Rosan Prediksi IHSG Masih Fluktuatif Meski Melonjak Tajam
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melonjak tajam dalam beberapa waktu terakhir diperkirakan masih akan mengalami pergerakan naik turun dalam jangka pendek.
CEO Danantara Rosan Roeslani mengatakan fluktuasi tersebut merupakan hal yang wajar di pasar modal, terutama setelah terjadi penguatan yang cukup signifikan.
“Kalau ada ups and down sedikit, itu normal. Begitu ini market naik, ini kan boleh dibilang naik kencang ya, pasti nanti ada beberapa hari turun sedikit, terus naik lagi, that’s very normal,” ujar Rosan di Kompleks Istana Kepresidenan RI, Jakarta Pusat, Senin (15/6/2026).
Menurut Rosan, koreksi yang mungkin terjadi dalam beberapa hari ke depan tidak perlu disikapi secara berlebihan karena merupakan bagian dari dinamika pasar.
Ia menegaskan, apabila IHSG kembali melemah setelah menguat tajam, kondisi tersebut masih tergolong normal sebelum akhirnya kembali mengalami pemulihan.
Baca Juga: Bank Sentral China dan BI Jalin Kerja Sama Baru untuk Perkuat Rupiah
Investor Asing Lebih Fokus Jangka Panjang
Rosan menjelaskan, investor asing umumnya memiliki perspektif investasi jangka panjang saat menempatkan dana di pasar modal Indonesia.
Hal itu berbeda dengan sebagian investor domestik, terutama investor ritel, yang cenderung memantau pergerakan saham dalam jangka pendek.
“Tapi kalau investor luar mereka view-nya langsung long term. Jadi mereka tidak melihat investasi mereka hari ini masuk, ‘Oh seminggu lagi kalau turun, ya kita keluar’, tidak seperti itu. Jadi mereka lihat, ‘Oke secara fundamentalnya seperti apa, oke faktor teknikalnya’. Pasti ups and down menpengaruhi, tetapi kalau dilihat policy kebijakan, dan persepsinya itu positif, mereka akan terus melihat investasi ini untuk bisa berkembang ke depannya,” tuturnya.
Menurut dia, keputusan investor asing lebih banyak didasarkan pada kondisi fundamental ekonomi, kebijakan pemerintah, serta prospek pertumbuhan investasi dalam jangka panjang.
Saham Dinilai Masih Menarik untuk Dibeli
Rosan mengungkapkan pasar modal Indonesia sempat mengalami koreksi cukup dalam selama beberapa bulan terakhir.
Ia menyebut penurunan tersebut membuat sejumlah saham perusahaan dengan fundamental kuat menjadi lebih murah dan menarik bagi investor.
“Kembali lagi pada hukum ekonomi, pada saat mereka melihat, ‘Oh fundamental kita bagus, perbankan kita pertumbuhan bagus, dividen bagus, yield bagus, price to book di bawah jauh di harga pasar’, ya otomatis mereka melihat, ‘It’s time to buy’,” kata Rosan.
Sementara itu, IHSG pada perdagangan Senin (15/6/2026) ditutup menguat 4,12 persen atau naik 247 poin ke level 6.254,97.
Baca Juga: Isi Pertemuan Prabowo di Kertanegara Dibongkar Purbaya
Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di kisaran 6.118 hingga 6.345 dengan volume transaksi mencapai 54,61 miliar saham dan nilai perdagangan sebesar Rp 30,14 triliun.
Mayoritas saham juga ditutup di zona hijau dengan 603 saham menguat, 125 saham melemah, dan 90 saham bergerak stagnan.
Penguatan turut ditopang saham-saham perbankan berkapitalisasi besar. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) menjadi pemimpin kenaikan di kelompok bank jumbo setelah naik 300 poin atau 7,14 persen ke level Rp 4.500 per saham.
