Setelah 2 Tahun Absen, Sinyal IPO BUMN Kembali Mencuat
Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) memberi sinyal terkait rencana penawaran umum perdana saham atau initial public offering (IPO) sejumlah perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengatakan aksi korporasi tersebut belum akan dilakukan pada tahun ini. Saat ini, Danantara masih fokus pada strategi penciptaan nilai (value creation) serta memilah perusahaan yang dinilai siap melantai di bursa.
Baca Juga: Purbaya Ungkap Anggaran Bukan Penghambat Atasai Bencana Sumatra
Ia menjelaskan, hasil konsolidasi BUMN masih dalam tahap evaluasi untuk melihat dampak secara menyeluruh. Dari proses itu, Danantara akan menentukan kembali entitas yang layak untuk ditawarkan ke publik.
“Yang memang itu akan kami lakukan untuk public offering, jadi untuk milik masyarakat,” kata Dony dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026, Rabu (18/2).
Dony berharap proses IPO BUMN bisa mulai direalisasikan pada 2027. Di sisi lain, ia juga mengungkapkan ada kemungkinan sejumlah perusahaan justru ditarik dari pasar modal atau delisting, seiring dengan penataan portofolio yang tengah dilakukan.
Sebagai informasi, sudah lebih dari dua tahun tidak ada BUMN baru yang melantai di BEI. Emiten pelat merah terakhir yang melakukan IPO adalah PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) pada Februari 2023.
Saat itu, PGEO melepas 10,35 miliar saham atau setara 25 persen dari modal ditempatkan dan disetor, dengan harga penawaran Rp 875 per saham. Dari aksi tersebut, perseroan meraup dana sekitar Rp 9,05 triliun. Dalam prosesnya, PGEO menunjuk PT Mandiri Sekuritas, PT CLSA Sekuritas Indonesia, dan PT Credit Suisse Sekuritas Indonesia sebagai penjamin pelaksana emisi efek, serta CLSA, Credit Suisse, dan HSBC sebagai international selling agents.
Baca Juga: Hingga 2030, Purbaya Optimis Ekonomi RI Ekspansi
Target RoA 7 Persen dari Presiden
Di tengah rencana penataan BUMN, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya meminta Danantara mampu mencetak tingkat pengembalian aset atau return on asset (RoA) sebesar 7 persen.
Permintaan itu disampaikan kepada Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan P Roeslani dalam acara Indonesia Economic Outlook 2026 di Wisma Danantara, Jakarta, Jumat (13/2).
“Saya menuntut return on asset ya 7% lah,” kata Prabowo kala itu.
Menanggapi target tersebut, Rosan menyatakan kesiapannya untuk memenuhi permintaan kepala negara. RoA sendiri merupakan rasio profitabilitas yang menunjukkan kemampuan perusahaan dalam memanfaatkan total aset untuk menghasilkan laba bersih. Semakin tinggi angkanya, semakin efisien perusahaan dalam mengelola asetnya.
Prabowo mengakui target RoA 7 persen bukan angka yang rendah. Namun, ia menilai target ambisius diperlukan agar capaian kinerja tidak meleset jauh dari ekspektasi yang ditetapkan.

[…] Setelah 2 Tahun Absen, Sinyal IPO BUMN Kembali Mencuat […]