Negosiasi Buntu, Negara Arab Mulai Cemas Dampak Konflik AS-Iran
Negara-negara Arab di kawasan Teluk semakin menunjukkan kekhawatiran terhadap arah pembicaraan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang dinilai belum memberikan kepastian. Alih-alih meredakan konflik, proses negosiasi tersebut justru dikhawatirkan dapat memperkuat posisi strategis Iran, khususnya terkait kendali di Selat Hormuz.
Sejumlah pejabat dan analis memprediksi bahwa putaran negosiasi selanjutnya akan lebih diarahkan pada pembatasan program pengayaan uranium Iran, serta pengelolaan pengaruh negara tersebut di Selat Hormuz. Fokus ini dinilai berbeda dari isu sebelumnya yang menitikberatkan pada rudal dan jaringan proksi regional yang selama ini dianggap ancaman utama bagi negara-negara Teluk.
Baca Juga : Iran Klaim Stok Rudalnya Melebihi Sebelum Perang!
Sumber dari kawasan Teluk menilai perubahan arah pembahasan tersebut berpotensi menimbulkan risiko baru. Mereka menilai pendekatan yang hanya mengatur pengaruh Iran tanpa benar-benar menguranginya dapat dilakukan demi menjaga stabilitas ekonomi global.
“Pada akhirnya, Hormuz akan menjadi garis merah. Itu bukan isu sebelumnya, tapi sekarang menjadi prioritas. Targetnya telah berubah,” ujar seorang sumber yang dekat dengan lingkaran pemerintah Teluk, seperti dikutip Reuters, Selasa (21/4/2026).
Kekhawatiran negara Teluk semakin meningkat setelah Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia, Dmitry Medvedev, menyebut Selat Hormuz sebagai alat strategis utama Iran dalam dinamika geopolitik global.
“Tidak jelas bagaimana gencatan senjata antara Washington dan Teheran akan berjalan. Tetapi satu hal yang pasti: Iran telah menguji ‘senjata nuklirnya’. Itu adalah Selat Hormuz. Potensinya tak terbatas,” tulisnya.
Dari sudut pandang Iran, pandangan tersebut dianggap sejalan dengan strategi nasional mereka. Seorang sumber keamanan senior Iran menyebut Selat Hormuz sebagai aset penting yang telah lama dipersiapkan sebagai sarana pencegah dalam menghadapi tekanan eksternal.
“Iran telah mempersiapkan diri selama bertahun-tahun untuk skenario penutupan Selat Hormuz. Ini adalah salah satu alat paling efektif, pengaruh geografis yang menjadi pencegah kuat,” ujarnya.
Sumber lain yang memiliki kedekatan dengan Garda Revolusi Iran bahkan menyebut bahwa penggunaan Selat Hormuz yang sebelumnya dianggap tabu kini telah menjadi bagian dari strategi nyata dalam proses negosiasi internasional.
Negara Teluk Khawatir Ancaman Rudal dan Proksi Terabaikan
Meski Selat Hormuz menjadi perhatian utama dalam negosiasi, negara-negara Teluk menilai fokus berlebihan pada jalur pelayaran tersebut justru mengesampingkan ancaman lain yang dinilai lebih mendesak, seperti serangan rudal dan aktivitas kelompok proksi Iran di kawasan.
Presiden Emirates Policy Center, Ebtesam Al-Ketbi, menilai kondisi saat ini bukan merupakan upaya nyata untuk menyelesaikan konflik, melainkan lebih kepada pengelolaan ketegangan yang berlangsung secara berkelanjutan.
“Apa yang terjadi saat ini bukan penyelesaian bersejarah, tetapi rekayasa konflik berkelanjutan,” ujarnya. “Siapa yang menanggung dampak rudal dan proksi? Negara-negara Teluk. Tapi isu itu justru diabaikan.”
Sejumlah analis juga memperingatkan bahwa pendekatan tersebut berpotensi menciptakan stabilitas semu yang mungkin menguntungkan Amerika Serikat dan Iran, tetapi meninggalkan negara-negara Teluk dalam kondisi ketidakpastian keamanan.
Baca Juga : Trump Bicara soal Nasib Gencatan Senjata AS-Iran yang Berakhir Besok
Sejak konflik meningkat pada 28 Februari 2026, negara-negara Teluk telah mengalami dampak ekonomi signifikan. Kerugian tersebut mencakup serangan terhadap infrastruktur energi, meningkatnya biaya ekspor, hingga lonjakan premi asuransi pengiriman.
Upaya menggunakan jalur distribusi alternatif juga dinilai lebih mahal dan tetap memiliki risiko keamanan yang sama.
Para diplomat dari negara Teluk saat ini mendorong pemerintah Amerika Serikat agar tidak terburu-buru mencabut sanksi terhadap Iran. Mereka menginginkan penerapan kebijakan bertahap guna memastikan komitmen Iran, khususnya terkait program rudal dan jaringan proksi di kawasan.

[…] Negosiasi Buntu, Negara Arab Mulai Cemas Dampak Konflik AS-Iran […]