Iran Sebut Kesepakatan Damai Jadi Bukti Kegagalan AS
Iran melontarkan kritik tajam kepada Amerika Serikat setelah kedua negara menyepakati nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga bulan.
Kepala negosiator Iran sekaligus Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai kesepakatan yang dicapai justru menunjukkan kegagalan Amerika Serikat dalam mencapai tujuannya selama perang.
“Kesepakatan ini adalah bukti kegagalan AS. Orang-orang akan melihatnya dan menilai,” kata Ghalibaf dalam wawancara yang disiarkan televisi pemerintah Iran, seperti dikutip The Times of Israel.
Pernyataan serupa juga datang dari pemimpin kelompok Hizbullah Lebanon yang pro-Iran, Naim Qassem.
Ia menyebut kesepakatan tersebut sebagai “kemenangan besar” bagi Iran dan mengapresiasi dukungan Teheran terhadap Lebanon selama konflik berlangsung.
Iran Kembali Dapat Menjual Minyak
Berdasarkan isi nota kesepahaman yang disepakati, Iran akan mengencerkan cadangan uranium yang telah diperkaya, termasuk melalui kemungkinan pencampuran ulang di fasilitas yang diawasi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Seorang pejabat Amerika Serikat menyebut langkah tersebut sebagai keuntungan penting bagi Washington.
“Fakta bahwa mereka menyetujui hal itu adalah kemenangan besar, besar bagi Amerika Serikat,” ujar pejabat AS tersebut kepada wartawan dalam konferensi telepon dengan syarat anonim.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Iran juga diperbolehkan kembali menjual minyak segera setelah perjanjian ditandatangani.
Selain itu, seluruh sanksi terhadap Iran akan dicabut apabila kesepakatan final berhasil dicapai setelah masa negosiasi selama 60 hari.
Baca Juga: Jika Langgar Gencatan Senjata, Trump Ancam Serang Iran
Trump Ancam Iran Jika Langgar Kesepakatan
Presiden AS Donald Trump mengatakan proses penandatanganan perjanjian dapat dilakukan dalam waktu dekat.
Sebelumnya, dokumen tersebut dijadwalkan ditandatangani oleh Ghalibaf dan Wakil Presiden AS JD Vance.
Saat menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7 di Evian, Prancis, Trump menyampaikan optimisme bahwa kesepakatan segera difinalisasi.
“Kesepakatan yang kami capai dengan Iran pada hari Minggu akan segera ditandatangani, besok (Kamis), mungkin lusa (Jumat),” ujar Trump.
Meski demikian, Trump mengatakan dokumen tersebut masih berupa nota kesepahaman sehingga belum tentu memerlukan tanda tangannya secara langsung.
Ia juga mengingatkan Iran agar mematuhi seluruh isi kesepakatan.
Trump menegaskan bahwa AS siap mengambil tindakan militer jika Teheran melanggar komitmen yang telah disepakati.
Reaksi Dunia Internasional
Kesepakatan damai antara AS dan Iran memunculkan beragam respons dari komunitas internasional.
China menyatakan bahwa diplomat seniornya telah menekankan pentingnya seluruh pihak menjalankan komitmen yang telah disepakati.
Di Amerika Serikat, kritik datang dari Senator Partai Republik Bill Cassidy.
Ia menilai perjanjian tersebut justru memberikan ruang bagi Iran untuk memulihkan kekuatan politik dan militernya.
“Ambisi nuklir Iran tidak dikekang, dan mereka telah belajar bahwa ancaman terhadap Selat Hormuz berhasil,” kata Cassidy.
Ia bahkan menyebut kebijakan tersebut sebagai salah satu kesalahan terbesar dalam diplomasi AS.
“Sanksi akan dicabut, dan pengeboman telah berhenti. Ini adalah kesalahan kebijakan luar negeri terburuk dalam beberapa dekade,” tambahnya.
Baca Juga: 14 Poin Kesepakatan AS-Iran Terungkap, Apa Saja Isinya?
Negosiasi Lanjutan Dimulai
Setelah penandatanganan resmi dilakukan, AS dan Iran akan memasuki periode negosiasi lanjutan selama dua bulan.
Pembukaan kembali Selat Hormuz yang menjadi jalur penting perdagangan minyak dan gas dunia disebut sebagai salah satu langkah awal implementasi kesepakatan.
Meski demikian, situasi keamanan di kawasan masih belum sepenuhnya stabil.
Media pemerintah Lebanon melaporkan sedikitnya lima orang tewas akibat serangan Israel di wilayah selatan Lebanon setelah pengumuman kesepakatan damai.
Di sisi lain, militer Israel menyatakan lima tentaranya terluka pada Rabu (17/6/2026), termasuk satu orang dalam kondisi serius, akibat ledakan drone di Lebanon selatan.
Insiden tersebut menjadi laporan pertama mengenai serangan semacam itu sejak kesepakatan antara AS dan Iran diumumkan.
