Babak Baru! Iran Setujui Prinsip Kesepakatan Nuklir AS, Sinyal Damai?
Iran menyatakan telah mencapai “kesepakatan umum” dengan Amerika Serikat terkait potensi perjanjian nuklir yang dapat membuka jalan pencabutan sanksi terhadap Teheran sekaligus menurunkan risiko konflik di Timur Tengah.
“Kami berhasil mencapai kesepakatan umum tentang seperangkat prinsip panduan, berdasarkan prinsip-prinsip tersebut kami akan melanjutkan dan bergerak menuju penyusunan kesepakatan potensial,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kepada televisi pemerintah usai berdiskusi dengan Utusan Khusus AS Steve Witkoff di Jenewa.
Araghchi menjelaskan, kedua pihak akan menyusun dan saling bertukar teks perjanjian sebelum menetapkan jadwal pembicaraan lanjutan. Ia juga mengingatkan bahwa tahap berikutnya akan “lebih sulit dan rinci.”
Pernyataan tersebut langsung berdampak pada pasar energi. Harga minyak West Texas Intermediate berbalik turun dan berada di bawah 63 dollar AS per barel.
Baca Juga: Dampak Blokade Minyak AS, Kuba Krisis BBM
Ketegangan Militer di Teluk Persia
Kemajuan diplomatik ini terjadi di tengah meningkatnya aktivitas militer di Teluk Persia. Iran menyatakan akan menutup sebagian Selat Hormuz selama beberapa jam untuk latihan militer. Di sisi lain, Amerika Serikat mengirimkan kapal induk tambahan ke kawasan tersebut.
Iran sebelumnya beberapa kali mengancam akan menutup total Selat Hormuz, jalur penting ekspor energi global, namun belum pernah benar-benar melakukannya. Harga minyak Brent sendiri telah naik hampir 13 persen sepanjang tahun ini, dipicu ketegangan antara Washington dan Teheran.
“Kekhawatiran saya adalah retorika dari kedua belah pihak masih terus meningkat,” kata Giovanni Staunovo, analis komoditas UBS Group AG.
“Namun, selama ekspor minyak tidak terganggu, pelaku pasar hanya akan memperhitungkan premi risiko yang terbatas,” lanjut dia.
Sejumlah pelaku industri tanker menyebut latihan militer Iran sejauh ini belum memicu panduan baru bagi pelayaran dan tidak diperkirakan mengganggu pengiriman minyak.
Menurut kantor berita semi-resmi Iranian Labour, Komandan Angkatan Laut Alireza Tangsiri menuturkan bawha latihan yang dimulai Senin itu difokuskan untuk memberi tanggapan “tegas” terhadap ancaman keamanan. Garda Revolusi Iran (IRGC) disebut terus memantau selat tersebut dan berencana menambah peralatan militer.
“Diplomasi dan medan perang berjalan berdampingan,” tulis analis Iran Akbar Masoumi dalam analisis untuk kantor berita Tasnim. “Kedua hal ini saling melengkapi dan bersama-sama telah menciptakan proses positif bagi negara.”
Baca Juga: Israel dan AS Tidak Lagi Sejalan Soal Iran?
Ancaman dan Desakan Politik
Sebelumnya pada hari yang sama, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei kembali memperingatkan bahwa AS akan menghadapi konsekuensi jika menyerang Iran, seperti yang beberapa kali diancam Presiden AS Donald Trump apabila perundingan gagal.
“Mereka terus mengatakan: ‘Kami mengirim kapal perang ke arah Iran,’” kata Khamenei. “Baiklah, kapal perang tentu saja senjata berbahaya, tetapi yang lebih berbahaya daripada kapal perang adalah senjata yang dapat menenggelamkan kapal perang itu ke dasar laut.”
Perundingan yang dimediasi Oman di Jenewa berlangsung sekitar 3,5 jam dan dipimpin oleh Witkoff serta Jared Kushner dari pihak AS. Trump sebelumnya menyatakan Iran ingin mencapai kesepakatan dan ia akan terlibat secara tidak langsung.
Sementara itu, Israel mendorong agar negosiasi juga mencakup pembatasan rudal balistik Iran, meski Teheran menolak memasukkan isu tersebut. Senator Republik AS Lindsey Graham bahkan mengatakan Washington “hanya beberapa pekan, bukan beberapa bulan” lagi akan menentukan pilihan antara diplomasi atau tindakan militer terhadap Iran.

[…] Babak Baru! Iran Setujui Prinsip Kesepakatan Nuklir AS, Sinyal Damai? […]