Arab Saudi Bentuk Aliansi Maritim 14 Negara untuk Amankan Laut Merah
Arab Saudi bersama 13 negara resmi membentuk Aliansi Pertahanan Maritim Multinasional untuk memperkuat keamanan jalur pelayaran di Selat Bab al-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden.
Pembentukan koalisi ini dilakukan di tengah meningkatnya ancaman terhadap perdagangan internasional dan distribusi energi akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan aliansi tersebut dibentuk untuk memperkuat kerja sama pertahanan maritim sekaligus menjaga kebebasan navigasi di jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Mediterania.
“Pintu tetap terbuka bagi negara-negara lain untuk menyetujui piagam koalisi setelah menyelesaikan prosedur nasional mereka,” demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Arab Saudi, seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (31/7/2026).
Baca Juga: Rp2,170 Triiliun Disiapkan Pentagon untuk Rudal dan Kapal Selam
Selain Arab Saudi, anggota pendiri aliansi terdiri atas Turkiye, Kuwait, Bahrain, Qatar, Yordania, Mesir, Pakistan, Djibouti, Somalia, Bangladesh, Yaman, Sudan, dan Komoro.
Pertemuan pembentukan aliansi juga dihadiri perwakilan dari 43 negara, termasuk delegasi Uni Eropa. Namun, Uni Emirat Arab dan Oman belum bergabung dalam koalisi tersebut.
Pemerintah Arab Saudi menyatakan negara-negara peserta memiliki pandangan bahwa keamanan maritim merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan koordinasi antarnegera.
Riyadh juga menegaskan aliansi tersebut “murni bersifat defensif dan tidak menargetkan negara mana pun.”
Fokus Amankan Jalur Energi dan Perdagangan
Pembentukan aliansi berlangsung ketika aktivitas pelayaran di kawasan Timur Tengah menghadapi tekanan akibat konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Selain gangguan di Selat Hormuz, jalur Bab al-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden juga beberapa kali menjadi sasaran serangan kelompok Houthi yang didukung Iran.
Koalisi baru ini akan berfokus pada pertukaran intelijen, berbagi informasi, penyusunan rencana operasi, latihan militer bersama, hingga pelaksanaan operasi maritim.
Meski demikian, Arab Saudi belum mengungkapkan kontribusi kapal perang maupun pesawat yang akan disediakan masing-masing negara anggota.
Arab Saudi juga akan menjadi negara tuan rumah sekaligus markas besar aliansi tersebut, meski lokasi resminya belum diumumkan.
Langkah ini diambil setelah kelompok Houthi memberlakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi yang mengganggu pengiriman minyak melalui Laut Merah.
Sejak aktivitas di Selat Hormuz terganggu, Arab Saudi masih mengandalkan pipa Timur-Barat menuju Terminal Yanbu di pesisir Laut Merah untuk mempertahankan ekspor minyaknya.
Baca Juga: Minyak Terancam, Houthi Pertimbangkan Tarif Kapal di Laut Merah
Namun, seluruh pengiriman tetap harus melewati Selat Bab al-Mandeb yang berada di antara Eritrea, Djibouti, dan Yaman, sehingga kawasan tersebut dinilai sangat rentan terhadap gangguan keamanan.
Selat Bab al-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia. Sekitar 10 hingga 12 persen perdagangan maritim global, termasuk jutaan barel minyak setiap hari, melintasi kawasan tersebut.
Dengan lebar sekitar 29 kilometer di titik tersempitnya, gangguan di jalur ini berpotensi menghambat perdagangan internasional sekaligus mendorong kenaikan harga energi dunia.
