Trump Ancam Serang Iran Jika Langgar Gencatan Senjata
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Iran meski kedua negara telah menyepakati gencatan senjata sementara untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak akhir Februari.
Dalam konferensi pers di sela-sela KTT G7 di Prancis, Rabu (18/6/2026), Trump menegaskan bahwa Washington siap mengambil tindakan militer apabila Teheran dianggap melanggar kesepakatan yang telah ditandatangani.
“Kita akan membombardir mereka habis-habisan jika mereka melanggar perjanjian. Saya ingin mereka menghormati perjanjian itu,” kata Trump.
Baca Juga : Trump Desak Rusia untuk Berdamai dengan Ukraina usai Kesepakatan Iran
Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak akan ragu melancarkan serangan baru apabila Iran dinilai tidak mematuhi komitmen yang telah disepakati kedua negara.
Gencatan Senjata Diperpanjang 60 Hari
Pernyataan tersebut muncul setelah Washington dan Teheran merilis nota kesepahaman berisi 14 poin yang memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari.
Kesepakatan itu dirancang sebagai langkah awal untuk membuka jalur perundingan menuju perdamaian permanen antara kedua negara.
Dokumen tersebut telah ditandatangani secara digital oleh Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Kementerian Luar Negeri Iran juga menyatakan bahwa kesepakatan itu resmi berlaku mulai Rabu.
Meski demikian, seorang pejabat senior AS mengungkapkan bahwa kedua pihak masih memiliki kesempatan untuk membatalkan kesepakatan tersebut hingga tercapai perjanjian yang memiliki kekuatan hukum mengikat secara penuh.
Isi Kesepakatan AS dan Iran
Dalam nota kesepahaman tersebut, kedua negara menyetujui sejumlah langkah penting untuk meredakan ketegangan di kawasan.
Beberapa poin utama meliputi penghentian perang di seluruh front konflik, pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, serta pelonggaran berbagai sanksi internasional.
Selain itu, kesepakatan juga mencakup pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan dan program rehabilitasi ekonomi senilai US$300 miliar atau sekitar Rp5.310 triliun.
Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Iran kembali menegaskan tidak akan mengembangkan senjata nuklir.
Namun, sejumlah isu strategis masih menjadi perdebatan antara kedua negara. Beberapa di antaranya adalah status uranium yang telah diperkaya Iran, kemampuan rudal balistik Teheran, serta dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok militan anti-Israel di Timur Tengah.
Trump Mulai Lunak Soal Rudal Balistik Iran
Pernyataan terbaru Trump juga menunjukkan adanya perubahan pendekatan dibandingkan sikapnya pada awal konflik.
Sebelumnya, Trump sempat berjanji menghancurkan seluruh kemampuan rudal Iran. Namun kini ia mengakui bahwa kepemilikan rudal balistik oleh Iran tidak sepenuhnya bisa dianggap tidak dapat diterima.
“Jika negara lain memilikinya, agak tidak adil jika mereka tidak memilikinya,” ujar Trump.
Pernyataan tersebut dinilai mencerminkan pendekatan yang lebih pragmatis dalam proses negosiasi antara Washington dan Teheran.
G7 Dukung Jalur Diplomasi
Kesepakatan antara AS dan Iran mendapat respons positif dari para pemimpin negara anggota G7.
Dalam pernyataan bersama, para pemimpin Prancis, Jerman, Inggris, Jepang, Italia, Kanada, dan Amerika Serikat menekankan pentingnya penyelesaian melalui jalur diplomasi.
Mereka juga menegaskan komitmen bersama untuk memastikan Iran tidak pernah memperoleh senjata nuklir sekaligus menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.
Trump Kritik Netanyahu
Meski tercapai kemajuan dalam hubungan AS-Iran, ketegangan di kawasan belum sepenuhnya mereda.
Baca Juga : Isi Kesepakatan AS-Iran Terungkap, Ini 14 Poin Pentingnya
Israel dan kelompok Hizbullah di Lebanon dilaporkan masih terlibat aksi saling serang setelah kesepakatan diumumkan.
Dalam kesempatan yang sama, Trump juga melontarkan kritik terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Menurutnya, pemimpin Israel tersebut terkadang terlalu agresif dalam menjalankan operasi militer.
“Netanyahu orang yang baik, tetapi kadang sedikit terlalu bersemangat. Saya katakan kepadanya, Anda bisa sedikit lebih lembut,” kata Trump.
Pernyataan tersebut menambah sorotan terhadap dinamika keamanan di Timur Tengah yang masih menghadapi berbagai tantangan meski upaya perdamaian mulai berjalan.
