Kejar Ekonomi 8%, RI Perlu Dana Besar! Ini Bocoran Prabowo
Presiden Prabowo Subianto menyatakan optimisme terhadap kondisi fiskal Indonesia yang dinilai semakin kuat untuk mendukung berbagai program strategis pemerintah dan mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen.
Pernyataan tersebut disampaikan Prabowo saat menjawab pertanyaan anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Chatib Basri dalam acara “Presiden Prabowo Menjawab” yang tayang di kanal YouTube resminya.
Baca Juga: SBY Ingatkan RI agar Tak Panik soal Harga Energi Bergejolak
Sumber Pembiayaan dari Efisiensi dan Penutupan Kebocoran
Chatib menyoroti rendahnya tax ratio Indonesia yang masih berada di kisaran 9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), di tengah kebutuhan pembiayaan pembangunan yang besar.
“Mungkin concern-nya begini pak, karena tax ratio kita kan rendah pak, tax ratio terhadap GDP kita hanya 9% sekarang, sementara orang melihat pembiayaannya ini besar, maka pertanyaannya selalu financingnya dari mana?” ujar Chatib, Rabu (25/3/2026).
“Koreksi saya kalau salah pak, bapak mau ambil itu dari leakage (kebocoran) yang ada, jadi tax ratio, plus leakage itu, kemudian plus efisiensi, itulah yang untuk membiayai programnya?” lanjut dia.
Menanggapi hal itu, Prabowo membenarkan bahwa pemerintah akan mengandalkan penutupan kebocoran anggaran, peningkatan tax ratio, serta efisiensi untuk membiayai program pembangunan.
Ia menyebut pemanfaatan teknologi digital seperti govtech menjadi salah satu langkah utama dalam mengurangi kebocoran sekaligus meningkatkan penerimaan negara.
“Dan DEN si pimpin Pak Luhut sendiri yang lapor ke saya dengan govtech, dengan digitalisasi, semua ini bisa terus mengurangi kebocoran. Kemudian perhitungan DEN sendiri juga bahwa tax ratio kita dalam waktu dekat bisa naik 3,5%. Kalau benar itu kita sudah setingkat sama Asia lain,” tutur Prabowo.
Baca Juga: Hadapi Tekanan Energi, RI Buat Strategi WFH hingga Efisiensi BBM
Optimisme Kenaikan Tax Ratio dan Respons Pemerintah
Prabowo juga menyoroti tren pertumbuhan pajak dalam beberapa bulan terakhir yang dinilai cukup tinggi, yakni mencapai 30 persen.
“Kalau tren tiga bulan ini naik 30%, 30%, 30%, ini tax ratio kita lumayan itu nanti. Jadi, kalau kita bisa naik tax kita naik bener 30% tiap bulan, rata-rata satu tahun ini 2026 wah itu berarti dari 9% ya benar sudah 12-13%,” tegas Prabowo.
Namun, Chatib menilai angka tersebut perlu dilihat secara lebih rinci karena pertumbuhan tersebut bersifat bruto, sementara secara neto hanya sekitar 7 persen setelah memperhitungkan restitusi pajak.
Menanggapi hal tersebut, Prabowo menyatakan pemerintah akan melakukan perhitungan ulang sekaligus mencari sumber pembiayaan lain.
“Ya tapi itu kan strategi aja, nanti kita akan hitung, tapi kita masih banyak dana-dana lain,” tegas Prabowo.
Sementara itu, Kementerian Keuangan sebelumnya menyampaikan bahwa pertumbuhan pajak sebesar 30,4 persen hingga Februari 2026 merupakan angka neto, dengan total penerimaan mencapai Rp 245,1 triliun.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan, pertumbuhan tersebut didorong oleh peningkatan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) yang melonjak signifikan.
“PPN dan PPnBM dibayar jika ada transaksi. Ini menunjukkan bahwa di perekonomian kita transaksi berjalan terus, kegiatan ekonomi, aktivitas ekonomi itu berjalan terus,” ujar Suahasil, Jumat (13/3/2026).

[…] Kejar Ekonomi 8%, RI Perlu Dana Besar! Ini Bocoran Prabowo […]