Putin Peringatkan Trump soal Iran, Sebut Risiko Konflik Bisa Picu Dampak Global
Presiden Rusia Vladimir Putin menyampaikan peringatan keras kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait potensi eskalasi konflik di Iran, di tengah kondisi gencatan senjata yang masih rapuh.
Peringatan tersebut disampaikan Kremlin setelah adanya komunikasi langsung antara kedua pemimpin melalui sambungan telepon, yang membahas risiko jika pertempuran kembali pecah.
Putin Ingatkan Risiko Konflik Baru di Iran
Penasihat kebijakan luar negeri Kremlin Yuri Ushakov mengungkapkan bahwa Putin menilai dimulainya kembali konflik bersenjata akan membawa dampak serius bagi stabilitas global.
“Putin mengatakan kepada Trump bahwa permusuhan yang diperbarui akan menjadi ‘berbahaya dan tidak dapat diterima’, terutama operasi darat apa pun di wilayah Iran,” kata Ushakov kepada kantor berita negara Rusia, TASS, dikutip Kamis (30/4/2026).
Peringatan ini muncul setelah Amerika Serikat menolak proposal Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, sehingga blokade laut tetap diberlakukan.
Meski demikian, Putin disebut mendukung perpanjangan gencatan senjata sebagai peluang untuk melanjutkan jalur diplomasi.
Di sisi lain, Trump mengungkapkan bahwa Putin sempat menawarkan bantuan terkait isu pengayaan uranium Iran, namun ia justru mengarahkan Rusia untuk fokus pada konflik lain.
“Saya katakan kepada Putin, ‘Saya jauh lebih suka Anda terlibat dalam mengakhiri perang dengan Ukraina’,” ujar Trump kepada wartawan di Oval Office.
Baca Juga: Perang Iran Disorot, Menhan AS Disidang Kongres
Tekanan Politik dan Biaya Perang Kian Membesar
Di dalam negeri AS, konflik Iran juga memicu tekanan politik, terutama terkait membengkaknya anggaran militer.
Biaya perang dilaporkan telah mencapai sekitar US$ 25 miliar atau setara Rp 431 triliun, memicu kritik dari anggota Kongres terhadap efektivitas operasi militer tersebut.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth membela kebijakan tersebut dengan mengklaim keberhasilan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran.
“Fasilitas nuklir Iran telah ‘dilenyapkan’,” klaim Hegseth dalam dengar pendapat dengan Komite Angkatan Bersenjata DPR.
Namun, pernyataan itu justru memicu perdebatan di tengah rencana anggaran pertahanan AS tahun 2027 yang mencapai US$ 1,5 triliun.
Menanggapi kritik dari parlemen, Hegseth melontarkan pernyataan keras.
“Tantangan terbesar, musuh terbesar yang kita hadapi saat ini adalah kata-kata sembrono, lemah, dan berjiwa kalah dari Demokrat di Kongres dan beberapa Republikan,” tegasnya.
Hingga kini, Amerika Serikat dan Iran masih berada dalam kebuntuan diplomatik, dengan Washington tetap bersikeras menekan program nuklir Teheran, sementara Iran menolak menyerah di tengah tekanan blokade ekonomi.
Baca Juga: Biaya Perang Iran Sentuh Ro431 Triliun, Anggaran Militer AS Tertekan
