Trump Bantah AS Terlibat Serangan Sekolah di Iran, Sebut Tak Ada Bukti
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan belum ada bukti yang menunjukkan keterlibatan rudal AS dalam serangan terhadap sebuah sekolah di Kota Minab, Iran selatan, yang terjadi pada hari pertama konflik.
Dalam keterangannya kepada wartawan di Gedung Putih pada Rabu (24/6/2026), Trump meragukan tuduhan yang menyebut Amerika Serikat bertanggung jawab atas insiden tersebut.
“Itu mengerikan, tetapi rudal beterbangan ke mana-mana, dan seseorang mengatakan itu rudal kami. Mungkin saja bukan rudal kami,” kata Trump, seperti dikutip AFP.
Baca Juga: Pemerintah Disebut Airlangga Matangkan Aturan Pusat Finansial Indonesia
Ia menegaskan belum melihat bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa rudal yang menghantam sekolah itu berasal dari Amerika Serikat.
Dalam kesempatan yang sama, Trump meminta Menteri Pertahanan Pete Hegseth, yang turut hadir di Ruang Oval, untuk memberikan penjelasan terkait perkembangan penyelidikan.
Hegseth mengatakan pemerintah AS menangani kasus tersebut secara serius dan masih melakukan investigasi menyeluruh.
Ia menambahkan bahwa hasil penyelidikan akan diumumkan pada waktu yang tepat, terlepas dari apa pun kesimpulan akhirnya.
Hingga kini, Amerika Serikat belum mengakui adanya tanggung jawab atas serangan yang dilaporkan menimbulkan banyak korban jiwa tersebut.
Menurut media pemerintah Iran, serangan terhadap sekolah putri di Minab pada 28 Februari menewaskan 73 siswa laki-laki, 47 siswa perempuan, 26 guru, tujuh orang tua murid, seorang sopir bus sekolah, dan satu orang dewasa lainnya.
Sebelumnya, Trump juga sempat menyatakan kemungkinan bahwa sekolah tersebut justru terkena serangan dari pihak Iran sendiri, dengan alasan Teheran dinilai tidak memiliki akurasi tinggi dalam penggunaan persenjataan.
Baca Juga: RI Ditargetkan Prabowo Tak Impor BBM, Swasembada 4 Tahun
Di sisi lain, tekanan politik di Washington terus meningkat terkait insiden tersebut.
The New York Times melaporkan bahwa sekolah itu diduga terkena rudal jelajah Tomahawk, yang tidak dimiliki Iran, sementara CNN menyebut Amerika Serikat bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Pada Mei lalu, Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM) Laksamana Brad Cooper mengatakan kepada Kongres bahwa militer akan mempublikasikan hasil investigasi setelah proses penyelidikan yang disebutnya kompleks selesai dilakukan.
Insiden ini juga memicu gejolak politik di Washington, termasuk langkah anggota Partai Demokrat di DPR yang mengajukan proses pemakzulan terhadap Menteri Pertahanan Pete Hegseth.
Sejumlah senator Demokrat bahkan mengancam akan memblokir anggaran perjalanan Hegseth hingga ia menyerahkan laporan investigasi korban sipil yang belum disensor, termasuk terkait serangan di Minab.
