Trump Umumkan Damai dengan Iran, Selat Hormuz Dibuka Kembali
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan tercapainya kesepakatan damai dengan Iran yang mengakhiri konflik yang berlangsung hampir empat bulan.
Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, Trump menyatakan Amerika Serikat akan mencabut blokade laut terhadap pelabuhan Iran dan membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran internasional.
Pengumuman itu disampaikan Trump melalui platform Truth Social pada Minggu (14/6/2026) malam.
“Kesepakatan dengan Republik Islam Iran kini telah selesai. Selamat kepada semuanya!” tulis Trump, seperti dikutip The Telegraph.
Trump juga menyatakan akses pelayaran di Selat Hormuz akan dibuka tanpa biaya dan pembatasan.
“Saya dengan ini sepenuhnya mengizinkan pembukaan gratis tanpa tarif di Selat Hormuz, dan secara bersamaan mengizinkan penghapusan segera blokade laut Amerika Serikat. Kapal-kapal dunia, nyalakan mesin kalian. Biarkan minyak kembali mengalir!” ujarnya.
Selat Hormuz Kembali Dibuka
Trump mengatakan pembukaan kembali Selat Hormuz dilakukan setelah kesepakatan damai dengan Iran tercapai dan proses pembersihan ranjau laut selesai dilaksanakan.
Selama konflik berlangsung, jalur pelayaran strategis tersebut mengalami gangguan yang berdampak besar terhadap pasokan energi global.
Ratusan kapal dilaporkan sempat tertahan di kedua sisi Selat Hormuz sehingga menghambat distribusi minyak dan mendorong kenaikan harga energi dunia.
Setelah kabar kesepakatan damai muncul, harga minyak langsung bergerak turun.
Harga minyak Brent tercatat turun lebih dari 3 persen hingga berada di bawah 84 dollar AS per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 81 dollar AS per barel.
Trump menegaskan bahwa penghentian blokade terhadap pelabuhan Iran juga menjadi bagian dari kesepakatan yang telah dicapai kedua negara.
Baca Juga: Pendiri Hamas Dibebaskan Israel usai 2 Tahun Ditahan
Iran Konfirmasi Kesepakatan
Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) turut mengonfirmasi bahwa Teheran telah menyetujui rumusan akhir nota kesepahaman dengan Amerika Serikat.
Kesepakatan tersebut dijadwalkan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat mendatang.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga menyatakan kesepakatan telah tercapai dan upacara penandatanganan akan digelar di negara tersebut.
Meski demikian, sejumlah isu penting masih menunggu penyelesaian, termasuk terkait program nuklir Iran dan cadangan uranium yang telah diperkaya.
Iran menegaskan bahwa pembahasan mengenai kesepakatan final baru akan dilanjutkan setelah pihak lain memenuhi komitmen yang telah disepakati.
“Negosiasi untuk kesepakatan akhir akan ditunda sampai pihak lain memenuhi komitmennya sesuai dengan nota kesepahaman,” demikian pernyataan Iran.
Negosiasi Nuklir Masih Berlanjut
Wakil Menteri Luar Negeri Iran mengatakan penandatanganan nota kesepahaman akan menjadi awal dari periode negosiasi selama 60 hari.
Perundingan tersebut akan membahas program nuklir Iran, pengurangan sanksi ekonomi, serta proses rekonstruksi pascakonflik.
Ia menegaskan bahwa kesepakatan yang dicapai tidak berarti Iran menaruh kepercayaan penuh kepada Amerika Serikat.
Menurut media pemerintah Iran, kesepakatan tersebut juga menjadi penanda berakhirnya perang yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
“Iran secara resmi memaksa musuh AS-Israel untuk mengakhiri perang di semua front,” demikian pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah Iran.
Kesepakatan damai itu disebut mencakup penghentian serangan antara kedua pihak. Sebagai imbalannya, Iran diperkirakan akan memperoleh pelonggaran sejumlah sanksi, terutama yang berkaitan dengan ekspor minyak.
Baca Juga: Hormuz Segera Dibuka, AS dan Iran Sepakat Akhiri Perang
Trump Hadapi Tekanan Politik Dalam Negeri
Keputusan Trump untuk mengakhiri konflik juga disebut tidak lepas dari tekanan politik di dalam negeri Amerika Serikat.
Sejumlah kelompok pendukung inti Trump, termasuk sebagian basis Make America Great Again (MAGA), mendorong pemerintah agar segera mengakhiri perang dengan Iran.
Selat Hormuz sendiri memiliki peran vital dalam perdagangan energi global. Dalam kondisi normal, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melintasi jalur yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab tersebut.
Karena itu, gangguan yang terjadi selama konflik berlangsung sempat menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dan ekonomi global.
