Survei Terbaru: Mayoritas Warga Dunia Berpandangan Negatif ke Israel dan Netanyahu
Mayoritas masyarakat di 36 negara memiliki pandangan negatif terhadap Israel dan tingkat kepercayaan yang rendah terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Temuan tersebut terungkap dalam survei terbaru yang dirilis oleh Pew Research Center pada Kamis (5/6/2026).
Berdasarkan hasil survei yang dilakukan pada 8 Februari hingga 13 Mei 2026 itu, rata-rata 67 persen responden dewasa di 36 negara menyatakan memiliki pandangan negatif terhadap Israel. Sebaliknya, hanya 25 persen responden yang memberikan penilaian positif terhadap negara tersebut.
Baca Juga: Tuding Rudal AS Jadi Biang Kerok, Iran Bantah Serang Bandara Kuwait
Selain persepsi terhadap Israel, survei itu juga menyoroti rendahnya tingkat kepercayaan publik global terhadap Netanyahu.
“Mayoritas di sebagian besar negara yang disurvei mengatakan mereka memiliki sedikit atau tidak sama sekali kepercayaan pada Benjamin Netanyahu untuk melakukan hal yang benar terkait urusan dunia,” tulis Pew Research Center dalam laporannya, seperti dikutip Middle East Monitor, Jumat (5/6/2026).
Sentimen negatif terhadap Israel tercatat sangat tinggi di sejumlah negara dengan mayoritas penduduk Muslim, termasuk Bangladesh, Indonesia, Malaysia, Pakistan, dan Turki.
Pandangan serupa juga ditemukan di wilayah Tepi Barat dan Yerusalem Timur.
Survei tersebut menunjukkan bahwa tingkat kepercayaan terhadap Netanyahu relatif rendah di hampir seluruh negara yang menjadi sampel penelitian. Hanya di Kenya dan Filipina lebih dari separuh responden yang menyatakan memiliki kepercayaan kepada pemimpin Israel itu dalam menangani persoalan global.
Pew Research Center juga mencatat bahwa persepsi negatif terhadap Israel meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Dari 24 negara yang memiliki data pembanding, sebanyak 13 negara mengalami kenaikan tingkat pandangan negatif terhadap Israel sejak 2025.
Temuan ini menggambarkan tantangan diplomatik yang masih dihadapi Israel di tengah perhatian internasional terhadap perkembangan geopolitik dan konflik yang terus berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga: Usai Telepon Panas soal Lebanon, Netanyahu Bantah Retak dengan Trump
