Pascakesepakatan dengan AS, Iran Berpeluang Raup Rp 1.070 Triliun dari Minyak
Kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berpotensi memberikan dorongan besar bagi perekonomian Teheran yang selama bertahun-tahun tertekan akibat sanksi internasional.
Menurut laporan The Wall Street Journal yang terbit Rabu (17/6/2026), Iran diperkirakan dapat memperoleh lebih dari 60 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.070 triliun per tahun dari ekspor minyak apabila kembali beroperasi secara normal di pasar global dengan tingkat produksi sebelum perang dan harga minyak saat ini.
Sejumlah kapal tanker minyak Iran bahkan dilaporkan mulai meninggalkan pelabuhan dan melintasi blokade laut AS, yang dinilai sebagai sinyal awal meningkatnya kembali ekspor minyak negara tersebut.
Baca Juga: Selat Hormuz Dibuka, RI Tetap Lanjutkan Impor Minyak Rusia
Iran Berpeluang Kembali Jadi Kekuatan Minyak Dunia
Selama berada di bawah sanksi, Iran hanya dapat menjual minyak melalui jaringan pengiriman tidak resmi dan sering kali harus menerima harga yang lebih rendah dibandingkan harga pasar internasional.
Sebagian besar ekspor minyak Iran selama ini ditujukan ke kilang-kilang independen di China.
Richard Nephew, mantan pejabat senior sanksi AS yang kini menjadi akademisi di Universitas Columbia, menilai kesepakatan yang tercapai belum sepenuhnya membuka akses ekonomi Iran, tetapi tetap memberikan manfaat finansial yang besar.
“MOU ini tidak serta-merta membuka kebebasan penuh bagi ekonomi Iran. Namun, Iran akan menghasilkan pendapatan yang cukup besar dan kemungkinan besar dapat mengakses pendapatan tersebut,” kata Nephew.
Ia memperkirakan Iran dapat memperoleh sekitar 8 miliar dollar AS atau setara Rp 142 triliun hanya dalam dua bulan pertama setelah kesepakatan mulai dijalankan.
Dalam jangka waktu satu tahun, pendapatan minyak Iran diproyeksikan mampu melampaui 60 miliar dollar AS.
Sebelum konflik terjadi, Iran menyumbang sekitar 4 persen dari produksi minyak mentah dunia.
Namun, setelah blokade laut AS diberlakukan pada April 2026, ekspor minyak Iran anjlok dari sekitar 1,1 juta barrel per hari pada Maret menjadi hanya sekitar 65.000 barrel per hari pada Mei.
Kekhawatiran di AS
Prospek membaiknya ekonomi Iran ternyata juga memunculkan kekhawatiran di Washington.
Sejumlah pihak menilai tambahan pendapatan dari minyak dapat memperkuat posisi pemerintah Iran dan mendukung pengembangan kemampuan militernya.
Michael Singh, mantan direktur senior Dewan Keamanan Nasional AS untuk Timur Tengah pada era Presiden George W Bush, mengingatkan adanya risiko dari masuknya dana dalam jumlah besar ke Iran.
“Risikonya adalah Anda memperkuat rezim dengan memberikan suntikan uang tunai kepadanya. Mendukung kelompok proksi dan bahkan membangun rudal serta drone, dalam beberapa hal, relatif murah. Yang benar-benar mahal bagi Iran adalah menjalankan negaranya dengan baik,” ujar Singh.
Seorang pejabat senior AS mengatakan Iran memang akan memperoleh keringanan sanksi awal untuk ekspor minyak.
Namun, kelanjutan kebijakan tersebut bergantung pada kepatuhan Teheran terhadap tuntutan AS terkait aktivitas nuklir dan pembukaan Selat Hormuz.
Baca Juga: Arab Saudi Soroti Stabiitas, MBS Sambut Damai AS-Iran
Pasar Minyak Global Berpotensi Berubah
Kembalinya Iran ke pasar minyak internasional diperkirakan akan mengubah peta persaingan di sektor energi global.
Para analis menilai pembukaan kembali jalur perdagangan melalui Selat Hormuz dapat meningkatkan pasokan minyak dunia dalam jumlah besar.
Badan Energi Internasional (IEA) bahkan memperingatkan bahwa berakhirnya konflik dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan kelebihan pasokan minyak pada tahun mendatang.
Iran juga memiliki keunggulan dari sisi biaya produksi.
Biaya produksi minyak negara itu diperkirakan hanya berkisar 10 hingga 30 dollar AS per barrel, jauh lebih rendah dibandingkan biaya produksi minyak serpih AS yang berada di kisaran 60 hingga 70 dollar AS per barrel.
Kepala Prakiraan Minyak dan Gas Oxford Economics, Bridget Payne, mengatakan Iran memiliki peluang meningkatkan produksi dengan cepat apabila infrastruktur dan jalur ekspornya kembali beroperasi normal.
“Namun, meningkatkan produksi secara signifikan di atas tingkat sebelum konflik akan membutuhkan waktu lebih lama,” kata Payne.
Menurut dia, Iran berpotensi menambah produksi hingga sekitar 1 juta barrel per hari di atas tingkat sebelum konflik dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Meski demikian, peningkatan tersebut membutuhkan investasi asing, teknologi, dan layanan pengelolaan ladang minyak.
Payne menambahkan bahwa kembalinya Iran secara penuh ke pasar minyak global tetap bergantung pada perkembangan negosiasi yang lebih luas, terutama terkait program nuklir negara tersebut dan status pencabutan sanksi secara permanen.
