Diresmikan Prabowo, Ini Fakta Kilang Minyak Terbesar RI
Presiden RI Prabowo Subianto meresmikan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan di Kalimantan Timur yang kini resmi menjadi kilang minyak terbesar di Indonesia.
Proyek strategis nasional ini memiliki nilai investasi mencapai 7,4 miliar dollar AS atau setara Rp 123 triliun dan digarap oleh PT Kilang Pertamina Balikpapan (KPB), anak usaha PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) yang berada di bawah Subholding Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina (Persero).
RDMP Balikpapan merupakan pengembangan dari kilang eksisting yang sebelumnya telah beroperasi, tetapi kini ditingkatkan agar mampu menghasilkan produk berkualitas setara Euro V yang lebih ramah lingkungan dan bernilai tinggi.
“Dengan program tersebut, diharapkan Pertamina bisa mendorong tercapainya ketahanan energi sesuai yang dicita-citakan Asta Cita Pemerintah,” tutur Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron dalam keterangan resmi, Senin (19/1/2026).
Baca Juga: Tunggu Proses Merger dari Danantara, Perpres Ojol Segera Final
Integrasi Infrastruktur Hulu hingga Hilir
Proyek RDMP Balikpapan tidak hanya memperluas kapasitas kilang, tetapi juga membangun sistem terintegrasi dari hulu hingga hilir yang didukung infrastruktur berskala besar dan berteknologi tinggi.
Beberapa fasilitas utama yang menopang operasional kilang minyak terbesar RI ini meliputi:
1. Single Point Mooring (SPM) atau dermaga terapung dengan kapasitas 320 ribu Dead Weight Ton (DWT) yang mampu menampung kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) sebagai pengangkut minyak mentah.
2. Dua tangki raksasa di Lawe-lawe dengan kapasitas masing-masing 1 juta barel yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan minyak mentah sebelum diproses di kilang. Minyak mentah dialirkan melalui pipa bawah laut dan darat sepanjang sekitar 20 kilometer dari SPM ke tangki ini.
3. Fasilitas utama kilang, yakni Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC), yang memungkinkan pengolahan minyak mentah dan residu menjadi produk bernilai tinggi seperti gasoline, diesel, avtur, LPG, hingga petrokimia turunan seperti propilena dan sulfur.
4. Pipa Gas Senipah–Balikpapan sepanjang 78 kilometer yang menyuplai bahan baku energi agar operasional kilang berjalan optimal dari sisi hulu dan hilir migas.
5. Terminal BBM Tanjung Batu berkapasitas 125 ribu kiloliter yang menjadi titik akhir penyimpanan sebelum BBM hasil olahan didistribusikan ke wilayah Indonesia bagian timur.
Baca Juga: Penunggak Pajak Diancam Saham Disita oleh Purbaya
Dampak Ekonomi dan Ketahanan Energi
Dengan beroperasinya RDMP Balikpapan, kapasitas kilang meningkat menjadi 360 ribu barel per hari (BOPD) dan porsi produk bernilai tinggi melonjak dari 75,3 persen menjadi 91,8 persen. Kompleksitas kilang juga naik signifikan dari 3,7 menjadi 8, menandakan kemampuan pengolahan yang semakin maju.
“Kilang Balikpapan akan menjadi kilang terbesar di Indonesia, dengan hasil pengolahan yang berkualitas tinggi, dan mampu memanfaatkan setiap tetes minyak mentah menjadi produk berkualitas,” kata Baron.
Proyek yang dimulai sejak 2019 ini sempat mengalami perlambatan akibat pandemi Covid-19, namun tetap diselesaikan hingga beroperasi penuh berkat konsistensi kebijakan dan komitmen pemerintah.
RDMP Balikpapan diproyeksikan mampu menurunkan impor BBM hingga sekitar Rp 68 triliun per tahun, menyerap puluhan ribu tenaga kerja, meningkatkan penggunaan produk dalam negeri, serta memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional hingga Rp 514 triliun.
Keberadaan unit RFCC juga menjadi simbol keberhasilan strategi hilirisasi migas, karena memungkinkan residu diolah kembali menjadi BBM dan produk bernilai tambah tinggi, sekaligus memperkuat daya saing industri energi nasional.
Baca Juga: Purbaya Sebut Limit Aman, TKD Daerah Bencana Harus Dihabiskan

[…] Diresmikan Prabowo, Ini Fakta Kilang Minyak Terbesar RI […]