Prabowo Tegaskan Defisit APBN Maksimal 3%, Kecuali Ada Krisis Besar
Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk mempertahankan batas defisit anggaran negara maksimal 3 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Untuk tahun ini, pemerintah menetapkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 2,68 persen dari PDB.
Menurut Prabowo, batas defisit tersebut merupakan instrumen penting untuk menjaga kedisiplinan fiskal pemerintah dalam mengelola keuangan negara.
“Batas defisit itu adalah alat yang baik untuk mendisiplinkan diri kita. Kami tidak punya rencana untuk mengubahnya kecuali ada keadaan darurat yang sangat besar seperti Covid-19,” kata Prabowo, dikutip dari siaran pers, Senin (16/3/2026).
“Saya berharap kita tidak perlu mengubahnya,” tambahnya.
Batas defisit APBN sebesar 3 persen dari PDB telah diterapkan sejak tahun 2000. Pemerintah Indonesia hanya pernah melonggarkan aturan tersebut sekali melalui penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) ketika pandemi COVID-19.
Kebijakan terkait defisit anggaran dinilai penting karena menjadi indikator disiplin fiskal yang diperhatikan oleh para investor.
Baca Juga: Prabowo Sebut Perang AS-Israel di Iran Tidak Rasional
Prabowo Tolak Tambah Utang Besar untuk Dorong Pertumbuhan
Prabowo mengatakan sejumlah negara di dunia saat ini tidak lagi mematuhi aturan ketat terkait batas defisit anggaran.
Ia mencontohkan bahwa Indonesia sebelumnya mengacu pada aturan di kawasan European Union yang membatasi defisit fiskal maksimal 3 persen dari PDB, meskipun banyak negara di kawasan tersebut kini tidak lagi mematuhinya.
Meski demikian, Prabowo menegaskan pemerintah tidak berencana mengikuti pendekatan yang mendorong pertumbuhan ekonomi melalui penambahan utang dalam jumlah besar.
Ia mengatakan sejak kecil telah diajarkan oleh orang tuanya untuk menjalani prinsip hidup sederhana dengan menyesuaikan pengeluaran terhadap kemampuan.
“Jangan membelanjakan lebih dari yang kita hasilkan,” kata Prabowo.
“Itu adalah prinsip dasar kehidupan untuk bisa bertahan,” lanjut dia.
Prabowo juga menilai Indonesia memiliki keunggulan dibandingkan banyak negara lain karena memiliki sumber daya alam yang melimpah, seperti sawit dan batu bara, yang masih relatif murah dan dapat mendukung ketahanan nasional.
Di sisi lain, pemerintah juga akan terus mengembangkan energi alternatif, termasuk panas bumi, tenaga surya, tenaga air, dan biofuel.
“Kalau kita bisa melewati ini, dalam dua tahun kita akan menjadi sangat efisien,” ujar Prabowo.
“Kita akan sangat, sangat tidak bergantung pada sumber dari luar,” pungkas dia.
Baca Juga: Komentar 2 Menteri Prabowo terkait Tinjauan IKN, Apa Saja?

[…] Baca Juga : Prabowo Tegaskan Defisit APBN Maksimal 3%, Kecuali Terjadi Krisis Besar […]