Perang AS-Iran: Siapa yang Lebih Cepat Kehabisan Amunisi?
Konflik di Timur Tengah saat ini memiliki intensitas serangan yang semakin meningkat. Gelombang serangan drone dari Iran terus memberi tekanan besar terhadap sistem pertahanan udara Amerika Serikat, serta negara-negara sekutunya di kawasan Teluk, mulai dari Bahrain hingga Uni Emirat Arab.
Serangan tersebut tidak hanya menguji kemampuan pertahanan udara, tetapi juga mulai menguras persediaan amunisi militer. Para analis menilai hasil konflik kemungkinan besar akan ditentukan oleh pihak mana yang lebih dahulu kehabisan senjata.
Salah satu senjata utama yang digunakan Iran adalah drone serang satu arah Shahed-136. Drone ini merupakan jenis rudal jelajah sederhana berbiaya rendah yang terus diluncurkan ke berbagai target di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga : Siapa Sebenarnya Lebih Kuat: Militer Iran vs Israel?
Dalam beberapa hari terakhir, drone tersebut dilaporkan menghantam sejumlah sasaran penting, termasuk pangkalan militer AS, fasilitas energi, hingga bangunan sipil. Serangan ini terjadi sejak operasi udara gabungan AS dan Israel terhadap Iran dimulai pada Sabtu lalu.
Drone Murah vs Sistem Pertahanan Mahal
Meski demikian, sistem pertahanan udara Patriot buatan AS mampu mencegat sebagian besar serangan tersebut. Menurut otoritas Uni Emirat Arab, tingkat keberhasilan intersepsi mencapai lebih dari 90 persen terhadap drone Shahed dan rudal balistik Iran.
Namun muncul persoalan lain dalam penggunaan sistem tersebut. Setiap rudal pencegat Patriot bernilai sekitar US$4 juta, sementara drone Shahed hanya diperkirakan berharga sekitar US$20.000.
Perbandingan biaya yang sangat jauh ini menyoroti dilema yang juga muncul dalam perang di Ukraina, yakni bagaimana senjata murah dapat memaksa lawan menghabiskan sistem pertahanan yang jauh lebih mahal.
Akibatnya, baik Iran maupun Amerika Serikat berpotensi mengalami kekurangan persenjataan dalam hitungan hari atau minggu, jika intensitas pertempuran tidak menurun. Pihak yang mampu mempertahankan persediaan amunisi lebih lama diyakini akan memiliki keuntungan strategis.
Strategi Perang Melemahkan Lawan
Dalam konflik ini, jaringan proksi Iran di kawasan disebut telah melemah setelah perang di Gaza serta akibat kerusakan pada kemampuan rudalnya setelah serangan sebelumnya oleh Israel dan AS pada konflik singkat selama 12 hari pada Juni lalu.
Sejak saat itu, strategi Iran lebih menekankan pada peningkatan tekanan dan peringatan mengenai biaya yang harus ditanggung Washington jika konflik berlarut-larut.
Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei yang dilaporkan tewas dalam serangan udara pada Sabtu sebelumnya, sempat memperingatkan bahwa aksi militer Amerika Serikat dapat memicu konflik regional yang lebih luas.
“Strategi pelemahan (attrition strategy) masuk akal secara operasional dari perspektif Iran,” kata Kelly Grieco, seorang peneliti senior di Stimson Center.
“Mereka memperhitungkan bahwa pihak bertahan akan kehabisan rudal pencegat mereka dan kemauan politik negara-negara Teluk akan runtuh dan menekan AS dan Israel untuk menghentikan operasi sebelum mereka kehabisan rudal dan drone.”
Analisis internal yang dilakukan oleh Bloomberg News, menyebutkan bahwa persediaan rudal pencegat Patriot milik Qatar diperkirakan hanya cukup untuk sekitar empat hari dengan tingkat penggunaan saat ini. Pemerintah Doha juga disebut telah secara pribadi mendorong agar konflik segera dihentikan.
Persediaan Rudal dan Drone Iran
Iran diperkirakan masih memiliki sekitar 2.000 rudal balistik setelah konflik sebelumnya dengan Israel tahun lalu. Selain itu, jumlah drone Shahed yang dimiliki kemungkinan jauh lebih besar.
Menurut Becca Wasser, kepala bidang pertahanan di Bloomberg Economics, drone tersebut dapat diproduksi dalam jumlah besar dengan cepat. Rusia, yang juga menjadi produsen utama, bahkan disebut mampu memproduksi ratusan unit setiap hari.
Sejak konflik tahun ini dimulai, Iran dilaporkan telah meluncurkan lebih dari 1.200 proyektil. Banyak di antaranya diperkirakan merupakan drone Shahed, yang kemungkinan digunakan untuk menghemat rudal balistik yang lebih kuat untuk serangan jangka panjang.
“Unit militer kita sekarang sebenarnya independen dan agak terisolasi dan mereka bertindak berdasarkan instruksi, instruksi umum yang diberikan kepada mereka sebelumnya,” kata Abbas Araghchi dalam wawancara dengan Al Jazeera.
Baca Juga : Perang Timur Tengah Mendorong Iran dan Korut “Bersatu”?
Stok Senjata AS dan Sekutunya Juga Tertekan
Di pihak Amerika Serikat, analis menilai logistik amunisi yang tersedia di kawasan mungkin belum cukup untuk menopang operasi militer selama empat minggu seperti yang sebelumnya diperkirakan oleh Presiden Donald Trump.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth sendiri menegaskan bahwa operasi militer ini tidak akan berkembang menjadi perang panjang.
“Ini bukan Irak, ini bukan konflik tanpa akhir.”
Sementara itu, kemampuan pertahanan udara Iran sendiri dinilai telah melemah. Serangan udara pada awal perang disebut berhasil menghancurkan sejumlah baterai rudal permukaan-ke-udara Iran, termasuk sistem S-300 buatan Rusia.
Akibatnya, pesawat tempur AS dan Israel dilaporkan dapat beroperasi di wilayah udara Iran tanpa hambatan berarti.
Di sisi lain, pertahanan udara negara-negara Teluk banyak bergantung pada sistem Patriot buatan Lockheed Martin yang menggunakan rudal pencegat PAC-3. Meski produksinya telah ditingkatkan, perusahaan tersebut hanya memproduksi sekitar 600 unit rudal PAC-3 sepanjang 2025.
Selain Patriot, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab juga mengoperasikan sistem pertahanan THAAD yang dirancang untuk menghadapi rudal berkecepatan tinggi di lapisan atmosfer atas. Namun setiap rudalnya diperkirakan bernilai sekitar US$12 juta, sehingga penggunaannya sangat terbatas.
Untuk menghadapi drone yang lebih murah, AS juga menggunakan patroli jet tempur yang dilengkapi rudal Advanced Precision Kill Weapon System (APWS) dengan harga sekitar US$20.000 hingga US$30.000 per unit, belum termasuk biaya operasional pesawat.
Ancaman Kebuntuan Perang
Sistem pertahanan khusus anti-drone masih relatif terbatas di kawasan Timur Tengah. Alternatif yang lebih murah seperti laser, meriam otomatis, atau drone pencegat mulai dipertimbangkan untuk melindungi kota dan fasilitas penting.
Salah satu teknologi yang diharapkan dapat membantu adalah sistem laser Iron Beam yang dikembangkan oleh Rafael Advanced Defense Systems dari Israel. Namun militer Israel menyatakan bahwa teknologi tersebut belum digunakan dalam konflik saat ini.
Jika intensitas serangan Iran tetap tinggi, persediaan rudal pencegat PAC-3 di kawasan dapat habis dalam waktu beberapa hari. Kondisi ini berpotensi menciptakan kebuntuan militer jika kedua pihak sama-sama mengalami kekurangan persenjataan ofensif.
Salah satu peneliti senior di Carnegie Endowment for International Peace, mengungkapkan bahwa hasil yang mungkin terjadi berdasarkan 60 jam pertama perang, persediaan rudal dan drone Iran mungkin akan berkurang dan rezimnya sendiri mungkin akan tetap utuh, meskipun dalam kekacauan.
Baca Juga : Perbandingan Militer AS dan Iran, Siapa Paling Tangguh?

[…] Perang AS-Iran: Siapa yang Lebih Cepat Kehabisan Amunisi? […]