Dana Rp217 Triliun Jadi Batu Sandungan Perdamaian AS-Iran
Perundingan perdamaian antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terus berlangsung meski kedua negara masih terlibat aksi saling serang di kawasan Timur Tengah.
Sejumlah sumber menyebut komunikasi untuk mencapai kesepakatan awal justru semakin intens di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dan Washington.
Salah satu isu utama yang masih menjadi ganjalan adalah pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan akibat sanksi internasional.
“Iran menginginkan US$6 miliar hingga US$12 miliar dari dana bekunya dilepaskan ke Teheran, sementara Washington ingin melepaskan dana secara bertahap untuk barang-barang kemanusiaan dan menolak pengembalian dana ke Iran secara langsung,” kata salah satu sumber Iran, seperti dikutip Reuters, Kamis (11/6/2026).
Baca Juga: Trump dan Israel Sabotase Diplomasi Iran, Tuding Eks Analis CIA
Menurut tiga sumber Iran dan seorang pejabat Eropa, kedua negara masih aktif bertukar pesan mengenai rincian mekanisme pelepasan dana tersebut.
Komunikasi itu dinilai menjadi bagian penting dalam upaya membangun kesepahaman politik yang dapat membuka jalan menuju kesepakatan lebih luas.
Sumber-sumber tersebut mengungkapkan bahwa secara prinsip Iran dan AS telah mencapai pemahaman politik awal.
Namun, sejumlah persoalan teknis masih belum terselesaikan, terutama terkait cara pencairan dana hasil penjualan minyak Iran yang saat ini tersimpan di berbagai bank asing.
Nilai dana yang diperdebatkan juga tidak sedikit.
Iran meminta pencairan aset sebesar 6 miliar dollar AS hingga 12 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp108,57 triliun hingga Rp217,14 triliun.
Baca Juga: Iran Mohon ke AS Hentikan Serangan Udara, Klaim Trump
Sementara itu, pemerintah AS menginginkan pencairan dilakukan secara bertahap dan hanya digunakan untuk kebutuhan kemanusiaan.
Perbedaan pandangan tersebut membuat pembahasan teknis menjadi salah satu hambatan terbesar dalam proses negosiasi yang sedang berlangsung.
Sumber-sumber Iran juga menyebut prioritas utama pemerintah di Teheran saat ini bukanlah mencapai penyelesaian komprehensif dengan Washington.
Iran disebut lebih fokus pada upaya memperoleh pelonggaran ekonomi melalui pencairan sebagian aset yang dibekukan serta mendorong penghentian konflik yang masih berlangsung.
