Target 2 Tahun! Prabowo Ingin RI Tak Lagi Impor BBM
Presiden RI Prabowo Subianto menargetkan Indonesia tidak lagi mengimpor Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam dua hingga tiga tahun ke depan melalui percepatan transisi energi dan pengurangan penggunaan pembangkit berbasis diesel.
Hal ini disampaikan Prabowo dalam peresmian fasilitas perakitan kendaraan komersial listrik milik PT Vektor Teknologi Mobilitas Tbk. di Magelang, Jawa Tengah.
Baca Juga: Kepala BGN Klaim Motor SPPG Rp42 Juta di Bawah Harga Pasar
Target hentikan impor BBM lewat penutupan PLTD
Prabowo menegaskan pemerintah akan menutup pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang masih bergantung pada bahan bakar minyak.
“Nanti tidak boleh ada lagi pembangkit listrik menggunakan diesel, menggunakan solar. Tidak. Dengan itu kita akan tutup pembangkit listrik tenaga diesel 13 buah yang di PLN, akan kita tutup,” jelas Prabowo.
Ia memperkirakan langkah tersebut dapat menghemat konsumsi minyak hingga 200.000 barel per hari, di tengah posisi Indonesia sebagai negara net importir minyak dengan kebutuhan sekitar 1 juta barel per hari.
“Kita masih perlu impor 1 juta barel sehari. Dengan kita tutup PLTD, kita langsung menghemat 20%. Dengan nanti 100 GW kita juta akan menghemat sangat-sangat besar, mungkin kita dua-tiga tahun lagi tidak perlu impor BBM sama sekali,” papar dia.
“Kita punya kekuatan besar, kita benar-benar sungguh, kita akan kuat, kita akan berdiri di atas kaki kita sendiri,” lanjut dia.
Baca Juga: Purbaya Mengaku Kecolongan soal Anggaran Rp1,13 T untuk Motor MBG
Dorong listrik berbasis sampah dan energi alternatif
Sebagai pengganti PLTD, pemerintah akan mengembangkan program listrifikasi melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) dengan kapasitas hingga 100 gigawatt.
Prabowo menargetkan proyek tersebut dapat rampung dalam waktu sekitar dua tahun sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan pada energi fosil.
Sementara itu, berdasarkan data Kementerian ESDM per 1 April 2026, impor BBM jenis bensin Indonesia masih didominasi oleh Singapura dengan porsi 64,23%, disusul Malaysia 27,18%, serta Oman dan Uni Emirat Arab dengan kontribusi lebih kecil.
Untuk impor solar, Singapura juga menjadi pemasok utama dengan porsi 58,56%, diikuti Malaysia 36,56% dan Taiwan 4,88%, menunjukkan ketergantungan Indonesia terhadap pasokan energi dari luar negeri masih cukup tinggi.

[…] Baca Juga : Targetkan 2 Tahun, Prabowo Tidak Ingin RI Impor BBM Lagi! […]