AS Tunda Penjualan Senjata ke Taiwan demi Pastikan Stok Perang Lawan Iran
Militer Amerika Serikat mengakui telah menghentikan sementara penjualan senjata ke Taiwan guna memastikan kecukupan amunisi Washington di tengah meningkatnya tensi perang melawan Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Sekretaris Angkatan Laut AS Hung Cao dalam sidang Kongres terkait pembelian senjata Taiwan senilai 14 miliar dollar AS atau sekitar Rp247 triliun yang kini tertunda.
“Saat ini kami sedang melakukan jeda untuk memastikan kami memiliki amunisi yang kami butuhkan untuk Operasi Epic Fury yang kami miliki banyak,” katanya, dikutip AFP, Jumat (22/5/2026).
“Tetapi, kami hanya memastikan kami memiliki semuanya, kemudian penjualan militer ke luar negeri akan dilanjutkan ketika pemerintah menganggap perlu,” ujarnya.
Hingga kini, Pentagon maupun Departemen Luar Negeri AS belum memberikan tanggapan resmi terkait pernyataan tersebut.
Presiden AS Donald Trump juga belum memastikan kelanjutan paket penjualan senjata untuk Taiwan, sehingga memicu kekhawatiran mengenai komitmen Washington terhadap pulau yang diklaim China tersebut.
Baca Juga: Soroti Dominasi Global dan Sistem Rudal, Xi Jinping dan Putin Kompak Kritik AS
Trump ubah arah soal Taiwan
Menjelang kunjungan kenegaraannya ke China, Trump sempat mengatakan akan membahas isu penjualan senjata Taiwan dengan Presiden China Xi Jinping.
Pernyataan itu dinilai berbeda dari sikap lama Washington yang menolak berkonsultasi dengan Beijing terkait dukungan militer kepada Taiwan.
Setelah pertemuan tersebut, Trump mengatakan dirinya belum memberikan komitmen apa pun kepada Xi mengenai Taiwan dan akan mengambil keputusan dalam waktu dekat.
“Saya tidak ingin ada yang merdeka. Dan, Anda tahu, kita seharusnya menempuh jarak 9.500 mil untuk berperang. Saya tidak menginginkan itu. Saya ingin mereka tenang. Saya ingin China tenang,” kata Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Trump juga memperingatkan Taiwan agar tidak mendeklarasikan kemerdekaan secara formal.
Meski AS memiliki hubungan diplomatik resmi dengan China sejak 1979, Washington tetap mempertahankan hak menjual senjata ke Taiwan melalui Taiwan Relations Act.
Pemerintahan Trump sebelumnya menyetujui paket penjualan senjata terbesar untuk Taiwan senilai 11 miliar dollar AS pada Desember 2025.
Selain itu, terdapat paket kedua senilai sekitar 14 miliar dollar AS yang hingga kini belum memperoleh persetujuan resmi.
China selama ini menentang keras penjualan senjata AS ke Taiwan dan menuduh Washington mengubah Taiwan menjadi “tong mesiu”.
Trump juga mengisyaratkan bahwa paket senjata tersebut dapat dijadikan alat tawar dalam hubungan dengan Beijing.
“Saya belum menyetujuinya. Kita akan lihat apa yang terjadi,” kata Trump.
“Saya mungkin melakukannya, saya mungkin tidak melakukannya. Saya menundanya, dan itu tergantung pada China. Ini adalah alat tawar-menawar yang sangat baik bagi kita, terus terang. Ini banyak senjata.”
Baca Juga: Jika Diserang AS Lagi, Iran Ancam Perluas Perang
Sementara itu, Menteri Pertahanan Taiwan Wellington Koo mengatakan pihaknya tetap optimistis terhadap kelanjutan penjualan senjata AS.
“Jelas bahwa pihak yang berulang kali memprovokasi, menciptakan insiden, dan merusak status quo yang damai dan stabil di Selat Taiwan adalah China, bukan negara kita,” kata Koo kepada parlemen Taiwan.
“Oleh karena itu, dalam keadaan ini, kami percaya bahwa mempertahankan saluran penjualan senjata ini sejalan dengan kepentingan AS,” ujarnya.
