Perang Meletus, Pasokan BBM Indonesia Terancam
Penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz akibat perang Iran-Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global.
Situasi ini turut menjadi perhatian bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak. Di tengah ketidakpastian tersebut, Indonesia dinilai belum memiliki cadangan penyangga energi atau Strategic Petroleum Reserve (SPR) seperti yang dimiliki sejumlah negara maju.
Sejumlah ekonom menilai ketahanan energi nasional masih tergolong rentan jika terjadi krisis energi global.
Baca Juga: Isi Pertemuan Prabowo dengan SBY dan Jokowi Dibocorkan Bahlil
Ketergantungan impor bikin ketahanan energi rentan
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menilai ketahanan energi Indonesia masih lemah karena tingginya ketergantungan terhadap impor minyak.
Ia mengatakan, kondisi tersebut dapat memicu kelangkaan BBM ketika terjadi gangguan pasokan energi global.
Bhima menjelaskan cadangan energi Indonesia saat ini relatif terbatas sehingga gejolak global bisa langsung berdampak pada ketersediaan BBM di dalam negeri.
“Cadangan energi Indonesia rentan. itu kenapa krisis minyak bisa picu stok BBM langka. Tapi solusi menambah cadangan dari 20 hari jadi 3 bulan bukan solusi,” kata Bhima kepada CNBC Indonesia, dikutip Jumat (6/3/2026).
Menurut dia, menambah kapasitas penyimpanan energi hanya akan memperbesar cadangan tanpa menyelesaikan akar masalah ketergantungan impor minyak.
Bhima menilai solusi yang lebih efektif adalah mempercepat elektrifikasi transportasi serta transisi menuju energi yang lebih bersih.
“Opsinya justru percepatan elektrifikasi di sistem transportasi dan transisi energi. Transportasi publik pakai bus listrik di semua daerah, kendaraan pribadi bbm nya diturunkan. Yang penting transport publiknya murah dan nyaman, orang bergeser juga,” kata dia.
Baca Juga: Bahlil Blak-Blakan, Subsidi Energi RI DIbebani Perang Timur Tengah
Biaya cadangan BBM sangat besar
Sementara itu, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menjelaskan bahwa secara umum negara-negara di dunia memiliki cadangan energi antara tiga hingga enam bulan untuk mengantisipasi gangguan pasokan global.
Namun, menurut dia, pembentukan cadangan energi dalam jumlah besar tidak hanya berkaitan dengan kesiapsiagaan menghadapi krisis, tetapi juga menyangkut kemampuan fiskal dan kesiapan infrastruktur suatu negara.
“Idealnya dalam konteks ini kan melibatkan multiaspek tidak hanya ideal supaya gak krisis tetapi ideal dalam konteks kemampuan fiskalnya ada gak gitu. Terus kemudian infrastrukturnya siap atau tidak nah ini kan ideal ideal di dalam konteks ini antara 1 negara dengan negara yang lain belum tentu sama,” ujar Komaidi.
Ia juga mengungkapkan bahwa biaya untuk menyimpan cadangan BBM sangat besar.
Sebagai gambaran, untuk menyediakan stok BBM selama satu hari saja dibutuhkan anggaran sekitar Rp2,5 triliun hingga Rp3 triliun.
Artinya, jika Indonesia ingin memiliki cadangan energi selama 30 hari, kebutuhan anggarannya bisa mencapai sekitar Rp60 triliun hingga Rp90 triliun hanya untuk biaya penyimpanan dan nilai barangnya.
“Sekarang kita kan punya 20-25 hari itu pun stok yang bukan dimiliki negara tapi stok operasional badan usaha yang inventori belum terjual dan ini bagi badan usaha kan sebelumnya berat kalau harus membiarkan uangnya mengendap di situ dalam jangka waktu yang cukup panjang,” pungkas dia.
Baca Juga: Selat Hormuz Memanas, Pasokan LPG RI Juga Bisa Terganggu

[…] Perang Meletus, Pasokan BBM Indonesia Terancam […]