasi atau Dorong Chip Lokal?
Permintaan chip H200 dari perusahaan China sebenarnya tercatat sangat tinggi. Meski demikian, sejumlah analis menilai Beijing masih menimbang arah kebijakan strategisnya. Salah satu kemungkinan adalah mendorong percepatan pengembangan chip lokal agar ketergantungan terhadap teknologi AS dapat dikurangi.
Kemungkinan lain, pemblokiran ini dipandang sebagai taktik negosiasi geopolitik di tengah memanasnya hubungan dagang dan teknologi antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut. Dengan menahan masuknya chip canggih AS, China dinilai sedang mengirim sinyal tekanan balik kepada Washington.
Di sisi lain, para pakar di AS terbelah mengenai manfaat strategis penjualan H200 ke China. Kelompok yang mendukung ekspor menilai pasokan chip AS justru bisa memperlambat riset China dalam mengembangkan teknologi serupa dan membuat perusahaan Tiongkok tetap bergantung pada teknologi Amerika.
Namun kubu penolak memperingatkan risiko keamanan nasional. Mereka menilai chip AI dengan kemampuan tinggi seperti H200 berpotensi digunakan dalam sistem persenjataan canggih, yang pada masa depan dapat memperkuat kapabilitas militer China.
Ketegangan ini menunjukkan bahwa persaingan teknologi antara AS dan China kian kompleks, dengan kebijakan perdagangan, keamanan, dan geopolitik saling bertaut erat dalam perang pengaruh global.
Baca Juga: Negara-negara Arab “Diam” sat Iran Dilanda Konflik, Kenapa Bisa?

[…] Trump Terpojok? Ini Serangan Balasan Xi Jinping ke Amerika […]