Iran Memanas? Kekuatan Mojtaba Khamenei Disebut Mulai Dilucuti IRGC
Struktur kekuasaan di Iran dilaporkan mengalami perubahan signifikan di tengah konflik dengan Amerika Serikat dan Israel, dengan meningkatnya peran militer dalam pengambilan keputusan strategis negara.
Mengutip laporan Reuters, perubahan ini terjadi setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei yang selama ini menjadi figur sentral dalam sistem kekuasaan Iran.
Meski posisi Pemimpin Tertinggi kini dipegang oleh Mojtaba Khamenei, sejumlah sumber menyebut perannya lebih bersifat simbolis, yakni memberikan legitimasi atas keputusan yang telah dirumuskan oleh jajaran militer, khususnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Baca Juga: Israel Makin Panas, Mantan PBM Bersatu Hendak Lengserkan Netanyahu
Kondisi Mojtaba yang disebut mengalami luka parah akibat serangan udara juga dinilai membatasi perannya dalam pengambilan keputusan langsung.
“Warga Iran sangat lambat dalam merespons. Tampaknya tidak ada satu struktur komando pengambilan keputusan yang tunggal. Terkadang, mereka membutuhkan waktu 2 hingga 3 hari hanya untuk merespons,” ujar seorang pejabat senior Pakistan yang terlibat dalam mediasi damai, Rabu (29/4/2026).
Dominasi IRGC dalam Keputusan Strategis
Situasi perang mendorong konsolidasi kekuasaan di tangan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) dan para komandan militer di lapangan.
Nama Ahmad Vahidi disebut sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh yang mengatur strategi militer sekaligus arah negosiasi gencatan senjata.
Para analis menilai peran Mojtaba Khamenei kini lebih berfungsi menjaga stabilitas institusional, sementara kendali nyata berada di tangan aktor keamanan.
“Penting untuk dicatat bahwa kesepakatan-kesepakatan besar mungkin melewati dia, tetapi saya tidak bisa membayangkan dia berani membatalkan keputusan Dewan Keamanan Nasional. Bagaimana dia bisa menentang pihak-pihak yang menjalankan upaya perang?” kata analis Iran, Arash Azizi.
Baca Juga: Sebanyak 22 Ton Emas Dijual Rusia Tahun Ini, Demi Tutup Beban Perang
Negosiasi Buntu di Tengah Pergeseran Kekuasaan
Di sisi lain, upaya diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat masih menemui kebuntuan.
Iran sebelumnya mengajukan proposal baru dengan memisahkan isu nuklir dari penyelesaian konflik di kawasan Teluk, namun Amerika Serikat tetap bersikeras agar isu nuklir dibahas sejak awal perundingan.
Para pengamat melihat kondisi ini sebagai dampak dari dominasi militer yang membuat Iran cenderung lebih keras dalam posisi negosiasi.
Mantan negosiator AS, Aaron David Miller, menyebut perubahan ini sebagai pergeseran mendasar dalam sistem pemerintahan Iran.
“Kita telah beralih dari kekuasaan ilahi ke kekuasaan keras. Dari pengaruh ulama ke pengaruh Korps Garda Revolusi. Inilah cara Iran diperintah sekarang,” ujar David.
Hingga kini, Kementerian Luar Negeri Iran belum memberikan pernyataan resmi terkait laporan tersebut, meski sebelumnya pemerintah Iran kerap membantah adanya perpecahan internal di tengah tekanan geopolitik.
