Siapa Sebenarnya Lebih Kuat: Militer Iran vs Israel?
Ketegangan di kawasan Timur Tengah masih terus meningkat, dan belum menunjukkan konflik akan mereda. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran semakin meluas, dengan intensitas serangan yang terus meningkat. Dampak dari perang ini bahkan mulai meluas ke sejumlah negara di sekitar wilayah Iran.
Dalam perkembangan terbaru, Amerika Serikat melaporkan korban tewas pertama dari warga negaranya sejak konflik dengan Iran meletus. Pada saat yang sama, kedua pihak menyatakan akan meningkatkan operasi militer dalam beberapa hari ke depan.
Iran sendiri telah melancarkan serangan balasan yang meluas ke berbagai wilayah, setelah serangan rudal besar menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, bersama sejumlah pejabat tinggi lainnya.
Baca Juga : Imbas Perang, Negara Tetangga RI Serempak Naikkan Harga BBM
Presiden Donald Trump menyatakan bahwa militer AS telah menenggelamkan sembilan kapal angkatan laut Iran, serta menghancurkan sebagian besar markas besar angkatan laut negara tersebut. Ia juga menegaskan bahwa operasi militer Amerika akan terus berlanjut hingga tujuan strategis mereka tercapai.
Lalu seperti apa sebenarnya kekuatan militer dari negara-negara yang terlibat konflik ini?
Iran
Berdasarkan Military Power Ranking (MPR) 2025, Iran berada di posisi ke-11 dalam daftar kekuatan militer dunia. Struktur pertahanan negara ini dibentuk oleh tekanan sanksi internasional selama puluhan tahun, strategi perang asimetris, serta rivalitas berkepanjangan dengan Amerika Serikat, Israel, dan negara-negara Teluk.
Kekuatan militer Iran terbagi antara angkatan bersenjata reguler yang dikenal sebagai Artesh dan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). IRGC memiliki peran yang sangat dominan, terutama dalam operasi regional dan proyeksi kekuatan Iran di luar negeri.
Doktrin militer Iran menitikberatkan pada strategi pencegahan dan penguasaan wilayah melalui kemampuan rudal, perang siber, serta dukungan terhadap jaringan milisi sekutu di kawasan Timur Tengah.
Walaupun armada udara Iran tergolong tua dan akses terhadap teknologi militer Barat terbatas, negara ini secara intensif mengembangkan kemampuan rudal balistik, drone tempur, serta jaringan pasukan proksi untuk menutupi kelemahan konvensionalnya.
Iran memiliki berbagai jenis rudal balistik yang menjadi tulang punggung strateginya, di antaranya Shahab-3, Emad, Sejjil, dan Khaybar Shekan yang memiliki jangkauan hingga sekitar 2.000 kilometer. Selain itu terdapat rudal taktis seperti Fateh-110, Zolfaghar, Dezful, dan Raad yang digunakan dalam operasi medan perang.
Negara ini juga mengembangkan sistem rudal presisi SRBM dan IRBM yang mampu menjangkau Israel, pangkalan militer AS, serta target di kawasan Teluk. Keberadaan silo rudal bawah tanah dan peluncur bergerak memperkuat kemampuan bertahan sekaligus meningkatkan fleksibilitas dalam peluncuran serangan.
Di sektor drone militer, Iran dikenal sebagai salah satu pemain utama di dunia di luar negara-negara besar. Armada UAV miliknya meliputi Shahed-129, Mohajer-6, Ababil-3, dan Karrar yang telah digunakan dalam berbagai konflik di Suriah, Irak, hingga Yaman.
Selain itu, Iran juga mengembangkan amunisi jelajah seperti Shahed-136 yang bahkan telah diekspor ke Rusia dan digunakan dalam perang di Ukraina.
Drone bersenjata tersebut sering dimanfaatkan untuk menembus sistem pertahanan udara lawan, serta memperluas proyeksi kekuatan melalui kelompok sekutu di kawasan. Industri pertahanan domestik Iran juga terus meningkatkan produksi UAV jarak jauh dengan biaya relatif murah.
Iran turut memperluas pengaruh militernya melalui dukungan terhadap berbagai kelompok proksi, seperti Hezbollah di Lebanon, milisi PMF di Irak, kelompok Houthi di Yaman, serta Liwa Fatemiyoun.
Operasi ini biasanya dijalankan melalui jaringan Pasukan Quds IRGC yang menyediakan pelatihan, logistik, serta dukungan persenjataan berupa rudal dan drone kepada sekutu-sekutu regionalnya.
Dalam bidang pertahanan udara, Iran mengembangkan sistem perlindungan berlapis untuk menjaga aset strategisnya. Beberapa sistem yang dimiliki antara lain Bavar-373 yang setara dengan sistem S-300 Rusia, Khordad-15, serta Sayyad-3 yang didukung radar dan peluncur bergerak.
Sektor siber dan industri militer juga menjadi fokus penting bagi Iran. Negara ini diketahui aktif melakukan operasi siber terhadap target di Israel, Amerika Serikat, serta negara-negara Teluk.
Meskipun berada di bawah sanksi internasional, Iran tetap mampu memproduksi tank, drone, rudal, hingga sistem peperangan elektronik secara mandiri. Mereka juga mengembangkan versi rekayasa balik dari berbagai platform militer lama seperti F-5 dan T-72, serta memperkuat kerja sama militer dengan Rusia dan China dalam transfer teknologi dan pelatihan.
Baca Juga : Trump Ngamuk ke NATO, Sekutu Ogah Ikut Perang Iran
Israel
Menurut indeks kekuatan militer Global Firepower 2026, Israel berada di posisi ke-15 dari 145 negara dengan nilai Power Index sebesar 0,2707.
Israel memiliki sekitar 169.500 personel militer aktif. Namun dari sisi anggaran pertahanan, negara ini memiliki keunggulan yang cukup besar dibanding Iran.
Belanja pertahanan Israel diperkirakan mencapai sekitar US$34,6 miliar, hampir empat kali lebih besar dibandingkan Iran yang berada di kisaran US$9,23 miliar.
Dalam hal kekuatan udara, Israel memiliki sekitar 239 pesawat tempur dan 48 helikopter serang. Dominasi udara ini sering menjadi faktor penting dalam berbagai konflik modern yang melibatkan negara tersebut.
Untuk kekuatan darat, Israel memiliki sekitar 1.300 unit tank. Sementara armada lautnya terdiri dari sekitar 82 kapal perang. Israel tidak memiliki kapal induk, sehingga kekuatan lautnya lebih banyak bertumpu pada kapal selam, fregat, dan kapal patroli.
Militer Israel dikenal sebagai salah satu yang paling maju di dunia. Persenjataan konvensionalnya sebagian besar diperoleh dari Amerika Serikat atau diproduksi oleh industri pertahanan domestik yang sangat maju.
Secara keseluruhan, Israel diperkirakan memiliki hampir 600 pesawat tempur, sekitar 200 helikopter serang, lebih dari 3.600 tank, lebih dari 9.000 kendaraan lapis baja, serta sekitar 360 rudal balistik.
Di sektor angkatan laut, Israel mengoperasikan tiga kapal selam kelas Dolphin yang diyakini mampu membawa dan meluncurkan hulu ledak nuklir.
Dengan perkiraan kepemilikan sekitar 200 hingga 300 hulu ledak nuklir, Israel sering disebut sebagai kekuatan nuklir terbesar keenam di dunia. Senjata nuklir tersebut diyakini dapat diluncurkan melalui sistem rudal balistik maupun dari pesawat tempur.
Selain itu, Israel juga kerap dicurigai memiliki persediaan senjata kimia dan biologis, meskipun hal tersebut tidak pernah secara resmi dikonfirmasi.
Baca Juga : Trump Ancam Serang Pulau Minyak Iran, Klaim untuk Senang-senang?

[…] Siapa Sebenarnya Lebih Kuat: Militer Iran vs Israel? […]