Iran Hujani Israel 30 Rudal, Konflik Kembali Memanas
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran meluncurkan hampir 30 rudal balistik ke wilayah Israel sejak Minggu (7/6/2026) malam.
Serangan tersebut memicu sirene peringatan udara di sebagian besar wilayah utara dan tengah Israel. Warga di sejumlah kota bergegas mencari perlindungan, sementara suara ledakan dilaporkan terdengar hingga kawasan Yerusalem.
Menurut pejabat militer Israel, serangan yang dilancarkan Iran merupakan salah satu gempuran terbesar sejak kedua negara menyepakati gencatan senjata pada April lalu.
Baca Juga : BGN Hentikan Sementara Pembangunan Dapur Baru, Apa Fokus Utamanya?
“Semalam rezim Iran mulai menembakkan rudal balistik ke arah Israel. Mereka menembakkan hampir 30 rudal balistik ke arah Israel,” ujar seorang pejabat militer Israel.
Serangan Pertama Sejak Gencatan Senjata
Hujan rudal tersebut menjadi kontak senjata pertama antara Iran dan Israel sejak kesepakatan gencatan senjata diumumkan pada 8 April 2026.
Selain rudal yang diluncurkan dari Iran, kelompok Houthi di Yaman juga dilaporkan menembakkan dua rudal secara terpisah ke arah wilayah Israel.
Situasi ini menimbulkan kekhawatiran bahwa konflik yang sempat mereda dapat kembali berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Sebagai respons atas serangan tersebut, militer Israel melancarkan operasi balasan pada Senin pagi dengan menyasar sejumlah target strategis di Iran.
Jet tempur Israel dilaporkan menggempur kompleks petrokimia di Mahshahr, wilayah barat daya Iran. Israel menuduh fasilitas tersebut digunakan untuk mendukung produksi material yang berkaitan dengan program rudal balistik Iran.
“Di kompleks ini, bahan-bahan kimia diproduksi dan digunakan untuk rudal balistik yang ditembakkan ke sini, ke arah negara Israel,” kata pejabat militer tersebut.
Militer Israel mengklaim serangan tersebut berhasil mengganggu kemampuan Iran dalam memproduksi berbagai jenis persenjataan.
“Serangan dan kerusakan pada kompleks tersebut mengganggu kemampuan mereka untuk memproduksi berbagai jenis senjata,” lanjutnya.
Selain menyerang kompleks petrokimia, Israel juga mengklaim berhasil menghantam sejumlah sistem pertahanan udara milik Iran.
Operasi tersebut disebut sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi kemampuan pertahanan dan ofensif Iran setelah serangan rudal yang diarahkan ke wilayah Israel.
Meski demikian, hingga kini belum ada rincian resmi mengenai tingkat kerusakan maupun jumlah korban akibat serangan balasan tersebut.
Baca Juga : Trump Minta Israel untuk Tidak Balas Serangan Iran
Di tengah meningkatnya eskalasi konflik, militer Israel juga memperkuat koordinasi dengan sekutu utamanya, Amerika Serikat.
Kepala Staf Militer Israel, Eyal Zamir, dilaporkan melakukan komunikasi intensif dengan pimpinan United States Central Command (Centcom).
“Selama sehari terakhir, kepala staf umum IDF telah berbicara dua kali dengan komandan Centcom dan mereka sedang mendiskusikan situasi tersebut,” ujar pejabat militer Israel.
Koordinasi tersebut menunjukkan tingginya kekhawatiran terhadap potensi perluasan konflik, terutama setelah gencatan senjata yang sebelumnya berhasil meredakan ketegangan kini kembali berada dalam posisi yang rapuh.
