Iran Tegaskan Kendali Selat Hormuz usai Dialog di Swiss
Iran menegaskan Selat Hormuz akan tetap berada di bawah pengelolaan Teheran setelah berlangsungnya putaran awal perundingan damai dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik yang melibatkan Republik Islam tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, setibanya dari perundingan yang digelar di resor Bürgenstock, Swiss.
Sebelumnya, negara mediator mengumumkan bahwa Iran dan AS telah menyepakati pembentukan jalur komunikasi darurat guna menjaga jalur pelayaran strategis itu tetap terbuka serta mendukung upaya penghentian konflik di Lebanon.
Baca Juga: Soal Laporan Iran, Trump Ancam Gugat New York Times
Iran Sebut Hormuz Akan Dikelola Teheran
Menurut Ghalibaf, Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang dan akan berada di bawah pengelolaan Iran dengan tetap mengacu pada hukum internasional.
“Selat Hormuz tidak akan pernah kembali ke kondisi seperti sebelum perang berkecamuk. Jalur ini akan dikelola langsung oleh Republik Islam Iran, tentunya dengan tetap mematuhi hukum internasional,” ujar Ghalibaf sebagaimana dikutip kantor berita IRNA.
Melalui video yang diunggah di akun Telegram pribadinya, Ghalibaf menyatakan perundingan di Swiss menghasilkan sejumlah perkembangan positif.
“Dalam pandangan saya, kunjungan ini menghasilkan pencapaian yang baik, khususnya terkait pembahasan status Selat Hormuz, dialog seputar Lebanon, masalah pelonggaran sanksi minyak, hingga perkara pencairan dana negara kami yang dibekukan,” jelasnya dalam video tersebut.
Ia menambahkan bahwa proses diplomasi yang berlangsung saat ini masih membutuhkan upaya lanjutan dari kedua belah pihak.
“Tentu saja, kami meyakini bahwa ini barulah awal dari kerja keras yang sesungguhnya dan kami harus terus melanjutkan upaya diplomasi ini,” tambah Ghalibaf dalam rekaman video yang sama.
Baca Juga: Raksasa Bisnis Kembali Ditertibkan China, Apa Sasarannya?
AS Longgarkan Sanksi, Jalur Komunikasi Dibentuk
Sehari sebelum pernyataan tersebut, pemerintah AS mengumumkan penangguhan sementara sanksi terhadap ekspor minyak Iran.
Langkah itu dilakukan setelah Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan Teheran bersedia kembali menerima tim pengawas nuklir Badan Energi Atom Internasional (IAEA) sebagai bagian dari implementasi kesepakatan yang dicapai dalam perundingan.
Kesepakatan sementara itu juga mencakup rencana pelonggaran sejumlah sanksi ekonomi serta pencairan aset Iran yang sebelumnya dibekukan di luar negeri.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa dalam perjalanan pulang dari Swiss, Ghalibaf turut melakukan kunjungan diplomatik ke Oman, negara yang berbagi wilayah kekuasaan atas Selat Hormuz.
Jalur perairan tersebut sempat ditutup penuh oleh Iran pada awal konflik, kemudian dibuka kembali setelah tercapainya kesepakatan awal antara Washington dan Teheran.
Namun, Iran kembali mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu lalu sebagai respons atas serangan udara Israel ke Lebanon.
Untuk mencegah eskalasi lebih lanjut, Iran dan AS kemudian menyepakati pembentukan jalur komunikasi khusus yang bertujuan menghindari insiden serta kesalahpahaman di kawasan perairan tersebut.
Menurut pernyataan negara mediator Qatar dan Pakistan, mekanisme itu dibentuk guna menjamin keselamatan kapal-kapal niaga yang melintasi Selat Hormuz.
Meski ketegangan masih berlangsung, data perusahaan pelacak kapal menunjukkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz pada Senin tetap berjalan normal bahkan tercatat lebih tinggi dibandingkan sebelum dimulainya perundingan damai Iran dan AS.
