RI Bangun 2 Kilang, Produksi BBM Berpotensi Naik 2 Juta KL
Presiden RI, Prabowo Subianto, bersama Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, meresmikan dimulainya pembangunan (groundbreaking) 13 proyek hilirisasi nasional tahap II. Peresmian ini berlangsung di Cilacap, Jawa Tengah, dan menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperkuat struktur ekonomi nasional.
Dalam sambutannya, Prabowo menekankan bahwa hilirisasi menjadi kunci transformasi ekonomi Indonesia menuju sektor industri bernilai tambah tinggi yang lebih tahan terhadap tekanan global.
“Tadi sudah disebut hilirisasi tahap pertama ada 13 proyek di 13 lokasi dan beberapa saat ini tahun ini juga kita akan tambah hilirisasi 6 lagi proyek, dan terus menerus akan kita tambah. mungkin ada tahap ke 4, 5, 6, Insya Allah tahun ini juga,” terang Prabowo dalam peresmian di Cilacap, Jawa Tengah, dikutip Kamis (30/4/2026).
Ia juga menegaskan bahwa pengolahan sumber daya alam di dalam negeri merupakan satu-satunya jalan untuk meningkatkan kemakmuran nasional.
“Hilirisasi adalah jalan satu-satunya untuk kita bisa lebih makmur,” terang Prabowo.
Baca Juga : Trump Terpancing Amarah, Tidak Terima Jerman Sebut AS Dipermalukan Iran
Proyek Kilang Bensin Jadi Andalan
Dari total proyek yang diresmikan, dua di antaranya merupakan pembangunan fasilitas kilang bensin yang dikelola oleh PT Pertamina (Persero) di Dumai (Riau) dan Cilacap (Jawa Tengah).
Pengembangan dilakukan pada kilang RU II Dumai dan RU IV Cilacap dengan kapasitas total mencapai 62 MBSD, yang ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal IV 2030.
“Proyek ini mensubstitusi impor gasoline hingga 2 juta KL per tahun atau 9,47% gap supply-demand nasional, mendukung pemenuhan Pertamax Series dari produksi domestik, serta menurunkan impor produk sampingan termasuk propylene dan LPG,” tulis Danantara dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (30/4/2026).
Dorong Ketahanan Energi dan Industri Nasional
Program hilirisasi tahap II mencakup berbagai sektor strategis seperti energi, mineral, logam, material konstruksi, hingga agroindustri. Inisiatif ini diarahkan untuk mengurangi ketergantungan impor, memperkuat rantai pasok dalam negeri, serta meningkatkan nilai tambah sumber daya alam.
“Hilirisasi merupakan instrumen strategis dalam mendorong penciptaan nilai tambah di dalam negeri melalui pengolahan dan industrialisasi sumber daya alam,” tambah Danantara.
Selain itu, hilirisasi juga dinilai mampu memperkuat kemandirian ekonomi nasional dengan mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global yang rentan terhadap dinamika geopolitik.
Daftar 13 Proyek Hilirisasi Tahap II
Berikut rincian proyek yang diresmikan beserta pengelolanya:
Proyek 1–2: Kilang Gasoline
- Lokasi: Dumai (Riau) dan Cilacap (Jawa Tengah)
- Pengelola: Pertamina
- Kapasitas: 62 MBSD
- Target operasi: Q4 2030
Proyek 3–5: Tangki Operasional BBM
- Lokasi: Palaran, Biak, Maumere
- Kapasitas tambahan: 153 ribu KL
- Target operasi: 2027–2028
Proyek 6: DME dari Batu Bara
- Lokasi: Tanjung Enim
- Kapasitas: 1,4 juta ton/tahun
- Substitusi impor LPG
Proyek 7: Baja Nirkarat
- Lokasi: Morowali
- Kapasitas: 1,2 juta ton/tahun
Proyek 8: Baja Karbon
- Lokasi: Cilegon
- Kapasitas: 1,5 juta ton/tahun
Proyek 9: Aspal Buton
- Lokasi: Karawang
- Target produksi: 300 ribu ton (2030)
Proyek 10: Hilirisasi Tembaga & Emas
- Lokasi: Gresik
- Fokus: manufaktur logam mulia
Proyek 11: Oleofood & Biodiesel Sawit
- Lokasi: Sei Mangkei
Proyek 12: Oleoresin Pala
- Lokasi: Maluku Tengah
Proyek 13: Fasilitas Kelapa Terpadu
- Lokasi: Maluku Tengah
- Produk: MCT, coconut flour, activated carbon
Baca Juga : IRGC Dominasi, Iran Memasuki Era Baru?
