Investor Kaya Global Mulai Kurangi Ketergantungan pada Dolar AS
Investor kelas kakap dunia mulai mengurangi ketergantungan terhadap aset berbasis dolar Amerika Serikat (AS) di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap risiko geopolitik dan kondisi ekonomi global.
Tren tersebut terlihat dari langkah banyak family office atau kantor pengelola kekayaan keluarga super kaya yang mulai memindahkan dana investasi mereka keluar dari AS.
Berdasarkan laporan Global Family Office UBS, sebanyak 60 persen family office berencana mengubah strategi alokasi investasi dalam 12 bulan ke depan. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan tren perubahan portofolio dalam lima tahun terakhir.
Baca Juga: China Usir Kapal Perang Belanda di Laut Sengketa, Kenapa?
Amerika Utara bahkan menjadi satu-satunya kawasan yang diproyeksikan mengalami penurunan alokasi investasi. Sebaliknya, investor kaya global mulai meningkatkan eksposur ke pasar berkembang seperti Amerika Latin dan Afrika.
Kepala Manajemen Kekayaan Pribadi UBS untuk Amerika, John Mathews, mengatakan fokus kekhawatiran investor kini bergeser dari perang tarif menuju persoalan yang lebih luas.
Risiko Geopolitik dan Utang Global Jadi Sorotan
Menurut Mathews, investor kini lebih mencermati dampak ketegangan geopolitik, utang global, hingga suku bunga tinggi terhadap kondisi ekonomi jangka panjang.
“Bukan hanya implikasi jangka pendek, tetapi juga dampak jangka panjangnya,” ujar Mathews, dikutip CNBC International, Jumat (29/5/2026).
Selain itu, dua pertiga responden survei memperkirakan kepercayaan terhadap status dolar AS sebagai mata uang cadangan global akan terus menurun.
Hampir separuh responden juga menilai portofolio investasi mereka saat ini terlalu bergantung pada dolar AS.
Sebagai alternatif, investor mulai melirik franc Swiss dan euro sebagai mata uang diversifikasi pilihan. Sementara itu, emas, saham pasar berkembang, dan proyek infrastruktur diproyeksikan menjadi tujuan investasi baru investor kaya global.
UBS menyebut ketidakpastian geopolitik menjadi risiko terbesar dalam 12 bulan hingga lima tahun mendatang. Risiko lain yang turut membayangi investor global meliputi perang dagang, hiperinflasi, serangan siber, hingga krisis utang.
Baca Juga: Target Pendapatan Negara Diyakini Purbaya Tembus Rp3.153 Triliun
Meski demikian, terdapat perbedaan sikap antara investor kaya asal AS dan negara lain. Family office di AS justru semakin agresif berinvestasi di pasar domestik.
Porsi aset mereka di AS tercatat meningkat dari 86 persen menjadi 88 persen dalam setahun terakhir.
“Kantor-kantor keluarga AS sebenarnya menggandakan investasi mereka. Namun family office lain di seluruh dunia kini mulai melakukan diversifikasi dari sekuritas berbasis dolar dan sedikit demi sedikit mengurangi eksposur ke AS,” kata Mathews.

[…] Investor Kaya Global Mulai Kurangi Ketergantungan pada Dolar AS […]