Negosiasi Deadlock di Pakistan, Iran Tegas Tolak Kemauan AS
Konflik di kawasan Timur Tengah antara Iran dan Amerika Serikat masih berlanjut, setelah perundingan damai di Pakistan belum menghasilkan kesepakatan. Kegagalan tersebut dipicu oleh dugaan dari pihak Iran, bahwa Amerika Serikat mencari alasan untuk meninggalkan proses negosiasi.
Mengutip laporan Al Jazeera, kantor berita Iran menyatakan bahwa keberhasilan kesepakatan sangat bergantung pada perubahan tuntutan Amerika Serikat yang dinilai tidak realistis oleh Teheran. Salah satu isu utama yang menjadi perdebatan adalah wilayah Selat Hormuz, yang menjadi topik sensitif dalam pembicaraan kedua negara.
Baca Juga : Gencatan Senjata Terancam Gagal, Iran Tutup Selat Hormuz Lagi!
Meski demikian, kedua pihak masih berupaya mencari jalan tengah. Pakistan sebagai mediator terus berusaha menjembatani perbedaan pandangan, dan mendekatkan posisi kedua negara.
Delegasi dari kedua negara sempat menghentikan pembahasan sementara untuk melakukan konsultasi internal dengan tim ahli masing-masing terkait draf kesepakatan yang diajukan. Pembicaraan direncanakan kembali dilanjutkan setelah penyusunan dokumen tersebut selesai.
Sumber yang dekat dengan delegasi Iran juga menyebut, bahwa Amerika Serikat mengajukan tuntutan yang dianggap sulit dipenuhi dalam situasi konflik saat ini. Iran disebut tidak menyetujui sejumlah syarat yang diajukan Washington, termasuk terkait pengaturan Selat Hormuz, program energi nuklir damai, serta isu strategis lainnya.
Wapres AS JD Vance Katakan Ini
Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, menyampaikan bahwa pemerintahannya telah memberikan tawaran yang disebut sebagai proposal terakhir dalam perundingan tersebut. Ia juga mengisyaratkan, bahwa Iran masih memiliki waktu untuk mempertimbangkan tawaran yang diajukan Washington.
Sebelumnya, pemerintah Amerika Serikat diketahui menunda rencana serangan bersama Israel selama dua minggu, untuk memberikan ruang bagi proses negosiasi berlangsung.
“Kami meninggalkan tempat ini dengan proposal yang sangat sederhana, sebuah metode pemahaman yang merupakan penawaran final dan terbaik kami. Kita akan lihat apakah pihak Iran menerimanya,” kata Vance kepada wartawan setelah 21 jam perundingan di Islamabad, dikutip dari AFP, Minggu (12/4/2026).
Vance menjelaskan bahwa isu utama dalam perundingan tersebut berkaitan dengan kepemilikan senjata nuklir. Iran disebut terus menegaskan bahwa mereka tidak memiliki program pembuatan bom atom.
“Fakta sederhananya, kami perlu melihat komitmen tegas bahwa mereka tidak akan mencari senjata nuklir dan tidak akan mencari alat yang memungkinkan mereka cepat mencapainya,” ujarnya.
Namun hingga pembicaraan berakhir, pihak Amerika Serikat mengaku belum melihat adanya komitmen yang dimaksud dari Iran.
“Kami belum melihat itu. Kami berharap kami akan melihatnya,” kata Vance.
Isu Nuklir dan Selat Hormuz Jadi Penghambat Negosiasi
Sebelumnya, Amerika Serikat menyampaikan keputusan untuk menunda serangan militer bersama Israel selama dua minggu sebagai bagian dari upaya membuka peluang diplomasi terakhir, sebelum mengambil langkah lanjutan.
Selain persoalan nuklir, ketegangan juga dipicu oleh pembahasan mengenai Selat Hormuz, jalur laut strategis yang dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dunia. Meski demikian, Vance tidak menjelaskan secara rinci adanya perbedaan besar dalam isu tersebut.
Baca Juga : Rencana Negosiasi Israel-Lebanon Tegas Ditolak Hizbullah!
Ia juga menambahkan, bahwa Presiden Donald Trump dinilai telah menunjukkan sikap terbuka dan fleksibel selama proses negosiasi berlangsung.
“Saya pikir kami cukup fleksibel. Kami cukup akomodatif. Presiden mengatakan kepada kami, kalian harus datang dengan itikad baik dan melakukan upaya terbaik untuk mencapai kesepakatan,” ucap Vance.
“Kami telah melakukannya dan, sayangnya, kami tidak mampu membuat kemajuan.” imbuhnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa hingga saat ini pembicaraan masih menemui hambatan besar, terutama terkait isu nuklir dan keamanan regional yang menjadi fokus utama kedua negara.
