Rusia Jadi Tempat “Curhat”, Menlu Iran Ungkap Nasib Nego dengan AS
Ketegangan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memanas, setelah Teheran secara terbuka menuding Washington sebagai penyebab gagalnya putaran perundingan terakhir. Situasi ini terjadi di tengah dampak konflik yang terus mempengaruhi stabilitas ekonomi global.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan kritik tersebut saat tiba di Saint Petersburg, Rusia, sebagai bagian dari rangkaian kunjungan diplomatik yang juga mencakup Oman dan Pakistan. Kedua negara tersebut sebelumnya berperan sebagai mediator penting dalam upaya perundingan antara kedua pihak.
Baca Juga : Iran Sampaikan Tawaran Gencatan Senjata Baru ke AS Melalui Pakistan
Dalam keterangannya, Araghchi menilai pendekatan Amerika Serikat menjadi penyebab utama kegagalan dialog, meski sebelumnya sempat menunjukkan perkembangan positif.
“Pendekatan AS menyebabkan putaran negosiasi sebelumnya, meskipun ada kemajuan, gagal mencapai tujuannya karena tuntutan yang berlebihan,” kata Araghchi, dilansir AFP, Senin (27/4/2026).
Harapan Negosiasi Pupus Usai Trump Batalkan Kunjungan Utusan
Pakistan sebelumnya menjadi tuan rumah satu-satunya pertemuan langsung antara Washington dan Teheran yang berakhir tanpa kesepakatan. Harapan sempat muncul kembali saat Araghchi berkunjung ke Islamabad.
Namun, peluang tersebut kembali hilang, setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana perjalanan utusannya, Steve Witkoff dan Jared Kushner, ke Pakistan.
Trump menegaskan bahwa pembatalan tersebut tidak dimaksudkan sebagai eskalasi konflik, tetapi tetap menunjukkan sikap tegas terhadap Iran.
“Mereka bisa datang kepada kami, atau mereka bisa menelepon kami,” kata Trump kepada Fox News.
Baca Juga : 9 Fakta Insiden Penembakan AS yang Paksa Trump Dievakuasi
Di tengah kebuntuan diplomasi resmi, jalur komunikasi tidak langsung dilaporkan masih berjalan. Kantor berita Fars menyebut Iran telah mengirimkan “pesan tertulis” kepada Amerika Serikat melalui Pakistan, yang berisi sejumlah garis merah Teheran, termasuk terkait isu nuklir dan Selat Hormuz.
Meski demikian, laporan tersebut menegaskan bahwa komunikasi tidak langsung itu bukan bagian dari negosiasi resmi.
Media Amerika Serikat Axios melaporkan, bahwa Iran telah mengajukan proposal baru untuk menghentikan konflik.
Usulan tersebut menitikberatkan pada pembukaan kembali Selat Hormuz serta penghentian blokade laut oleh AS, sementara pembahasan terkait nuklir akan dibahas pada tahap berikutnya. Kantor berita IRNA mengutip laporan tersebut tanpa memberikan bantahan.
Walaupun gencatan senjata antara Iran dan koalisi AS-Israel masih berlangsung hingga saat ini, dampaknya terhadap ekonomi global tetap terasa.
Iran diketahui menutup akses Selat Hormuz, jalur strategis yang menjadi rute utama distribusi minyak, gas, dan pupuk dunia. Penutupan ini memicu kenaikan harga energi global dan meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi krisis pangan, terutama di negara berkembang.
Sebagai tanggapan, Amerika Serikat memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran, baik yang berada di kawasan selat maupun di luar wilayah tersebut.
Isu Selat Hormuz juga menjadi fokus dalam pertemuan Araghchi di Oman, negara yang memiliki wilayah pesisir langsung di jalur strategis tersebut.
“Lalu lintas yang aman melalui Selat Hormuz adalah isu global yang penting. Secara alami, sebagai dua negara pesisir selat ini, kita harus berbicara satu sama lain agar kepentingan bersama kita terjamin,” ujar Araghchi.
Media pemerintah Iran dan Rusia juga mengonfirmasi bahwa Araghchi dijadwalkan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin, menandakan langkah Teheran memperkuat koordinasi dengan sekutunya di tengah kebuntuan dengan negara Barat.
Baca Juga : Purbaya Bantah Isu Kas Negara Sisa Rp 120 Triliun!
Tekanan Politik di AS dan Lonjakan Harga Minyak Dunia
Di sisi lain, Garda Revolusi Iran menegaskan bahwa tidak ada rencana untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat. Penguasaan atas jalur tersebut disebut sebagai bagian penting dari strategi pertahanan nasional Iran.
Di Amerika Serikat sendiri, Presiden Trump menghadapi tekanan politik akibat kenaikan harga bahan bakar yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz. Dengan pemilu paruh waktu yang semakin dekat, survei menunjukkan konflik dengan Iran tidak mendapat dukungan luas dari masyarakat.
Harga minyak global pada awal pekan ini kembali menunjukkan tren kenaikan. Namun, optimisme bahwa kesepakatan masih mungkin dicapai membuat lonjakan harga tidak berlangsung secara ekstrem.

[…] Rusia Jadi Tempat “Curhat”, Menlu Iran Ungkap Nasib Nego dengan AS […]