Iran Singgung Selat Malaka, Nasibnya Bisa Seperti Selat Hormuz
Selat Selat Malaka kembali menjadi sorotan global setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran.
Penasihat urusan internasional Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, bahkan menyebut Selat Malaka berpotensi mengalami situasi serupa dengan Selat Hormuz.
“Pada saat ini, bukan hanya keamanan Hormuz dan Malaka yang terjamin di bawah naungan kekuatan kita dan mitra strategis kita, tetapi keamanan Bab el-Mandeb juga berada di tangan saudara-saudara Houthi,” tutur Velayati.
Ia juga mengingatkan bahwa ketegangan di Selat Hormuz dapat memicu efek berantai ke berbagai wilayah dunia.
Baca Juga: Negara Arab Mulai Cemaskan Dampak Konflik AS-Iran saat Negosiasi Buntu
Jalur strategis energi dan perdagangan dunia
Pernyataan tersebut merujuk pada posisi Selat Malaka sebagai salah satu jalur pelayaran paling vital dalam sistem perdagangan dan energi global.
Selat yang memisahkan Pulau Sumatera dan Semenanjung Malaysia ini menjadi salah satu rute laut tersibuk di dunia, menghubungkan perdagangan antara Eropa, Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, hingga Asia Timur.
Pengelolaannya berada di bawah tanggung jawab bersama Indonesia, Malaysia, dan Singapura sesuai Konvensi PBB tentang Hukum Laut.
Melansir The Daily Star, berikut sejumlah alasan Selat Malaka menjadi titik krusial pelayaran global:
1. Volume perdagangan yang besar
Selat Malaka memfasilitasi pergerakan energi dan berbagai komoditas seperti barang manufaktur, elektronik, hingga komponen industri dalam jumlah besar, termasuk aliran minyak global.
2. Jalur penting bagi perekonomian Asia Timur
Selat ini menjadi jalur vital bagi perekonomian Asia Timur, khususnya China yang sangat bergantung pada jalur ini untuk impor energi, kondisi yang dikenal sebagai “Dilema Malaka”.
3. Lokasi Selat Malaka
Dari sisi strategis, Amerika Serikat memandang Selat Malaka sebagai titik penting dalam kalkulasi militer, mengingat lebarnya yang terbatas dapat menjadi potensi hambatan maupun leverage dalam konflik.
4. Tempat berkumpulnya berbagai komoditas perdagangan
Pelabuhan di sepanjang Selat Malaka menjadi pusat perdagangan berbagai komoditas, seperti rempah-rempah, tekstil, porselen, sutra, hingga gaharu.
5. Perubahan arah angin
Letaknya di garis khatulistiwa membuat Selat Malaka memiliki pola angin yang mendukung aktivitas pelayaran sejak berabad-abad lalu, menjadikannya titik pertemuan pedagang dari berbagai kawasan dunia.
Baca Juga: Nasib Gencatan Senjata AS-Iran yang Berakhir DIungkap Trump
Potensi nasib Selat Malaka seperti Selat Hormuz
Meski disebut memiliki potensi terdampak, sejumlah analis menilai Selat Malaka tidak akan mengalami situasi serupa dengan Selat Hormuz.
Direktur South China Sea Strategic Situation Probing Initiative, Hu Bo, menilai perbedaan dinamika geopolitik menjadi faktor utama.
“Dinamika geopolitik di Asia Tenggara berbeda dari yang ada di Hormuz, dan Selat Malaka kemungkinan besar tidak akan menghadapi gangguan seperti yang terjadi di Timur Tengah,” jelas Hu Bo.
Ia menambahkan, negara-negara pesisir di Asia Tenggara memiliki kepentingan bersama dalam menjaga keamanan jalur tersebut.
“Kemungkinan kecil negara-negara pesisir akan mengambil tindakan serupa dengan Iran di sekitar Hormuz,” ujar dia.
Menurut Hu, keberadaan jalur alternatif seperti Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Ombai-Wetar juga menjadi faktor yang membedakan dengan Selat Hormuz.
Meski demikian, ia menilai krisis di Hormuz telah meningkatkan kesadaran global terhadap pentingnya keamanan jalur pelayaran dunia.
“Selat Malaka dan Selat Hormuz sebenarnya tidak bisa dibandingkan, tetapi isu Hormuz telah membuat dunia mulai memikirkan kembali keamanan jalur pelayaran,” pungkas dia.
Baca Juga: Blokade AS Jadi Penghambat Utama Perundingan Damai Gagal
