Trump Instruksikan AS Bersiap Hadapi Blokade Iran Lebih Lama
Presiden Donald Trump menginstruksikan jajarannya untuk bersiap menghadapi kemungkinan blokade berkepanjangan terhadap Iran.
Kebijakan ini dipilih sebagai strategi untuk menekan cadangan devisa Teheran hingga bersedia menghentikan program nuklirnya, dan menyerahkan uranium yang telah diperkaya.
Dikutip dari The Wall Street Journal, Selasa (28/4/2026), dalam sejumlah pertemuan terakhir, Trump memutuskan untuk terus menekan perekonomian Iran dengan membatasi arus logistik dari dan menuju pelabuhan utama negara tersebut. Ia menilai langkah ini memiliki risiko lebih kecil dibandingkan opsi eskalasi militer langsung.
Baca Juga : Setoran Negara Bisa Bertambah Rp 752 Miliar, Jika Pejabat Dikenakan Pajak!
Dampak Ekonomi Global dari Blokade
Meski dianggap lebih aman dari sisi militer, kebijakan blokade tanpa batas waktu membawa konsekuensi ekonomi yang signifikan. Harga gas global mengalami kenaikan, sementara aktivitas pelayaran di Selat Hormuz turun ke level terendah sejak konflik dimulai.
Setelah menghentikan kampanye pengeboman besar-besaran dalam gencatan senjata pada 8 April 2026, Trump sempat membuka peluang diplomasi. Namun, ia tetap berupaya mempertahankan tekanan ekonomi terhadap Iran hingga tuntutan utamanya yaitu, penghentian total program nuklir dipenuhi.
Dilema Militer dan Risiko Resesi
Seorang pejabat senior AS menyebutkan, bahwa strategi blokade telah memberikan tekanan besar terhadap ekonomi Iran dan mendorong pendekatan baru dari Teheran. Namun, sejumlah analis menilai kebijakan ini menyimpan risiko serius terhadap stabilitas global.
“Iran memperhitungkan bahwa kemampuan mereka untuk bertahan melampaui kepentingan AS dalam mencegah krisis energi dan resesi global,” ujar Suzanne Maloney.
Sementara itu, juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menegaskan bahwa Amerika Serikat telah mencapai tujuan militernya dan kini berada dalam posisi kuat dalam negosiasi nuklir.
Di sisi lain, sejumlah tokoh politik seperti Lindsey Graham mendorong agar tekanan terhadap Iran terus ditingkatkan. Namun, pelaku bisnis dan sebagian pihak di lingkaran dekat presiden mengkhawatirkan dampak ekonomi, terutama jika konflik meluas atau menyebabkan penutupan total Selat Hormuz.
Trump Tetap Kukuh pada Tuntutan Nuklir
Hingga kini, Trump disebut belum bersedia melonggarkan tuntutan agar Iran menghentikan pengayaan uranium selama 20 tahun, serta menerima pembatasan lanjutan setelahnya.
“Saya tidak heran dia belum menerima kesepakatan itu karena kesepakatan itu sama sekali tidak membahas masalah nuklir,” kata Eric Brewer.
“Mengapa Anda menerima kesepakatan Iran sementara Anda masih menunggu untuk melihat apakah Anda dapat menyebabkan masalah ekonomi serius bagi Iran melalui taruhan blokade ini?” lanjutnya.
Ketegangan dan Sikap Iran
Pihak Iran menyatakan masih membutuhkan waktu untuk berkonsultasi dengan pemimpin tertinggi, sebelum mengajukan proposal baru dalam negosiasi dengan AS. Namun, para mediator menilai peluang terobosan dalam waktu dekat masih kecil.
Baca Juga : Trump Terancam Digugat Demokrat karena Perang Iran, Kok Bisa?
Menurut Nico Lange, kedua pihak saat ini sama-sama meyakini bahwa waktu berpihak pada mereka.
“Kedua belah pihak tampaknya percaya, mereka telah memperhitungkan hal ini dengan benar dan bahwa waktu berpihak kepada mereka,” kata Lange.
Seiring meningkatnya tekanan blokade, Iran diperkirakan dapat mengambil langkah balasan, mulai dari mengganggu produksi energi regional hingga menargetkan aset militer AS di kawasan. Situasi ini membuka kemungkinan eskalasi konflik jika tidak segera ditemukan titik temu dalam negosiasi.
