Bahlil Ajak Masyarakat Hemat Energi, Naik Transportasi Umum
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk menggunakan energi secara bijak di tengah ketidakpastian pasokan minyak dan gas dunia akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia meminta masyarakat ikut berperan dalam upaya penghematan energi nasional agar konsumsi energi tetap terkendali di tengah situasi global yang tidak menentu.
“Kita membutuhkan dukungan dari masyarakat, kenapa? Kalau yang tidak penting untuk dipakai, jangan. Contoh listrik. Kalau memang nggak butuh semuanya dinyalain, matiin, hemat. Kalau memang AC, jangan. Di samping kalian juga bayar mahal, kan itu subsidi juga. Kan energi yang kita pakai,” terang Bahlil dalam Podcast Bukan Abuleke Kementerian ESDM, Kamis (12/3/2026).
Ia pun mendorong masyarakat untuk memanfaatkan transportasi umum sebagai salah satu cara menekan konsumsi energi.
“Kalau memang bisa pakai angkutan umum, jangan pakai mobil pribadi. Ya istilahnya saya pun sekarang kadang-kadang saya kalau memang tujuannya hanya ke kantor, ya nggak usah jalan ke mana-mana. Ya kalau cuma ini ya pandai-pandailah berhemat-hemat lah. Hemat pangkal kaya. Boros pangkal susah,” lanjut dia.
Beberapa negara di kawasan Asia Tenggara bahkan telah menerapkan berbagai kebijakan penghematan energi untuk mengantisipasi dampak gejolak energi global.
Baca Juga: Fokus Kerja OJK Diungkapkan Ketua Friderica Widyasari
Thailand
Di Thailand, pemerintah meminta para pegawai negeri untuk bekerja dari rumah jika memungkinkan sebagai bagian dari upaya penghematan energi nasional.
Selain itu, kantor-kantor pemerintah diminta menaikkan pengaturan suhu pendingin ruangan hingga 26 derajat Celsius guna menekan konsumsi listrik.
“Pemerintah ingin semua sektor menggunakan sumber daya secara bijak dan efektif,” kata pemerintah Thailand dalam sebuah pernyataan resmi, dilansir dari AFP.
Otoritas Thailand juga meminta para pejabat untuk menunda perjalanan ke luar negeri selama periode ketidakpastian energi ini.
Langkah tersebut diambil setelah pemerintah memastikan cadangan minyak negara itu cukup untuk sekitar dua bulan ke depan.
Namun untuk menjaga ketahanan energi, pemerintah Thailand juga memutuskan menghentikan sementara ekspor minyak.
Filipina
Sementara itu di Filipina, Presiden Ferdinand Marcos Jr. mengumumkan kebijakan kerja empat hari dalam seminggu di sejumlah kantor cabang eksekutif mulai 9 Maret.
Kebijakan ini bertujuan untuk menekan konsumsi bahan bakar dan menghemat energi di tengah lonjakan harga minyak global.
“Dari pihak pemerintah, mulai Senin, 9 Maret, kami akan menerapkan sementara sistem kerja empat hari seminggu di beberapa kantor cabang eksekutif. Ini tidak termasuk kantor-kantor yang menyediakan layanan darurat atau layanan penting, seperti kepolisian, pemadam kebakaran, dan kantor-kantor yang menyediakan layanan garda terdepan kepada masyarakat,” terang Marcos, dikutip dari Inquirer.
Ia juga memerintahkan seluruh instansi pemerintah untuk melakukan penghematan energi secara signifikan.
“Selain itu, saya mengarahkan semua instansi pemerintah untuk menghemat dan mengurangi konsumsi listrik serta pengeluaran bahan bakar minyak sebesar 10 hingga 20 persen,” ujar dia.
Selain mengurangi hari kerja, pemerintah Filipina juga menunda sementara perjalanan dinas serta aktivitas yang dianggap tidak mendesak.
Beberapa lembaga bahkan mulai menerapkan sistem kerja jarak jauh, termasuk kantor-kantor Departemen Perdagangan dan Industri di Makati.
Baca Juga: Kelapa dan Gambir Disebut Berpotensi Bikin RI Kaya jika Diolah Maksimal!
Vietnam
Berbeda dengan negara lain, pemerintah Vietnam memilih kebijakan dengan menghapus bea masuk untuk sejumlah produk minyak impor guna mencegah potensi kekurangan bahan bakar.
Kebijakan tersebut mulai berlaku pada Senin dengan tujuan menjaga stabilitas pasar energi domestik.
Pemerintah juga mendorong perusahaan untuk mengizinkan karyawan bekerja dari rumah guna mengurangi konsumsi bahan bakar.
Selain itu, masyarakat diimbau untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi dan beralih ke transportasi umum, bersepeda, atau berbagi kendaraan.
Meski berbagai langkah telah dilakukan, dampak gejolak energi tetap terasa di Vietnam.
Harga bensin tanpa timbal di negara tersebut dilaporkan melonjak lebih dari 20 persen sejak perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran dimulai lebih dari sepekan lalu.
Lonjakan harga tersebut memicu antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar.
Di ibu kota Hanoi, ribuan pengendara sepeda motor terlihat mengantre untuk membeli bensin pada Selasa.
Meski demikian, Vietnam sejauh ini masih mampu menghindari kekurangan bahan bakar secara luas.
Namun media pemerintah melaporkan bahwa puluhan stasiun pengisian bahan bakar skala kecil mulai menghentikan operasional sementara atau mengurangi jam layanan akibat pasokan yang semakin menipis.

[…] Bahlil Ajak Masyarakat Hemat Energi, Naik Transportasi Umum […]