Ketegangan Timur Tengah Naik, UEA Kritik Sekutu yang Dianggap Terlalu Lunak ke Iran
Uni Emirat Arab (UEA) melontarkan kritik keras terhadap respons negara-negara sekutunya di kawasan Teluk menyusul meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Kritik tersebut disampaikan oleh penasihat kepresidenan UEA, Anwar Gargash, yang menilai sikap kolektif kawasan tidak cukup kuat dalam menghadapi ancaman yang ada.
Pernyataan itu disampaikan dalam sebuah konferensi di Dubai pada Senin (26/2/2026), di tengah situasi keamanan regional yang terus memburuk akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Baca Juga: Perundingan Damai Lebanon-Israel Tak Punya Manfaat, Ungkap Hizbullah
UEA Soroti Lemahnya Respons GCC
Gargash secara khusus menyoroti kinerja Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) yang beranggotakan Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan UEA.
Ia menilai respons politik dan militer dari negara-negara anggota tidak mencerminkan tingkat ancaman yang dihadapi kawasan.
“Sikap GCC adalah yang terlemah secara historis, mengingat sifat serangan dan ancaman yang ditimbulkannya terhadap semua orang,” ungkap Gargash.
Ia bahkan membandingkan sikap tersebut dengan organisasi regional lain seperti Liga Arab, yang menurutnya memang kerap menunjukkan respons serupa.
“Saya memperkirakan sikap lemah seperti itu dari Liga Arab. Namun, saya tidak mengharapkannya dari GCC, dan saya terkejut karenanya,” tambah dia.
Baca Juga: Banyak Kapal Tanker Iran di Selat Hormuz, Tanda Blokade AS Sukses?
Ketegangan Kawasan dan Evaluasi Kebijakan
Krisis di Timur Tengah memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada akhir Februari, yang kemudian dibalas Teheran dengan ratusan rudal dan drone ke wilayah negara-negara Teluk.
Dari seluruh anggota GCC, UEA disebut menjadi salah satu negara yang paling terdampak serangan balasan tersebut, sehingga mendorong sikap yang lebih keras terhadap Iran dibandingkan negara tetangganya.
Gargash menilai, selama ini negara-negara Teluk telah mencoba berbagai pendekatan untuk menjaga stabilitas hubungan dengan Iran, mulai dari diplomasi, kerja sama energi, hingga kemitraan strategis.
Namun, ia menegaskan bahwa strategi tersebut kini tidak lagi efektif.
“Kebijakan-kebijakan ini telah gagal total, dan sekarang kita menghadapi penilaian ulang besar-besaran,” tutur Gargash.
Pernyataan ini mencerminkan meningkatnya tekanan di kawasan Teluk, sekaligus membuka kemungkinan perubahan strategi keamanan regional di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda mereda.
