AS-Iran Sepakati Gencatan 60 Hari, Harga Minyak Turun
Amerika Serikat dan Iran dilaporkan mencapai kesepakatan awal untuk memperpanjang masa gencatan senjata selama 60 hari. Langkah tersebut dibarengi dengan rencana dialog lanjutan mengenai program nuklir Teheran.
Kabar itu memunculkan harapan baru bahwa konflik bersenjata selama tiga bulan terakhir dapat segera menemukan jalan keluar diplomatik.
Menurut sumber yang mengetahui jalannya perundingan rahasia, kesepakatan tersebut pertama kali dilaporkan oleh Axios. Namun hingga kini, Presiden AS Donald Trump disebut belum memberikan persetujuan final.
Sebelumnya, Washington dan Teheran beberapa kali mengklaim telah mencapai kemajuan dalam negosiasi. Trump bahkan sempat menyebut kesepakatan sudah sangat dekat, meski pembicaraan terus mengalami kebuntuan.
Baca Juga : Bandar Abbas Diguncang Ledakan, AS Lakukan Serangan ke Iran
AS Sebut Iran Bernegosiasi dengan Niat Baik
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan kedua negara masih membahas sejumlah detail penting dalam draf kesepakatan, termasuk isu kemampuan nuklir Iran.
“Saya tidak bisa menjamin kami pasti akan mencapai kesepakatan, tetapi saat ini saya merasa cukup optimis,” ujar Vance pada Kamis (28/5).
Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan pemerintahan Trump tetap berpegang pada tiga garis merah yang tidak bisa dinegosiasikan.
“Jika tanpa itu tidak mungkin ada kesepakatan, mengapa harus ada kesepakatan tanpa itu?” kata Bessent.
“Semuanya tergantung pada apa yang diinginkan presiden dan Presiden Trump tidak akan membuat kesepakatan buruk bagi rakyat Amerika, untuk AS,” lanjutnya.
Selat Hormuz Jadi Fokus Utama Kesepakatan
Nota kesepahaman AS-Iran disebut mencakup jaminan bahwa pelayaran di Selat Hormuz akan kembali dibuka secara bebas tanpa hambatan.
Iran juga disebut diwajibkan membersihkan seluruh ranjau di kawasan tersebut dalam waktu 30 hari.
Kesepakatan ini penting karena penutupan efektif Selat Hormuz sejak perang pecah pada akhir Februari telah mengganggu hampir seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Gangguan tersebut memicu lonjakan harga energi global serta meningkatkan tekanan inflasi di banyak negara.
Harga Minyak dan Pasar Saham Langsung Merespons
Kabar kemajuan negosiasi langsung mempengaruhi pasar global. Harga minyak memangkas penguatan dan diperdagangkan di kisaran US$95 per barel setelah sebelumnya melonjak akibat konflik.
Pasar saham dan obligasi global juga menguat seiring meningkatnya optimisme investor terhadap peluang perdamaian.
Di sisi lain, bentrokan militer kecil masih terjadi di tengah gencatan senjata yang rapuh.
Pasukan AS dilaporkan menembak jatuh empat drone Iran yang diarahkan ke kapal komersial dan menyerang unit peluncur rudal di dekat Selat Hormuz.
Iran melalui media pemerintahnya juga mengklaim telah menyerang pangkalan AS yang disebut menjadi sumber serangan tersebut.
Trump Berada di Tengah Tekanan Politik
Trump kini menghadapi tekanan dari berbagai arah. Iran menuntut penghentian serangan dan pencairan aset keuangan mereka yang diblokir AS.
Baca Juga : Rusia Peringatkan Potensi Australia sebagai Basis Senjata Nuklir AS
Sementara kelompok garis keras di AS mendesak agar perang tetap dilanjutkan atau setidaknya tidak menghasilkan kesepakatan yang dianggap terlalu lunak terhadap Teheran.
Selain isu program nuklir, kedua negara juga masih berdebat mengenai pencairan aset Iran senilai US$24 miliar yang selama ini dibekukan Washington.
Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan Teheran meminta seluruh aset tersebut dibebaskan sebagai bagian dari kesepakatan akhir.

[…] Baca Juga : AS-Iran Sepakati Gencatan Senjata selama 60 Hari […]