Rusia Krisis Bensin, Serangan Drone Ukraina Jadi Biang?
Rusia menghadapi krisis bahan bakar yang semakin meluas setelah gangguan pasokan bensin terjadi di sebagian besar wilayah negara tersebut. Kondisi ini dipicu oleh rentetan serangan drone Ukraina yang menargetkan fasilitas pengolahan minyak Rusia dalam beberapa bulan terakhir.
Sejumlah pemerintah daerah, mulai dari kawasan yang berbatasan dengan Ukraina hingga wilayah timur dekat China, terpaksa menerapkan pembatasan pembelian bahan bakar guna menghindari aksi pembelian panik masyarakat.
Tingkat gangguan berbeda-beda di setiap daerah, namun tren yang terjadi menunjukkan tekanan terhadap sistem distribusi bahan bakar Rusia semakin meningkat dan berpotensi memburuk apabila serangan terhadap kilang minyak terus berlanjut.
Serangan Drone Ganggu Produksi Kilang
Ukraina diketahui meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia sebagai bagian dari strateginya untuk mengurangi pasokan bahan bakar sekaligus membawa dampak perang ke wilayah Rusia.
Baca Juga : Usai KTT Swiss, Presiden Iran Kunjungi Pakistan
Serangan tersebut telah memaksa beberapa kilang utama menghentikan atau mengurangi operasionalnya. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh sektor energi, tetapi juga mendorong kenaikan harga bahan bakar domestik dan membuat pemerintah Rusia mengambil langkah-langkah darurat.
Salah satu kebijakan yang telah diterapkan adalah penghentian ekspor bensin dalam jumlah besar sejak April. Selain itu, Rusia sebelumnya juga membatasi ekspor bahan bakar jet atau avtur untuk menjaga ketersediaan pasokan di dalam negeri.
Pada Selasa (23/6/2026), pemerintah Rusia mengungkapkan tengah mempertimbangkan larangan penuh ekspor solar ke luar negeri guna menstabilkan pasokan domestik.
Pemerintah Putin Akui Situasi Sulit
Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak, mengakui kondisi pasokan bahan bakar saat ini menghadapi tantangan besar, meski menurutnya masih dapat dikendalikan.
Dalam rapat pemerintah bersama Presiden Vladimir Putin, Novak menjelaskan bahwa perusahaan-perusahaan minyak telah mempercepat penyelesaian pemeliharaan kilang atau bahkan menunda pekerjaan perawatan demi memenuhi kebutuhan pasar domestik.
Ia juga mengatakan pemerintah terus melakukan pemantauan intensif terhadap distribusi bahan bakar dengan menggelar koordinasi hampir setiap hari bersama pelaku industri energi.
Wilayah-Wilayah Terapkan Pembatasan Pembelian
Berbagai daerah mulai menerapkan kebijakan pembatasan pembelian BBM untuk mencegah penimbunan dan perdagangan ilegal.
Di wilayah Irkutsk, Siberia Timur, pemerintah daerah memprioritaskan distribusi bahan bakar untuk layanan darurat, transportasi umum, serta sektor pertanian.
“Kami menentukan pasokan bahan bakar untuk setiap konsumen secara individual,” kata Gubernur Irkutsk Igor Kobzev melalui Telegram pada Senin (22/6/2026).
“Gangguan seperti ini terjadi di seluruh negeri.”
Sementara itu, wilayah Omsk membatasi pembelian hingga 40 liter bensin dan 80 liter solar dalam satu transaksi. Pengisian juga hanya diperbolehkan langsung ke tangki kendaraan.
Di Saratov, pembelian bensin dibatasi maksimal 30 liter per kendaraan hingga akhir Juni. Adapun wilayah Tver memberlakukan pembatasan sementara di sejumlah SPBU milik perusahaan energi besar.
Gubernur Lipetsk Igor Artamonov turut mengimbau masyarakat agar tidak membeli bahan bakar secara berlebihan.
“Saya mendesak Anda untuk mengisi bahan bakar berdasarkan kebutuhan Anda saat ini,” katanya.
“Penimbunan hanya akan meningkatkan beban pada SPBU dan menghabiskan bensin lebih cepat di tempat yang tersedia.”
Krisis paling berat terjadi di wilayah Krimea yang dianeksasi Rusia.
Otoritas setempat menghentikan seluruh penjualan bahan bakar kepada masyarakat umum dan memprioritaskan distribusi hanya untuk kebutuhan layanan negara.
Langkah tersebut diambil untuk memastikan pasokan tetap tersedia bagi sektor-sektor yang dianggap vital.
Produksi Bensin Turun Tajam
Data industri menunjukkan produksi bensin Rusia terus mengalami penurunan.
Pada paruh pertama Juni 2026, produksi bensin tercatat sekitar 835.000 barel per hari. Angka tersebut turun sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dan lebih rendah sekitar 6 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan produksi ini memaksa sejumlah wilayah yang biasanya bergantung pada pasokan dari kilang lokal mencari jalur distribusi alternatif. Akibatnya, rantai pasok menjadi lebih panjang dan rentan mengalami gangguan.
SPBU independen menjadi pihak yang paling terdampak karena tidak memiliki akses langsung ke produksi bahan bakar dan harus bergantung pada pasokan dari pasar komoditas.
Harga BBM Naik dan Ancam Inflasi
Gangguan pasokan yang berkepanjangan mulai tercermin pada kenaikan harga bahan bakar di Rusia.
Berdasarkan data Layanan Statistik Federal Rusia, harga rata-rata bensin RON 92 dan RON 95 naik sekitar 6,6 persen sejak awal tahun hingga pertengahan Juni. Kenaikan tersebut melampaui laju inflasi nasional.
Lonjakan harga bahan bakar menjadi perhatian serius pemerintah karena berpotensi meningkatkan biaya transportasi dan produksi di berbagai sektor ekonomi.
Selain membebani rumah tangga, kondisi ini juga dapat memperumit upaya Bank Sentral Rusia dalam menjaga stabilitas harga.
Gubernur Bank Sentral Rusia Elvira Nabiullina sebelumnya telah memperingatkan bahwa penurunan produksi bahan bakar menjadi salah satu risiko inflasi baru yang harus diwaspadai. Situasi tersebut dinilai dapat membatasi ruang bank sentral untuk memangkas suku bunga lebih agresif guna mendukung pertumbuhan ekonomi.
Serangan Ukraina Capai Rekor Baru
Menurut perhitungan Bloomberg berdasarkan data dan pernyataan resmi kedua negara, drone Ukraina telah menyerang kilang minyak Rusia sedikitnya 47 kali sejak awal 2026.
Baca Juga : Netanyahu Bantah Klaim Trump Bisa Kendalikan Israel
Meski jumlah tersebut masih lebih rendah dibandingkan total serangan sepanjang 2025, intensitas serangan mencapai puncaknya pada Mei lalu dan menyebabkan produksi kilang Rusia turun ke level terendah dalam dua dekade.
Pekan lalu, Ukraina bahkan dua kali menyerang kilang minyak Moskwa yang merupakan salah satu pemasok utama bahan bakar di kawasan ibu kota. Serangan itu memperbesar kekhawatiran mengenai potensi kelangkaan BBM dan kenaikan harga di salah satu pusat konsumsi energi terbesar Rusia.
Dengan tekanan terhadap infrastruktur energi yang terus berlangsung, pemerintah Rusia kini menghadapi tantangan besar untuk menjaga stabilitas pasokan bahan bakar sekaligus mengendalikan dampak ekonomi yang muncul akibat perang yang masih berkepanjangan.
