Senator Rusia Sentil AS, Perang Iran Tak Semudah Venezuela
Senator senior Rusia, Alexey Pushkov, menyoroti strategi militer Amerika Serikat dalam konflik melawan Iran, yang menurutnya menunjukkan tanda-tanda ketidaksiapan.
Pushkov menyebut Washington telah keliru dalam menilai efektivitas kekuatan militernya. Ia menilai Amerika Serikat terlalu percaya, bahwa penggunaan kekuatan militer dapat menghasilkan kemenangan dalam waktu singkat.
Dalam wawancara dengan kantor berita TASS pada Senin (27/4/2026), ia menegaskan bahwa pendekatan militer Amerika didasarkan pada keyakinan yang salah, bahwa operasi militer cepat mampu memaksa negara lain mengikuti kehendaknya.
Baca Juga : Mantan PM Bersatu Lengserkan Netanyahu, Kenapa?
Ia menilai bahwa pendekatan AS mungkin dipengaruhi oleh pengalamannya di Venezuela, dan Trump tampaknya memutuskan bahwa hal serupa dapat dilakukan di Iran.
“Penculikan [Presiden Venezuela Nicolas] Maduro dan reaksi yang sangat lemah dari rakyat Venezuela, yang memilih untuk menerima syarat-syarat Amerika untuk mengendalikan ekspor minyak Venezuela, meyakinkan dia [Presiden AS Donald Trump] bahwa operasi militer yang tepat sasaran adalah alat yang baik untuk memaksa rezim asing berperilaku sesuai keinginan Amerika,” kata senator tersebut.
Iran Dinilai Telah Lama Bersiap Hadapi Konflik
Pushkov menambahkan bahwa Iran justru berada dalam posisi lebih siap menghadapi konflik bersenjata. Ia menyebut negara tersebut telah memindahkan sebagian besar fasilitas rudalnya ke lokasi bawah tanah untuk menghindari serangan langsung.
“Iran telah memindahkan hampir semua fasilitas rudal mereka ke bawah tanah, di mana sangat sulit untuk dijangkau,” katanya.
Menurutnya, Iran juga telah membangun kekuatan militer yang signifikan, termasuk ribuan rudal dan drone yang disiapkan selama bertahun-tahun. Ia menilai persiapan tersebut dilakukan secara menyeluruh, baik dari sisi ekonomi maupun strategi pertahanan.
“Dan mereka telah mengerjakan semua ini untuk waktu yang lama, mempersiapkan diri baik secara ekonomi maupun, bisa dibilang, secara eksistensial,” katanya.
Pernyataan tersebut sejalan dengan laporan yang menyebut Iran telah mengembangkan kemampuan rudal dan drone dalam jumlah besar, serta memindahkan fasilitas penting ke bawah tanah untuk memperkuat pertahanan militernya.
Serangan Iran Disebut Sebabkan Kerusakan Signifikan
Di sisi lain, laporan terbaru mengungkap bahwa konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026 dan berlangsung hampir 40 hari telah menimbulkan kerugian besar bagi Amerika Serikat.
Meskipun pemerintah AS berupaya meredam dampak konflik, sejumlah informasi menunjukkan bahwa serangan rudal Iran menyebabkan kerusakan cukup luas pada beberapa pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Baca Juga : UEA Kritik Sekutu yang Terlalu Lunak ke Iran, Konflik Memanas!
Sejumlah pejabat Amerika, termasuk Menteri Pertahanan, sebelumnya mengklaim bahwa sistem pertahanan udara mampu menahan serangan rudal Iran. Namun laporan media internasional menyebut lebih dari 100 titik di pangkalan militer AS di kawasan Teluk menjadi target serangan selama konflik berlangsung.
Konflik tersebut juga dilaporkan menguras persediaan amunisi militer AS dalam jumlah besar. Estimasi dari laporan media internasional menyebut biaya operasi militer dalam perang tersebut mencapai sekitar USD35 miliar.
