Teheran Diserang, Kenapa Beijing dan Moskow Belum Bantu Iran?
Teheran Diserang, Kenapa Beijing dan Moskow Belum Bantu Iran?
Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada Sabtu (28/2/2026) memicu reaksi keras dari China dan Rusia. Kedua negara sama-sama melontarkan kecaman atas aksi militer tersebut, terlebih setelah serangan itu dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Dalam percakapan telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia, Menteri Luar Negeri China Wang Yi menyampaikan sikap tegas Beijing. Ia menyebut serangan yang dilakukan AS dan Israel tidak bisa dibenarkan.
“Apalagi secara terang-terangan membunuh seorang pemimpin negara berdaulat dan memicu perubahan rezim,” ujar Wang Yi, dilansir dari AFP.
Kementerian Luar Negeri Rusia juga mengeluarkan pernyataan resmi. Moskow menilai tindakan tersebut sebagai bentuk agresi yang melanggar hukum internasional.
Rusia bahkan menyebut langkah itu bertentangan dengan prinsip dasar Piagam PBB dan berpotensi “mengganggu stabilitas situasi di seluruh kawasan”.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai respons kedua negara terbilang lunak. Baik Beijing maupun Moskow tidak menjanjikan dukungan militer atau bantuan konkret kepada Teheran.
Baca Juga: AS Tetap Pakai Senjata Canggih untuk Serang Iran walau Sempat Dilarang Trump
Sikap China: Kecaman Tanpa Dukungan Nyata
Mengutip CNBC International, Selasa (3/3/2026), reaksi China menunjukkan bahwa Iran tidak memiliki sekutu sejati. Kemitraan strategis yang selama ini terjalin dinilai sangat terbatas.
“Saya tidak melihat pemerintah China mengambil tindakan konkret untuk mendukung Teheran,” kata Direktur Pelaksana Teneo, Gabriel Wildau.
Ia menilai menjaga hubungan yang relatif stabil dengan AS tetap menjadi prioritas utama Beijing.
“Mempertahankan détente dengan AS tetap menjadi prioritas strategis bagi kepemimpinan China,” lanjut dia.
Apalagi Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dijadwalkan bertemu pada akhir bulan ini. Pertemuan tersebut dinilai menjadi pertimbangan penting bagi Beijing dalam menentukan langkahnya.
Sementara itu, Peneliti Chatham House, Ahmed Aboudouh, menyebut China kemungkinan akan lebih fokus pada isu yang berkaitan langsung dengan kepentingannya.
“Seperti Taiwan dan perdagangan, sebagai imbalan atas pesan-pesan yang jauh lebih lunak mengenai Iran,” ujar dia..
Sebuah akun media sosial yang dikaitkan dengan media pemerintah China, Niutanqin, bahkan menulis bahwa “Iran tidak memiliki sekutu sejati”.
Akun tersebut menambahkan bahwa negara-negara lain akan tetap memprioritaskan kepentingan nasionalnya masing-masing dibanding menyelamatkan Teheran dari krisis.
Sikap hati-hati China ini bukan kali pertama terjadi. Tahun lalu, Beijing juga mengkritik serangan AS dan Israel terhadap Iran tanpa memberikan dukungan material.
Bahkan sebelumnya China mendukung sanksi ekonomi yang dipimpin PBB terhadap Teheran sebelum kesepakatan nuklir 2015.
“Reaksi China terhadap intervensi AS di Venezuela dan Iran menunjukkan bahwa kemitraan strategis dengan Beijing jauh dari aliansi militer atau bahkan jaminan dukungan militer dalam menghadapi ancaman eksistensial dari agresi AS,” terang Wildau.
Baca Juga: Warga China Tewas akibat Serangan AS-Israel di Iran
Respons Rusia dan Perhitungan Kepentingan
Sementara itu, bagi Rusia, Iran merupakan mitra strategis penting di Timur Tengah, baik dalam bidang militer, ekonomi, maupun perdagangan.
Sejak invasi ke Ukraina pada 2022, Iran menjadi salah satu pemasok drone dan rudal bagi Moskow.
Rusia pun dinilai khawatir kehilangan pijakan di kawasan tersebut, terutama setelah runtuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah pada Desember 2024.
Meski demikian, hingga kini Kremlin maupun Presiden Vladimir Putin belum menyampaikan pernyataan terbuka terkait situasi terbaru di Iran.
“Sebenarnya, perang yang berkepanjangan di Ukraina telah mengikis kemampuan Rusia untuk memproyeksikan kekuatan di luar perbatasannya,” jelas kepala ahli strategi geopolitik BCA Research, Matt Gerken.
“Dengan militernya yang kewalahan dan ekonominya yang terus-menerus berada di bawah tekanan sanksi Barat, pengaruh Moskow di Timur Tengah akan semakin berkurang,” tambah dia.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak akibat konflik ini dinilai dapat menguntungkan Rusia. Harga minyak sempat naik lebih dari 8 persen karena kekhawatiran gangguan pasokan global.
Beberapa negara OPEC+, termasuk Rusia, juga mengumumkan peningkatan produksi sebesar 206.000 barel per hari mulai April.
“Putin pasti senang, karena apa pun yang menaikkan harga minyak akan menguntungkannya,” terang Presiden Transversal Consulting, Ellen Wald.
“Dia pasti bisa mengatakan, jika Anda tidak bisa mendapatkan minyak dari Teluk, hei, kami punya pasokan yang melimpah,” lanjut dia.
Meski begitu, para analis menilai Rusia cenderung mengambil pendekatan “wait and see”. Moskow kemungkinan akan menunggu dan melihat apakah rezim Iran mampu bertahan dari tekanan militer AS dan Israel.
Adapun Profesor Stanford sekaligus mantan Duta Besar AS untuk Rusia, Michael McFaul, menyebut belum tentu serangan udara akan berujung pada perubahan rezim.
“Saat ini kita membom target militer berupa sistem senjata yang ditujukan kepada kita dan mitra serta sekutu kita, kita tidak melenyapkan instrumen militer dan senjata yang digunakan untuk menindas rakyat Iran,” ujar McFaul.
“Sejauh ini, masih sangat tidak jelas bagaimana kampanye militer saat ini akan mengarah pada perubahan rezim yang telah dijanjikan Presiden Trump kepada rakyat Iran,” pungkas dia.
Baca Juga: Prabowo Panggil Amran di Tengah Konflik Arab, Ada Apa?

[…] Teheran Diserang, Kenapa Beijing dan Moskow Belum Bantu Iran? […]