AS Desak Sekutu Asia Naikkan Anggaran Militer Lawan China
Amerika Serikat (AS) meminta negara-negara sekutunya di Asia meningkatkan belanja pertahanan untuk menghadapi pertumbuhan kekuatan militer China dan menjaga keseimbangan keamanan di kawasan Indo-Pasifik.
Seruan tersebut disampaikan Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, dalam forum keamanan tahunan Shangri-La Dialogue yang berlangsung di Singapura.
Menurut Hegseth, percepatan pembangunan militer China menjadi perhatian serius bagi banyak negara di kawasan.
Baca Juga : AS-Iran Sepakati Gencatan Senjata selama 60 Hari
“Ada kekhawatiran yang beralasan terkait pembangunan militer China yang bersifat historis serta perluasan aktivitas militernya di kawasan dan di luar kawasan,” kata Hegseth.
AS Ingatkan Bahaya Dominasi China di Indo-Pasifik
Dalam pidatonya, Hegseth menegaskan bahwa kawasan Pasifik tidak boleh berada di bawah dominasi satu negara. Ia menilai hegemoni satu kekuatan akan mengganggu stabilitas dan keseimbangan yang selama ini menjadi fondasi keamanan regional.
“Pasifik yang didominasi oleh satu kekuatan hegemonik akan merusak keseimbangan kekuatan di kawasan. Tidak ada negara, termasuk China, yang dapat memaksakan hegemoni dan membuat keamanan negara kami maupun para sekutu kami berada dalam ketidakpastian,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa sekutu yang memiliki kemampuan pertahanan mandiri akan memperkuat efek penangkalan terhadap berbagai ancaman keamanan.
Minta Sekutu Asia Naikkan Belanja Pertahanan hingga 3,5% PDB
Pemerintahan Presiden Donald Trump berharap negara-negara mitra dan sekutu di Asia meningkatkan anggaran pertahanan mereka hingga mencapai 3,5% dari produk domestik bruto (PDB).
Permintaan tersebut disampaikan bersamaan dengan komitmen Washington untuk menggelontorkan investasi sekitar US$1,5 triliun ke sektor pertahanan Amerika Serikat.
Meski menyoroti peningkatan kekuatan militer China, Hegseth menegaskan bahwa tujuan utama AS tetap menjaga stabilitas kawasan, bukan memicu konflik baru.
“Apa yang mereka inginkan, dan apa yang diberikan Amerika Serikat, adalah kekuatan yang disiplin, keteguhan yang konsisten, serta kepemimpinan yang cukup percaya diri untuk berbicara dengan tenang sambil tetap membawa tongkat besar,” katanya.
Hubungan AS-China Dinilai Membaik
Di tengah rivalitas strategis yang masih berlangsung, Hegseth menyebut hubungan antara Washington dan Beijing saat ini lebih baik dibanding beberapa tahun sebelumnya.
Menurutnya, peningkatan komunikasi langsung antara militer kedua negara membantu menjaga stabilitas dan mengurangi risiko kesalahpahaman.
“Hubungan kami dengan Beijing lebih baik dibandingkan dalam beberapa tahun terakhir. Kami kini lebih sering bertemu dengan mitra kami dari China dengan tetap menjaga jalur komunikasi militer-ke-militer yang terbuka,” ujarnya.
AS Tegaskan Sekutu Harus Ikut Menanggung Beban Pertahanan
Hegseth juga mengulang pesan yang selama ini sering disampaikan Trump terkait pembagian tanggung jawab keamanan global. Ia menegaskan bahwa era ketika AS menanggung sebagian besar biaya pertahanan negara-negara maju telah berakhir.
Baca Juga : Drone Rusia Hantam Apartemen Rumania, 2 Warga Dikabarkan Terluka
“Era ketika Amerika Serikat mensubsidi pertahanan negara-negara kaya sudah berakhir. Kami membutuhkan mitra, bukan protektorat,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa aliansi yang kuat hanya dapat terbentuk apabila seluruh anggota turut berkontribusi dan tidak hanya menikmati manfaat perlindungan keamanan.
“Kita tidak akan memiliki aliansi yang kuat jika semua pihak tidak ikut berkontribusi. Tidak boleh ada yang hanya menumpang manfaat tanpa ikut menanggung tanggung jawab,” kata Hegseth.

[…] AS Desak Sekutu Asia Naikkan Anggaran Militer Lawan China […]
[…] AS Desak Sekutu Asia Naikkan Anggaran Militer Lawan China […]
[…] AS Desak Sekutu Asia Naikkan Anggaran Militer Lawan China […]