Bahlil Blak-Blakan, Perang Timur Tengah Bebani Subsidi Energi RI
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak pada sektor energi nasional, terutama setelah penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur penting distribusi minyak dunia. Pemerintah mengakui situasi tersebut berpotensi mempengaruhi besaran subsidi energi yang harus ditanggung negara.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, secara umum pasokan energi di Indonesia masih aman. Namun, lonjakan harga energi global akibat konflik geopolitik dapat meningkatkan beban subsidi pemerintah.
“Yang enggak bisa itu adalah memang ada terjadi kenaikan dan itu berdampak pada subsidi. Jadi sekarang kita lagi menghitung secara baik, dengan hati-hati,” tutur Bahlil saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Baca Juga: Airlangga Buka Peluang Negosiasi soal RI Kena Tarif 15 Persen
Penutupan Selat Hormuz terjadi setelah konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat beberapa waktu lalu. Jalur pelayaran tersebut selama ini menjadi salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia dengan volume distribusi mencapai 20,1 juta barel per hari.
Bagi Indonesia, jalur tersebut juga memiliki peran penting dalam rantai pasokan energi nasional. Sekitar 19 persen impor minyak Indonesia berasal dari kawasan yang dilalui Selat Hormuz.
Bahkan, saat ini dua kapal kargo minyak milik PT Pertamina (Persero) dilaporkan masih berada di perairan Teluk Persia akibat situasi keamanan yang belum stabil.
Impor Minyak dari AS Dilakukan Bertahap
Untuk mengantisipasi gangguan pasokan tersebut, pemerintah mulai mencari alternatif sumber impor minyak. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengalihkan sebagian impor minyak mentah dari Amerika Serikat secara bertahap.
Bahlil menjelaskan, proses impor tidak dapat dilakukan sekaligus karena keterbatasan kapasitas penyimpanan minyak di dalam negeri.
“Ya bertahap itu kan bertahap, enggak bisa sekaligus satu kali datang karena kita punya daya simpanan tidak cukup. Jadi masalah kita itu sekarang adalah di storage, makanya kami mau buat sekarang storage, kalau tidak begini, kita tidak pernah berpikir,” ujar Bahlil.
Ia menambahkan, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan arahan agar Indonesia segera membangun tangki penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) atau storage untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
“Kalau kita bicara survival, kita harus mampu betul-betul melihat inti masalah dan segera menyelesaikannya. Kalau enggak kita tergantung terus,” tegas Bahlil.
Baca Juga: Prabowo Perintahkan Ini ke Bahlih di Tengah Bayangan Perang Dunia
Sementara itu, Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron membenarkan bahwa minyak mentah dari Timur Tengah selama ini menyumbang sekitar 19 persen dari total impor Indonesia.
“Sekitar 19 persen dan saat ini kami sudah melaksanakan proses distribusi melalui sistem reguler alternatif maupun emergensi. Jadi untuk ketahanan energi nasional Pertamina telah menyampaikan sistem tersebut untuk bisa memenuhi kebutuhan nasional,” ujar Baron di Grha Pertamina, Rabu (4/3/2026).
Ia mengatakan Pertamina kini terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan kebutuhan energi nasional tetap terpenuhi.
“Jadi alternatif-alternatif yang sedang kita lakukan tentu dalam proses karena ini baru beberapa hari. Dan nanti kami akan update ke media untuk kesiapan proses alternatif tersebut,” imbuh dia.

[…] Baca Juga : Bahlil Sebut Perang Timur Tengah Bebani Subsidi Energi RI […]
[…] Baca Juga: Bahlil Blak-Blakan, Subsidi Energi RI DIbebani Perang Timur Tengah […]